Jika Investasi Terus Terpusat di SERBAGITA
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Realisasi investasi di Bali pada semester I 2026 memperlihatkan rasio ketimpangan yang sangat mencolok. Di sisi lain, kawasan Bali Selatan yang meliputi Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan (SERBAGITA) diguyur banjir investasi dari para penanaman modal. Sebaliknya, daerah lain di luar kawasan justru seret menerima aliran investasi.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bali mencatat hampir 93 persen atau Rp 22 triliun dari total nilai investasi pada semester I 2026 yaitu sekitar Rp 23,8 triliun mengucur ke SERBAGITA. Sementara Rp 1,6 triliun atau sekitar 7 persen sisanya mengalir ke Klungkung, Bangli, Karangasem, Buleleng, dan Jembrana.
Kepala Dinas DPMPTSP I Ketut Sukra Negara mengatakan dari total nilai investasi pada semester I 2026 tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) berkontribusi Rp8,8 triliun, sementara penanaman modal asing (PMA) Rp 14,9 triliun.
“93 persen itu diwilayah SERBAGITA, sementara di luar wilayah SERBAGITA itu 7 persen. Jadi masih terkonsentrasi di wilayah SERBAGITA” ungkapnya.
Guru besar Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Prof IB Raka Suardana mengatakan konsentrasi investasi yang berlangsung terus menerus di daerah SERBAGITA, berpotensi memunculkan ketimpangan wilayah yang semakin lebar.
Di samping itu, konsentrasi investasi juga akan melahirkan tekanan terhadap alih fungsi lahan dan lingkungan yang semakin besar. Kemacetan, kenaikan harga properti, hingga meningginya biaya hidup akan menyertai.
“Sebaliknya, wilayah lain berpotensi kehilangan kesempatan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkapnya, Selasa (4/8/2026).
Lebih lanjut, Suardana mengatakan dalam jangka panjang, struktur ekonomi yang terlalu terpusat juga akan meningkatkan kerentanan Bali secara keseluruhan terhadap guncangan ekonomi, terutama jika terjadi gangguan pada sektor pariwisata yang menjadi penggerak utama perekonomian.
Suardana memaklumi bahwa SERBAGITA memilik keunggulan kumulatif yang sulit disaingi wilayah lain. Kawasan ini katanya ditopang Bandara Internasional Ngurah Rai, jaringan jalan, pusat pemerintahan dan bisnis, konsentrasi akomodasi pariwisata, tenaga kerja, perbankan, serta pasar konsumen yang besar.
“Investor juga memperoleh manfaat dari efek aglomerasi, yaitu kedekatan dgn pemasok, mitra usaha, TK terampil, dan konsumen,” terangnya.
Sementara itu, wilayah Bali Utara, Timur, dan Barat masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, serta ekosistem usaha yang belum berkembang secara optimal
Lebih jauh, ia mengatakan konsentrasi investasi pada satu kawasan secara teori ekonomi merupakan fenomena yang wajar karena investor cenderung memilih lokasi dengan pasar besar, infrastruktur memadai, biaya transaksi rendah, serta kepastian usaha tinggi.
Namun, apabila konsentrasi tersebut mencapai hampir 93% dan berlangsung dalam jangka panjang, hal itu dapat menjadi sinyal adanya ketimpangan pembangunan.
Ia mengatakan konsentrasi investasi di SERBAGITA yang telah berlangsung cukup lama disebabkan oleh pola pembangunan timpang yang secara tidak langsung memperkuat aliran modal hanya bermuara di SERBAGITA.
Untuk itu, ia mendorong agar kebijakan ke depan perlu mengembangkan ekosistem investasi di luar kawasan melalui infrastruktur, insentif yang tepat sasaran, kepastian tatat ruang, serta penguatan sektor unggulan daerah berdasarkan potensi lokal masing-masing wilayah.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan