DIKSIMERDEKA.COM, SEAOUL – Setelah bertahun-tahun dihantui krisis demografi, Korea Selatan mencatat angin segar. Pada 2025, jumlah kelahiran mencapai 254.500 bayi, atau naik 6,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini menjadi kenaikan tahunan terbesar dalam 15 tahun terakhir dan sekaligus kenaikan dua tahun berturut-turut. begitu yang dilansir dari The Guardian.

Data sementara yang dirilis Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan, Rabu (25/2/2026), menunjukkan angka fertilitas—rata-rata jumlah anak yang diperkirakan dilahirkan seorang perempuan sepanjang hidupnya—naik dari 0,75 menjadi 0,80. Untuk pertama kalinya sejak 2021, tingkat kelahiran kembali ke kisaran 0,8.

Namun demikian, kabar baik itu belum cukup membalikkan tren. Jumlah kematian tetap melampaui kelahiran yakni sebanyak 108.900 jiwa, sehingga populasi negeri tersebut masih menyusut. Korea Selatan bahkan tetap menjadi satu-satunya negara anggota OECD dengan tingkat fertilitas di bawah 1,0.

Baca juga :  Heli Tempur Cobra Korsel Nyungsep Saat Latihan, Dua Awak Tewas di Gapyeong

Efek “Echo Boomers” Jadi Pendorong

Lonjakan kelahiran ini disebut-sebut didorong oleh generasi yang dikenal sebagai “echo boomers”, yakni sekitar 3,6 juta anak yang lahir antara 1991 hingga 1995. Kala itu, angka kelahiran sempat meningkat setelah pemerintah secara efektif mengakhiri kebijakan keluarga berencana ketat.

Kini, generasi tersebut memasuki usia awal 30-an—usia dengan tingkat kelahiran tertinggi. Pada 2025, jumlah perempuan usia awal 30-an diperkirakan mencapai 1,7 juta orang, naik 9 persen dibanding 2020.

Direktur Divisi Tren Kependudukan Kementerian Data dan Statistik, Park Hyun-jung, menjelaskan bahwa kenaikan ini merupakan dampak struktur demografi serta pemulihan angka pernikahan setelah pandemi Covid-19.

“Kenaikan ini mencerminkan efek demografis, bersamaan dengan pertumbuhan pernikahan yang berkelanjutan setelah penundaan selama era Covid, serta membaiknya sikap terhadap memiliki anak,” ujar Park.

Baca juga :  El Mencho Tewas Ditembak Pasukan Khusus,8 Negara Bagian Meksiko Rusuh, AS Akui Bantu Intelijen

Survei pemerintah menunjukkan, proporsi responden yang berniat memiliki anak setelah menikah naik 3,1 persen dalam periode 2022–2024. Selain itu, kelahiran dalam dua tahun pertama pernikahan meningkat 10,2 persen sejak 2024, setelah lebih dari satu dekade mengalami penurunan.

Insentif Ratusan Triliun Rupiah, Tapi Tantangan Masih Berat

Selama dua dekade terakhir, pemerintah Korea Selatan telah menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk mendorong kelahiran. Jika dikonversi ke rupiah (kurs asumsi Rp15.500 per dolar AS), nilainya setara ribuan triliun rupiah.

Berbagai kebijakan ditempuh, mulai dari bantuan tunai besar, subsidi perumahan, cuti orang tua lebih panjang, hingga dukungan penitipan anak. Bahkan, beberapa perusahaan swasta menawarkan insentif hingga 100 juta won per kelahiran—setara sekitar Rp1,2 miliar.

Meski demikian, para ahli menilai kebijakan tersebut belum mampu mengatasi persoalan struktural. Harga properti yang tinggi, biaya pendidikan swasta yang melonjak, stigma di tempat kerja terhadap orang tua, serta stagnasi lapangan kerja anak muda masih menjadi hambatan utama.

Baca juga :  Indonesia Perkuat Kerja Sama Bilateral dengan Korsel dalam Penanganan Pandemi Covid-19

Di sisi lain, infrastruktur pendukung kelahiran justru menyusut. Klinik anak dan fasilitas persalinan banyak yang tutup karena dampak panjang dari era kelahiran ultra-rendah.

Park mengaku belum bisa memastikan sejauh mana kebijakan pemerintah berkontribusi terhadap kenaikan angka kelahiran. “Saya tidak bisa secara jelas menganalisis korelasinya,” katanya. Namun ia menambahkan bahwa kebijakan yang “menghapus penalti terhadap pernikahan dan kelahiran” tampaknya memberi pengaruh positif pada generasi muda.

Para demografer memperingatkan, dorongan dari generasi “echo boomers” ini kemungkinan mulai memudar pada 2027, ketika generasi yang lebih kecil pasca-1996 memasuki usia 30-an.

Angka final resmi akan dirilis pada Agustus mendatang.