PETALING JAYA DIKSIMERDEKA.COM – Krisis kualitas udara kembali menghantui negeri jiran dan mengancam kesehatan warganya. Bencana kabut asap Malaysia kini dilaporkan semakin memburuk dan memicu status darurat di sejumlah wilayah. Kondisi udara yang beracun ini tak pelak langsung memicu lonjakan drastis hingga ratusan persen pada kasus asma dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat,

Sekaligus memicu desakan keras agar negara-negara ASEAN segera mengambil tindakan tegas.. Sedikitnya 10 kawasan di wilayah Negeri Jiran tersebut mencatatkan Indeks Pencemaran Udara (IPU) atau Air Pollutant Index (API) pada level tidak sehat pada Senin (24/8) pukul 10.00 pagi waktu setempat.

Berdasarkan data Sistem Manajemen Indeks Pencemaran Udara (APIMS), Negara Bagian Sarawak menjadi wilayah yang paling parah terdampak.

Sarawak Catat Rekor Terburuk

Di Sarawak, terdapat lima kawasan yang melampaui ambang batas kualitas udara tidak sehat. IPD Serian mencatat angka tertinggi secara nasional dengan indeks menembus 194. Wilayah lain yang menyusul adalah Kuching (176), Samarahan (172), Sri Aman (158), dan Bintulu (125).

Baca juga :  Beri Insentif Rp Rp1,2 Miliar per Anak, Angka Kelahiran Korea Selatan Naik 6,8%!

Di luar Sarawak, kondisi tidak sehat juga menyelimuti dua kawasan di Selangor, yakni Johan Setia (160) dan Kuala Selangor (101). Sementara itu, di Kedah, polusi udara yang buruk terpantau di Sungai Petani (155) dan Alor Setar (152). Kawasan Minden di Penang juga mencatatkan level IPU di angka 130.

Sebagai informasi, pedoman indeks kualitas udara menetapkan angka 0-50 sebagai kategori baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 tergolong berbahaya. Secara nasional, 58 kawasan mencatatkan level sedang, dan ironisnya, tidak ada satu pun kawasan dengan kualitas udara yang tergolong baik.

Darurat Kesehatan, Kasus Asma dan ISPA Melonjak Tajam

Memburuknya kualitas udara ini langsung berimbas fatal pada sektor kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan tajam pada kasus asma dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA/URTI).

Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad, membeberkan bahwa pemantauan antara minggu epidemiologi (ME) ke-32 dan ke-33 menunjukkan kasus asma melonjak secara ekstrem hingga 259 persen, sementara kasus ISPA naik drastis sebesar 124 persen.

Baca juga :  Akhirnya! Militer Israel Ngaku Tembaki Mobil Yang Tewaskan Bocah 5 Tahun

“ISPA mencatat jumlah tertinggi dengan 3.674 kasus, meningkat dari 1.637, sementara kasus asma mencapai 219 dibandingkan dengan 61 kasus. Kasus konjungtivitis, sementara itu, turun menjadi 146 dari 157 kasus,” ujar Dzulkefly usai meresmikan Wellness Hub Kuala Selangor, Minggu (23/8).

Menyikapi polusi yang kian mengkhawatirkan, Departemen Kesehatan Negeri Kedah langsung mengeluarkan imbauan darurat agar masyarakat, khususnya di Sungai Petani dan Alor Setar, mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Sindir Indonesia, ASEAN Didesak Lakukan Pencegahan Tegas

Krisis kabut asap lintas batas yang terus berulang memicu reaksi keras dari para pakar iklim. Mereka mendesak agar Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (AATHP) segera diperkuat dan bertindak lebih proaktif, terutama di tengah ancaman fenomena iklim El Nino.

Pakar Klimatologi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Profesor Emeritus Dr Fredolin Tangang, menilai bahwa perjanjian AATHP terbukti belum efektif meredam episode kabut asap lintas batas.

“Masalahnya adalah sebagian besar tindakan pihak berwenang sebagai suatu kawasan bersifat reaktif, bukan proaktif dan budaya inilah yang perlu kita ubah. Jika El Nino dapat diprediksi setahun sebelumnya, maka ada banyak waktu bagi semua orang untuk bersiap, termasuk memastikan tidak akan ada kabut asap lintas batas,” tegas Tangang.

Baca juga :  Transaksi E-Wallet Malaysia NyarisRp1.000 Triliun

Kritik senada dilontarkan oleh Pakar Meteorologi Universiti Malaya (UM), Profesor Emeritus Datuk Dr Azizan Abu Samah. Ia menyoroti persoalan menahun terkait pembakaran lahan pertanian dan pembukaan lahan, yang sering kali bermuara dari negara tetangga.

“Sementara itu selama Musim Monsun Barat Daya, bagian selatan Asia Tenggara malah terkena dampak kabut asap dari pembakaran lahan pertanian dan pembukaan lahan, termasuk aktivitas yang terkait dengan kelapa sawit,” ungkapnya.

Secara spesifik, Profesor Azizan menyentil sumber permasalahan utama di kawasan ini dan meminta adanya ketegasan.

“Undang-undang pencegahan pembakaran terbuka sudah diberlakukan di Malaysia tetapi masalahnya bukan di Malaysia, melainkan di Indonesia. Apa yang kita butuhkan sekarang adalah menerapkan semacam efek jera untuk menyampaikan pesan tersebut ke Indonesia,” pungkasnya.