DIKSIMERDEKA.COM NEW DELHI Rudal BrahMos Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Jakarta dan New Delhi mencapai kesepakatan prinsip terkait rencana pengadaan satu baterai tambahan rudal jelajah supersonik tersebut. Jika proses ini berlanjut hingga kontrak resmi, Indonesia akan mengikuti jejak Filipina sebagai negara Asia Tenggara yang mengadopsi salah satu sistem rudal tercepat di dunia.

Perkembangan itu sekaligus mempertegas posisi BrahMos yang tidak lagi sekadar menjadi andalan militer India. Dalam beberapa tahun terakhir, rudal tersebut menjelma menjadi produk ekspor pertahanan paling sukses yang dimiliki New Delhi.


BrahMos Jadi Bintang Ekspor Pertahanan India

Beberapa tahun lalu, mantan Chief Executive Officer BrahMos Aerospace, Atul D. Rane, pernah menyatakan BrahMos berpotensi menjadi tulang punggung ekspor industri pertahanan India.

Saat itu, pernyataan tersebut dianggap terlalu optimistis.

Namun kini, ketika nilai ekspor pertahanan India telah melampaui 38.000 crore rupee, prediksi tersebut mulai terlihat realistis. BrahMos menjadi produk yang paling banyak menarik perhatian negara-negara sahabat.

Filipina menjadi negara pertama yang membeli BrahMos pada 2022. Setelah itu, Vietnam, Indonesia, hingga sejumlah negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Amerika Latin mulai menunjukkan ketertarikan terhadap sistem persenjataan tersebut.

Baca juga :  Catat Rekor Tertinggi, PMI Manufaktur Indonesia Kembali Lampaui China dan Korea

Rudal Terbang Tiga Kali Kecepatan Suara

BrahMos dikenal sebagai rudal jelajah supersonik bertenaga ramjet yang dapat diluncurkan dari darat, laut, maupun udara.

Keunggulan utamanya terletak pada kecepatan yang mencapai hampir Mach 3, atau sekitar tiga kali kecepatan suara.

Berbeda dengan rudal jelajah subsonik, BrahMos mampu mempertahankan kecepatan supersonik sepanjang lintasan terbangnya. Karakteristik itu membuat waktu reaksi lawan menjadi jauh lebih singkat sehingga meningkatkan efektivitas serangan maupun kemampuan penangkalan.


Indonesia Butuh Penguatan Pertahanan Maritim

Minat Indonesia terhadap BrahMos dinilai tidak terlepas dari kondisi geografisnya sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas.

Sistem rudal ini dianggap mampu memperkuat pertahanan pesisir sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman kapal perang di perairan strategis.

Selain Indonesia, negara-negara Asia Tenggara juga mulai memperkuat kemampuan militernya seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik, terutama terkait sengketa Laut China Selatan.


Sengketa Laut China Selatan Jadi Faktor Penting

Mantan Duta Besar India, Ashok Kantha, menilai meningkatnya aktivitas militer China di Laut China Selatan membuat banyak negara ASEAN mulai mencari sistem pertahanan yang lebih kuat.

Baca juga :  Indonesia Usulkan 5 Kerja Sama Perkuatan Pariwisata di ASEAN

Menurut dia, klaim China berdasarkan nine-dash line telah ditolak oleh tribunal internasional. Meski demikian, Beijing tetap melanjutkan pembangunan pulau buatan dan memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Filipina, Vietnam, dan Indonesia.


Bukan Sekadar Senjata

Analis pertahanan India, Nitin Gokhale, mengatakan BrahMos kini dipandang bukan hanya sebagai rudal, melainkan kemampuan strategis yang dapat meningkatkan daya tangkal suatu negara.

Menurutnya, beberapa negara tetap melanjutkan rencana pembelian BrahMos meski menghadapi berbagai tekanan geopolitik.

Atul D. Rane juga menyebut BrahMos mampu menjadi sistem penangkal taktis yang efektif.

“Dengan satu sistem sederhana, sebuah negara dapat memperkuat pertahanan hingga radius sekitar 300 kilometer,” ujarnya.


Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan India

Rencana akuisisi BrahMos juga dinilai sejalan dengan kebijakan Act East Policy yang dijalankan India untuk memperkuat hubungan strategis dengan negara-negara ASEAN.

Selain kerja sama pertahanan, kedua pihak juga memperluas kolaborasi dalam pelatihan militer, keamanan maritim, hingga peningkatan kesadaran domain maritim.

Baca juga :  Prabowo–Trump Teken Deal Dagang Rp525 Triliun, Pasar RI Dibuka luas untuk AS

Hubungan tersebut menjadi fondasi penting bagi ekspor peralatan pertahanan India ke kawasan Asia Tenggara.


BrahMos Generasi Baru Siap Meluncur

India kini juga tengah mengembangkan BrahMos Next Generation (NG).

Versi terbaru ini dirancang lebih kecil dan lebih ringan dibanding generasi sebelumnya, tetapi tetap mempertahankan kecepatan serta daya hancur yang tinggi.

Keunggulan tersebut memungkinkan BrahMos NG dipasang pada lebih banyak platform tempur, termasuk pesawat tempur ringan buatan India.

Apabila proyek itu berhasil, India tidak hanya dapat menjual rudal, tetapi juga menawarkan paket lengkap berupa pesawat tempur beserta sistem persenjataannya.


Dari Proyek India-Rusia Menuju Produk Lokal

BrahMos lahir dari kerja sama India dan Rusia yang dimulai pada 1998.

Nama BrahMos sendiri merupakan gabungan dua sungai, yakni Sungai Brahmaputra di India dan Sungai Moskva di Rusia.

Pada awal pengembangannya, kandungan komponen buatan India hanya sekitar 13 persen.

Kini, tingkat kandungan lokal diperkirakan telah mencapai sekitar 80 persen, mencerminkan kemajuan industri pertahanan India dalam dua dekade terakhir.