JAKARTA DIKSIMERDEKA.COM – Kondisi fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca-gempa dua 15 Agustus lalu bikin miris. Kerusakan parah di mana-mana, stok obat menipis, hingga ada korban anak patah tulang yang kakinya terpaksa cuma dibalut kardus.

Kenyataan pahit di lapangan ini membuat Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, blak-blakan menyentil pemerintah. Dalam Rapat Kerja bersama Menteri Kesehatan di Senayan, Kamis (27/8/2026), Charles mendesak agar ego sektoral dibuang jauh-jauh. Pemerintah pusat dan daerah harus segera tancap gas menyusun rencana rekonstruksi faskes tanpa saling lempar tanggung jawab.

Meski sempat memuji gerak cepat Kemenkes di fase awal tanggap darurat, politisi PDI Perjuangan ini mengingatkan bahwa masa kritis sesungguhnya ada di tahap pembangunan kembali. Apalagi, dari paparan Menkes sendiri, terungkap fakta mengerikan: 160 dari 166 puskesmas di Flores babak belur dihantam bencana, dengan 46 di antaranya rusak berat.

Baca juga :  Gempa NTT, DPR Minta Pemerintah Tak Cuma Kirim Bantuan: Informasi Harus Akurat

Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab!

Melihat hancurnya ratusan puskesmas tersebut, Charles mempertanyakan siapa panglima yang bakal memimpin proyek pembangunan kembali ini. Ia tak ingin nasib warga Flores terkatung-katung hanya karena ruwetnya birokrasi antara pusat dan daerah.

“Pertanyaan saya ke depan, dalam proses rekonstruksi ini, siapa yang akan menjadi lead dalam membangun kembali fasilitas kesehatan di Flores atau di NTT? Apakah Kementerian Kesehatan, PU, atau Pemerintah Daerah?” tembak Charles di ruang rapat.

Ia mewanti-wanti agar penyakit lama birokrasisaling tunggu dan saling lempar kewenangan tidak terulang di NTT.

“Saya berharap sudah ada rencana rekonstruksi yang terkonsolidasi dari saat ini. Pengalaman di Sumatera kemarin memang panjang dan lama, jadi saya berharap ada koordinasi yang baik supaya kita tidak duduk di sini lagi dan saling menyalahkan,” tegasnya.

Baca juga :  Desil 1–4 Jangan Dicoret! DPR Warning Reaktivasi Otomatis BPJS PBI Harus Lindungi Warga Miskin

Stok Medis Kritis, Kaki Balita Dibalut Kardus

Kritik tajam Charles tak berhenti di soal gedung puskesmas. Nyawa pasien saat ini sedang jadi taruhan akibat krisis Bahan Medis Habis Pakai (BMHP). Dari laporan para kepala dinas dan direktur rumah sakit setempat, napas persediaan medis di sejumlah faskes tinggal hitungan hari, cuma cukup untuk dua sampai tiga hari ke depan!

Charles mendesak agar Kemenkes tidak kebobolan soal logistik ini.

“Saya berharap jangan sampai ketika dibutuhkan, barang medis atau BMHP-nya habis dan tidak ada, Pak. Mohon dipastikan distribusinya bisa dilakukan dengan baik dan tepat waktu,” katanya mengingatkan.

Baca juga :  BGN Stop Dapur MBG Baru, DPR: Langkah Bijaksana

Puncak keprihatinan Charles terbongkar saat ia menceritakan temuan memilukan dari hasil kunjungan kerjanya ke Flores. Sistem kesehatan yang lumpuh membuat rakyat kecil jadi korban utama. Ia menemukan seorang balita berusia lima tahun yang kakinya patah akibat gempa, tapi tak bisa digips karena barangnya kosong. Mirisnya, kaki mungil anak tersebut terpaksa hanya dibalut menggunakan sampul buku dan kardus seadanya.

Kenyataan ini menjadi tamparan keras bagi sistem penanganan bencana nasional.

“Saya berharap soal BMHP ini harus betul-betul direncanakan dan diselesaikan dengan cepat, tepat, dan baik,” pungkas Charles menutup cecarannya.

Pemulihan pascabencana tak bisa cuma di atas kertas. Percepatan perbaikan faskes dan kelancaran suplai alat medis adalah harga mati agar masyarakat Flores segera mendapatkan layanan kesehatan yang manusiawi.