Tragedi Tambang Emas Afrika Tengah : Longsor Telan Lebih dari 100 Korban Jiwa
ZAMBOYE DIKSIMERDEKA.COM — Ratusan nyawa melayang sia-sia setelah sebuah tambang emas tradisional di desa terpencil di bagian barat Republik Afrika Tengah (CAR) ambruk diterjang tanah longsor. Pejabat setempat dan pekerja bantuan pada hari Rabu membenarkan tragedi nahas ini,
Bencana mematikan ini terjadi pada Selasa (18/8/2026) sore di desa Zamboye, sekitar 50 kilometer dari kota Baboua, yang berbatasan langsung dengan Kamerun. Rekaman mengerikan yang beredar luas di media sosial memperlihatkan bagaimana lautan pasir runtuh bak badai, menelan bulat-bulat sekelompok orang yang diyakini sebagai para pekerja tambang.
Dalam sebuah pernyataan resmi, jaksa penuntut umum setempat menyebutkan masih banyak korban lain yang terjebak di bawah timbunan longsor, meski ia enggan merinci jumlah pasti korban jiwa. Namun, Gervais Ganagoroh, seorang relawan Palang Merah yang turun langsung berjibaku di lokasi, membeberkan fakta mengerikan kepada kantor berita Associated Press pada Rabu. Ia menyebutkan lebih dari 100 jenazah telah berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Angka fantastis ini juga diamini oleh seorang pejabat senior dari asosiasi pertambangan lokal kepada Reuters.
Media lokal di CAR melaporkan bahwa pihak berwenang akhirnya turun tangan dan meluncurkan penyelidikan. Seorang jaksa lain dari Baboua mengatakan kepada pers bahwa tragedi ini diduga kuat dipicu oleh “runtuhnya beberapa terowongan bawah tanah tempat para penambang beroperasi”.
“Tanah itu benar-benar runtuh dan mengubur orang-orang,” beber Cedric Mbango, salah satu penambang yang selamat di lokasi kejadian kepada kantor berita AFP, menggambarkan insiden tersebut sebagai sebuah “bencana”.
Berpacu dengan Waktu di Tengah Ancaman Alat Berat
Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu, bekerja keras mengevakuasi jenazah dan mencari keajaiban adanya korban selamat di antara para penambang yang mayoritas adalah warga negara CAR dan Kamerun. Pihak berwenang di wilayah Timur Kamerun mengonfirmasi bahwa setidaknya tiga warganya telah teridentifikasi sebagai korban tewas.
Gubernur wilayah tersebut, Grégoire Mvongo, mengatakan kepada radio pemerintah pada hari Rabu bahwa dirinya “bekerja sama erat dengan rekan-rekan kami di Afrika Tengah untuk menangani dampak dari tragedi ini”.
Namun, pesimisme mulai menyelimuti proses evakuasi. Bertrand Be Yangué, anggota dewan pemuda Zamboye, dengan getir menyatakan, “menemukan mereka dalam keadaan hidup akan menjadi sebuah keajaiban.”
Ia pun menambahkan kepedihannya: “Kami sedih dan patah hati melihat pemuda dan pemudi binasa setelah datang ke tambang untuk menyelamatkan keluarga mereka dari keputusasaan.” Yangué juga memprediksi jumlah korban tewas masih akan terus meroket seiring berjalannya upaya pencarian.
Mirisnya, portal berita Afrika Tengah, Corbeau News, melaporkan bahwa penggunaan alat berat seperti traktor dalam misi evakuasi ini justru berpotensi membahayakan nyawa korban yang mungkin masih bertahan hidup di bawah timbunan tanah.
Hingga detik ini, jumlah pasti penambang yang berada di bawah tanah saat maut menjemput masih menjadi misteri. Tragedi ini kembali menyoroti buramnya potret pertambangan di Afrika. Tambang-tambang tradisional skala kecil terus menjamur di berbagai pelosok, seolah kebal hukum meski ada regulasi yang mengkriminalisasinya.
Tingginya angka pengangguran memaksa warga untuk nekat mengais rezeki di tambang-tambang tua demi menyambung hidup. Celakanya, situs-situs maut ini beroperasi dengan standar keselamatan yang ambyar, memicu kecelakaan berulang. Bayangkan saja, sepanjang tahun ini saja, tercatat sudah 40 nyawa melayang dalam berbagai insiden pertambangan di CAR, dan kini ditambah dengan tragedi Zamboye yang menelan seratus lebih korban!

Tinggalkan Balasan