DIKSIMERDEKA.COM TOKYO – Eskalasi ketegangan antara Jepang dan Rusia kian memanas. Pemerintah Jepang melontarkan kritik tajam atas manuver militer dan uji coba rudal yang digelar Angkatan Laut Rusia di sekitar wilayah kepulauan sengketa. Ketegangan ini mencapai puncaknya menyusul kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke wilayah tersebut pekan lalu.

Unjuk kekuatan Rusia memang tak main-main. Armada Pasifik Rusia pada Kamis (20/8/2026) waktu setempat mengumumkan bahwa mereka telah menembakkan rudal permukaan-ke-kapal jenis Bastion dari Etorofu, pulau terbesar di kawasan kepulauan yang diperebutkan tersebut. Rusia menyebut latihan itu sebagai simulasi serangan terhadap kapal musuh, di mana rudal-rudal tersebut sukses menghantam seluruh target pada jarak sekitar 300 kilometer.

Sejumlah pejabat, menurut berbagai laporan, menyebutkan bahwa unjuk kekuatan ini bahkan melibatkan kapal selam bertenaga nuklir dan kapal penjelajah berpeluru kendali.

Manuver ini jelas mengusik Tokyo. Sebelumnya, kunjungan perdana Putin pekan lalu ke Etorofu telah memicu aksi saling panggil duta besar, baik di Tokyo maupun Moskow. Wilayah ini menyimpan bara sejarah panjang; Jepang mengenalnya dengan sebutan Wilayah Utara atau Empat Pulau Utara, sementara Rusia mengklaimnya sebagai bagian dari Kepulauan Kuril. Sengketa teritorial atas pulau-pulau ini sudah mengakar sejak abad ke-19, dan Uni Soviet merebut kawasan tersebut dari Jepang pada penghujung Perang Dunia II.

Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, di sela-sela lawatannya ke Oman pada hari Kamis, menegaskan sikap keras Tokyo terhadap provokasi tersebut.

“Kami tidak dapat menoleransi langkah-langkah untuk memperkuat kekuatan militer di Empat Pulau Utara karena hal itu bertentangan dengan sikap negara kami (terkait wilayah tersebut),” tegas Motegi.

Rusia sendiri seolah tak ambil pusing dan terus unjuk gigi. Latihan tempur Armada Pasifik itu sejatinya telah dimulai sejak 4 Agustus. Jepang sebelumnya juga telah diberitahu bahwa manuver tersebut akan mencakup latihan penembakan peluru tajam. Sehari setelahnya, 5 Agustus, Jepang langsung melayangkan nota protes resmi atas latihan berskala masif tersebut.

Skala latihan militer ini memang raksasa. Mengutip laporan kantor berita Rusia Tass, latihan tersebut melibatkan “sekitar 60 kapal permukaan, kapal selam, dan kapal pendukung, sekitar 30 pesawat, helikopter, dan sistem udara tak berawak dari penerbangan angkatan laut armada Pasifik, serta lebih dari 13.000 anggota militer”.

Pada 12 Agustus, Putin menyempatkan diri untuk menginspeksi langsung sebagian dari jalannya latihan dari atas kapal penjelajah Varyag. Inspeksi ini merupakan rangkaian dari turnya ke pulau-pulau sengketa serta ke Sakhalin, pulau besar di utara Hokkaido yang diakui mutlak sebagai milik Rusia.

Berbicara dari atas kapal perang tersebut, Putin melontarkan pernyataan bernada peringatan yang menyoroti pergeseran geopolitik global yang semakin bergejolak.

“Sayangnya wilayah ini menjadi semakin rentan terhadap konflik, dengan upaya NATO untuk mendapatkan pijakan di sini dan munculnya blok-blok militer dan politik baru,” ujar Putin. “Ada upaya dan rencana untuk mengerahkan sistem senjata baru di sini, yang menciptakan ancaman bagi negara kita.”

Latihan militer militer Rusia yang terus memicu kegeraman Jepang ini dijadwalkan masih akan berlangsung hingga 29 Agustus mendatang.