WASHINGTON, DIKSIMERDEKA.COM Trump Bantah Stok Senjata AS setelah muncul laporan bahwa persediaan rudal Amerika mulai menipis akibat perang melawan Iran.Trump tak hanya membantah kabar tersebut. Ia juga mengancam akan memburu dan membawa ke meja hijau siapa pun yang membocorkan informasi mengenai stok persenjataan Amerika Serikat.

Lewat platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa militer AS masih memiliki cadangan amunisi dalam jumlah besar.

“Amerika memiliki persediaan amunisi yang sangat besar,” tulis Trump.

Ia juga mengklaim industri pertahanan Amerika sedang memproduksi senjata dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Perusahaan-perusahaan pertahanan sedang membangun jumlah pabrik terbesar dalam sejarah negara kita,” katanya, meski tidak menjelaskan jenis senjata yang dimaksud maupun menyertakan bukti atas klaim tersebut.

Dipicu Laporan Washington Post

Kemarahan Trump muncul setelah The Washington Post melaporkan bahwa dirinya sempat meminta penjelasan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam rapat kabinet di Camp David pekan lalu.

Mengutip dua sumber anonim yang mengetahui jalannya pertemuan, media tersebut menyebut Trump merasa telah “disesatkan” karena sebelumnya diyakinkan persoalan kekurangan amunisi sudah teratasi.

Dalam laporan itu, Hegseth disebut membela diri dan berupaya mengalihkan tanggung jawab kepada Deputi Menteri Pertahanan Stephen Feinberg.

Namun Trump langsung membantah keras laporan tersebut.

Ia bahkan menuding media menyebarkan informasi yang bersifat “pengkhianatan”.

Pembocor Informasi Diancam Penjara

Tak berhenti pada bantahan, Trump juga melontarkan ancaman kepada para pembocor informasi.

Menurutnya, aparat sedang memburu siapa pun yang diduga membocorkan data mengenai kondisi persenjataan Amerika.

“Para pembocor pernyataan yang bersifat pengkhianatan itu sedang diburu. Hukuman penjara jangka panjang akan diminta,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan baru mengenai transparansi pemerintah dalam mengelola konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.

CNN Sebut Rudal Mulai Menipis

Di saat Trump membantah, CNN justru melaporkan kondisi berbeda.

Media itu menyebut stok rudal berpemandu jarak jauh dan sistem pertahanan udara Amerika mulai menipis sehingga membatasi pilihan militer Washington.

Bahkan, menurut laporan CNN, militer AS telah menghabiskan hampir 80 persen persediaan rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Laporan itu memperkuat kekhawatiran bahwa kemampuan pertahanan Amerika mulai tergerus setelah berbulan-bulan terlibat dalam konflik dengan Iran.

Diduga Jadi Alasan Trump Urung Menyerang

Laporan The Washington Post juga menyebut kekhawatiran terhadap stok amunisi menjadi salah satu faktor yang membuat Trump membatalkan rencana serangan lanjutan ke Iran.

Padahal sebelumnya Trump berulang kali mengancam akan menghantam Republik Islam itu “dengan sangat keras”.

Meski demikian, Gedung Putih maupun Pentagon kompak membantah laporan tersebut.

Gedung Putih: Berita Bohong!

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut laporan mengenai pertengkaran Trump dan Hegseth sebagai “FAKE NEWS!”

Leavitt mengaku hadir langsung dalam pertemuan di Camp David.

“Saya berada di Camp David bersama Presiden Trump dan Menteri Hegseth. Itu sama sekali tidak pernah terjadi,” tulisnya melalui platform X.

Ia juga menepis rumor mengenai masa depan Hegseth.

Menurut Leavitt, Trump tetap memberikan dukungan penuh kepada Menteri Pertahanan tersebut.

“Presiden menyukai Menteri Hegseth dan menilai dia melakukan pekerjaan yang luar biasa,” katanya.

Pentagon Ikut Membela

Pernyataan senada datang dari Kepala Juru Bicara Pentagon Sean Parnell.

Ia menyebut baik isu pertengkaran antara Trump dan Hegseth maupun kabar kekurangan amunisi sama-sama tidak benar.

“Semua laporan itu sama-sama fiksi,” ujarnya.

Parnell menegaskan Hegseth akan tetap mendampingi Deputi Menteri Pertahanan Stephen Feinberg menjalankan agenda Presiden Trump, memperkuat industri pertahanan Amerika, sekaligus memastikan militer memiliki seluruh kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi lawan.

Trump Kembali Bela Hegseth

Tak lama setelah bantahan Gedung Putih dan Pentagon, Trump kembali turun tangan.

Ia menegaskan masih sangat puas terhadap kinerja Pete Hegseth.

“Saya sangat senang dengan pekerjaan yang dilakukan Pete Hegseth,” tulis Trump.

Ia kembali menuding media menyebarkan rumor yang tidak berdasar.

Perang Iran Makin Menekan Washington

Perseteruan ini terjadi ketika pemerintahan Trump berusaha menunjukkan bahwa Amerika tetap mengendalikan jalannya perang melawan Iran.

Namun berbagai laporan media justru menggambarkan tekanan yang semakin besar terhadap Pentagon.

Sebelumnya Trump mengklaim sempat memerintahkan serangan terbesar sejak Perang Dunia II sebelum akhirnya membatalkannya demi memberi ruang bagi upaya diplomasi terkait Selat Hormuz.

Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, Pentagon juga terus menjadi sasaran kritik karena dianggap tidak transparan mengenai jumlah korban militer Amerika serta minim memberikan penjelasan kepada publik terkait perkembangan perang.

Kondisi tersebut membuat polemik mengenai stok amunisi semakin sensitif.

Di tengah perang yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, laporan mengenai kemungkinan menipisnya persenjataan strategis Amerika bukan hanya menjadi isu militer, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan publik, strategi Washington di Timur Tengah, hingga dinamika politik menjelang berbagai agenda penting pemerintahan Trump.