Visi Bali Mandiri Energi Bukan Lagi Angan-Angan
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Visi besar Bali Mandiri Energi yang diwacanakan Gubernur Bali Wayan Koster kini bukan lagi sekadar angan-angan. Visi itu mulai menemukan pijakan nyata melalui penguatan pembangkit listrik di Bali.
Pemadaman listrik total di Pulau Dewata pada 2 Mei 2025 menjadi bukti nyata betapa besarnya risiko ketergantungan pada pasokan dari luar pulau. Saat itu, gangguan pada kabel laut Jawa-Bali membuat Bali gelap gulita selama 6-8 jam.
Bagi Bali, listrik bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan penopang aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Sektor pariwisata, yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali, sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Ketika listrik padam, hotel, restoran, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga berbagai layanan publik ikut terdampak.
Saat ini kapasitas listrik Bali sekitar 1.450 MW, dengan beban puncak mencapai 1.300 MW. Sesuai standar, Bali seharusnya memiliki cadangan sekitar 390 MW, atau 30 persen dari kebutuhan. Namun, cadangan yang tersedia saat ini hanya sekitar 150 MW.
Dari total ketersediaan tersebut, pembangkit yang berlokasi di Bali hanya menyumbang sekitar 1.100 MW, sementara sekitar 350 MW lainnya masih dipasok dari Paiton, Jawa Timur, melalui kabel bawah laut Jawa-Bali.
Pasokan dari Jawa memang tetap dibutuhkan untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan Bali. Namun, ketergantungan ini tetap menyimpan risiko: gangguan pada jaringan interkoneksi dapat langsung memengaruhi pasokan listrik di Pulau Dewata.
Karena itu, kemandirian energi bukan berarti Bali harus memutus hubungan dengan sistem kelistrikan Jawa-Bali. Interkoneksi tetap diperlukan. Yang harus dipastikan adalah pembangkit di Bali mampu menopang kebutuhan listrik secara mandiri ketika pasokan dari luar mengalami gangguan.
Langkah menuju kondisi tersebut sudah mulai dijalankan. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas dengan total kapasitas 1.550 MW hingga 2032. Pembangkit gas berkapasitas 200 MW direncanakan mulai dibangun tahun ini, dengan kapasitas yang akan ditambah secara bertahap.
Tambahan pembangkit tentu penting untuk memperkuat pasokan. Namun, kemandirian energi tidak cukup diukur dari jumlah megawatt yang tersedia, Sumber energi yang digunakan juga harus menjadi perhatian.
Saat ini, sekitar 700 MW dari total ketersediaan listrik Bali masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Artinya, Bali menghadapi dua pekerjaan sekaligus: memperkuat pasokan listrik dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Program nasional pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GWp menjadi salah satu solusinya. Dalam program nasional itu, Bali mendapat kuota sebesar 1.000 MWp, yang bahkan berpeluang bertambah menjadi 1.500 MWp.
Sebetulnya Institut Teknologi Bandung sebetulnya telah pernah mengeluarkan kajian tentang potensi energi terbarukan Bali. Kajian ini menemukan bahwa energi terbarukan di Bali mencapai 11.806 MW, dengan potensi terbesar berasal dari energi surya sebesar 10.000 MW.
Selain itu, terdapat pula potensi energi angin 1.000 MW, panas bumi 262 MW, energi laut 320 MW, serta sumber lain seperti mikrohidro, biomassa, dan sampah.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa Bali sebenarnya tidak kekurangan sumber energi. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dikembangkan menjadi sumber listrik yang nyata, terjangkau, dan dapat diandalkan.
Kebutuhan listrik Bali akan terus meningkat seiring pertumbuhan pariwisata, dunia usaha, dan jumlah penduduk. Karena itu, Bali membutuhkan perencanaan energi jangka panjang yang mampu menjawab kebutuhan saat ini sekaligus mengantisipasi kebutuhan di masa depan.
Energi juga tidak dapat dipisahkan dari masa depan pariwisata Bali. Sebagai destinasi wisata dunia, Bali membutuhkan lingkungan yang bersih dan sehat. Penggunaan energi bersih bukan hanya soal mengurangi bahan bakar fosil, tetapi juga bagian dari upaya menjaga daya tarik dan daya saing pariwisata Bali.
Visi Bali Mandiri Energi harus dijalankan secara konsisten. Pemerintah perlu memastikan pembangunan pembangkit, jaringan listrik, dan energi terbarukan berjalan sesuai target.
Pemadaman listrik pada 2025 telah memberikan peringatan. Bali tidak boleh menunggu kejadian serupa terulang untuk kembali menyadari pentingnya kemandirian energi.
Kini saatnya Bali memanfaatkan potensi energinya sendiri bukan hanya agar listrik tetap menyala, tetapi juga untuk memastikan pertumbuhan ekonomi terus berjalan, lingkungan tetap terjaga, dan pariwisata Bali tetap memiliki daya saing.

Tinggalkan Balasan