PETALING JAYA – Tren pembayaran non-tunai di Malaysia makin tak terbendung. Sepanjang 2024, transaksi pembayaran elektronik (e-payment) melonjak 28 persen menjadi RM14,7 miliar transaksi, naik dari RM11,5 miliar transaksi pada 2023.

Data tersebut mengacu pada Laporan Tahunan 2024 Bank Sentral Malaysia. Asosiasi Bank-Bank Malaysia (ABM) optimistis, tren ini masih akan terus menanjak pada 2026.“Kami memperkirakan pertumbuhan lebih lanjut pada 2026,” ujar ABM kepada media setempat dilansir dari The Star Malaysia, Rabu (25/02/2026). Tak hanya generasi muda, kalangan lansia pun mulai ikut beralih ke dompet digital.


E-Wallet Jadi Raja Transaksi Harian

Menurut ABM, dompet digital kini menjadi metode pembayaran utama untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari pembelian makanan dan minuman, belanja ritel, belanja online, pembayaran tol, parkir, hingga pembayaran tagihan.

Generasi muda memang masih menjadi pengguna paling aktif. Namun, adopsi dari kelompok usia senior juga meningkat.

“Dengan antarmuka yang lebih sederhana, fitur keamanan lebih kuat, dan semakin terbiasanya masyarakat dengan layanan digital, lebih banyak warga senior diperkirakan akan menggunakan pembayaran non-tunai,” jelas ABM.

Untuk menjaga keamanan, ABM mengimbau masyarakat mengaktifkan autentikasi multi-faktor dan verifikasi biometrik. Transaksi keuangan juga disarankan tidak dilakukan melalui WiFi publik yang tidak aman.

Baca juga :  Duterte Tolak Hadiri Sidang ICC: Eks Presiden Filipina Terancam Diadili atas Kasus 30 Ribu Korban Perang Narkoba

Nilai Uang Elektronik Nyaris Rp1.000 Triliun

Lonjakan transaksi bukan hanya dari sisi volume, tetapi juga nilai nominalnya.

Dalam periode 2022 hingga 2025, nilai transaksi uang elektronik melonjak hampir empat kali lipat dari RM71,1 miliar menjadi RM272,5 miliar.

Jika dikonversi dengan asumsi kurs rata-rata Rp3.550 per 1 Ringgit Malaysia, maka nilainya setara dengan:

  • RM71,1 miliar ≈ Rp252,4 triliun
  • RM272,5 miliar ≈ Rp967,3 triliun
Baca juga :  BNP Menang Telak Pemilu Bangladesh, Era Baru Politik Dimulai Usai Kejatuhan Hasina

Artinya, perputaran dana digital di Malaysia sudah mendekati Rp1.000 triliun.


Wise: Pasar Malaysia Tumbuh Paling Cepat di Asia Pasifik

Manajer Produk Wise, Yee Won Nyon, menyebut Malaysia sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia-Pasifik.

“Momentum ini didorong kombinasi beberapa faktor: populasi muda yang digital-native, penetrasi smartphone yang tinggi, serta regulasi yang progresif dalam mendorong inovasi fintech,” kata Yee.

Namun, ia mengakui masih ada kendala besar, yakni biaya tersembunyi dalam transaksi lintas negara.

“Riset internal Wise menemukan warga Malaysia kehilangan antara RM200 hingga RM350 (sekitar Rp710 ribu–Rp1,24 juta) per perjalanan luar negeri akibat markup nilai tukar yang tidak terlihat, bahkan setelah berhari-hari mencari penawaran terbaik,” ujarnya.


Desa Masih Jadi Tantangan

Meski pertumbuhan pesat, adopsi sistem non-tunai di wilayah pedesaan belum merata. Tantangan utama mencakup akses smartphone, konektivitas internet stabil, dan literasi keuangan.

Baca juga :  Hanya 3 Pemimpin ASEAN Diundang Trump di Board of Peace , Prabowo Masuk Lingkaran Inti

Namun ada optimisme.

“Pengiriman uang dan transfer lintas negara bagi keluarga dengan anggota yang bekerja di luar negeri menjadi pendorong kuat adopsi keuangan digital,” tambah Yee.


Uang Tunai Tak Bisa terhapus

Di tengah euforia digital, suara kehati-hatian juga muncul.

CEO Centre for Market Education, Carmelo Ferlito, menegaskan uang fisik harus tetap diterima sebagai alat pembayaran sah.

“Dari perspektif ekonomi yang lebih luas, sistem moneter yang sehat harus memungkinkan keberagaman metode pembayaran,” katanya.

Ia menambahkan, sebagian masyarakat masih menghargai privasi, disiplin anggaran melalui uang fisik, atau memiliki ketidakpercayaan terhadap sistem digital.

Presiden Malaysian Association of Money Services Business, Datuk Seri Jajakhan Kader Gani, juga memastikan permintaan uang tunai tetap kuat. Menurutnya, penukaran uang memiliki mekanisme untuk mencegah peredaran uang palsu.