DIKSIMERDEKA.COM, LAMPUNG – Jaringan Media Serikat Siber Indonesia (JMSI) bersama LBH-KIS, dan Konten Kretator Tiktok Bang Tuan mendampingi keluarga korban pembunuhan Imam Ardiansyah untuk mendapatkan keadilan.

Sebelumnya, Imam Ardianyah tewas setelah dianiaya sejumlah orang di Kota Metro, Provinsi Lampung. Imam tewas dengan luka tusuk di tubuh hingga kepalanya.

Dari video yang diterima, terlihat korban tergeletak dipinggir jalan dengan bersimbah darah. Terlihat juga seorang wanita yang diduga kekasihnya menangis sambil meminta bantuan untuk mengevakuasi korban.

Baca juga :  Teguh Santosa: Raja Ampat, Surga yang Diturunkan ke Bumi

Peristiwa ini terjadi pada Senin (14/10/2024) malam di Kecamatan Metro Timur, Kota Metro, Provinsi Lampung.

Rio Martha Dinata, otak pelaku pembunuhan terhadap Imam Ardiansyah (27) warga Kota Metro, Lampung, ditangkap polisi. Saat ini, pelaku masih dalam pemeriksaan petugas kepolisian.

Kemudian Keluarga Almarhum lmam Ardiansyah merasa kecewa, lantaran semula ingin membawa lima Laporan dan berbicara langsung dengan Kapolda Lampung.

Namun hanya diterima Wakapolda Brigjen Ahmad Ramadhan dan Direskrimum Polda Lampung Kombes. Pahala Simanjuntak.

Baca juga :  Perkuat Spirit Baru: JMSI Bali Hadiri Pengukuhan dan Rakernas 2025 di Jakarta

Memasuki Lima bulan Anaknya dibunuh belum ada upaya yang signifikan dari Aparat Polres Metro untuk menangkap pelaku.

Atas kondisi itu Bendahara Umum JMSI Herwan Acong bersama, Konten Kreator Tiktok Bang Taun dan Ketua LBH-KIS Febrian Willy Atmaja berkomitmen untuk membantu keluarga korban mengusut tuntas kasus pembunuhan tersebut.

“Meskipun sudah ada satu pelaku yang tertangkap, namun masih ada 2 tersangka lagi yang statusnya DPO. Maka dari itu kami akan mengawal dan mengusut tuntas kasus pembunuhan ini, “ kata Herwan Acong (24/02/2025).

Baca juga :  JMSI Tolak RUU Penyiaran, Ini Alasannya

Hal senada disampaikan oleh Ketua LBH-KIS Febrian Willy Atmaja, bahwa pihak keluarga sangat membutuhkan keadilan agar pelaku dapat dihukum dengan setimpal.

“Pihak keluarga menyaksikan langsung penganiayaan tersebut, dan hal ini harus di usut lebih dalam oleh pihak kepolisian maupun kejaksaan atas kemungkinan pembunuhan berencana,” ujarnya.

Editor: Agus Pebriana