DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Mia Rubawange mengaku kaget saat tahu gedung di Jalan Tukad Batangari XIV No 2 Panjer, Desa Dauh Puri Kelod, Denpasar, merupakan perpustakaan yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Bali. Padahal Mia sapaan akrabnya telah tinggal lama tidak jauh dari lokasi perpustakaan tersebut.

“Sebetulnya aku tinggal dekat sini, kalau tidak salah baru tahu bulan lalu, tapi aku tinggal jauh lebih lama, matsudnya baru sadar ternyata disini ada perpustakaan,” ungkap Mia saat dijumpai disela membaca buku di Perpustakaan Daerah Bali, Senin (3/7/2026).

Karena penasaran, Mia pun mencoba mengunjungi perpustakaan tersebut. Ia mengaku kunjungan itu merupakan yang pertama kali. Sebelumnya, saat tinggal di Surabaya, Mia cukup sering mengunjungi berbagai perpustakanan, mulai dari perpustakaan kampus sampai perpustakaan daerah.

“Hari ini kayaknya gabut, mau cari inspirasi, akhirnya kesini saja,” ungkap Mia.

Menurut Mia, meski telah ada kemudahan dengan hadirnya bahan bacaan digital dan teknologi artificial intelligence atau AI, kebutuhan pergi ke perpustakaan dan membaca buku secara fisik menurutnya masih sangat relevan untuk dilakukan.

“Kalau buku kan bisa dilihat, kemudian juga kita tidak terpapar radiasi. Lalu kalau kita pergi ke perpustakaan ada banyak pilihan. Kita bisa lihat koleksi lama. Kalau pakai internet, misalnya kalau kita ingin fokus cari informasi, maka fokusnya hanya kesitu kan. Tapi kalau ke perpustakaan, kita punya banyak pilihan referensinya,” ungkapnya.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa di era sekarang penampilan perpustakaan menjadi satu nilai plus yang akan menarik minat pengunjung. Hal tersebut karena perpustakaan di era sekarang tidak hanya jadi tempat membaca buku, namun juga tempat berinteraksi.

Ia mengatakan penataan rak buku dan meja baca yang lebih kekinian, pembaruan koleksi bahan bacaan, serta penambahan fasilitas penunjang seperti area lesehan berkarpet, sofa, dan akses Wi-Fi dapat membuat perpustakaan semakin ramai dikunjungi.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Perpustakaan Daerah Bali mencatat sebanyak 823 kunjungan. Jika digabungkan dengan perpustakaan yang berlokasi di Pura Besakih dan Singaraja yang juga dikelola Pemprov Bali, total kunjungan mencapai 1.762 kunjungan dengan total peminjaman buku sebanyak 150 eksemplar.

Pustakawan Perpustakaan Daerah Bali Wayan Tunjung mengungkapkan, jumlah pengunjung biasanya mulai meningkat pada siang hari.

Ia pun mengatakan bahwa aktivitas di perpustakaan kini semakin beragam, tidak hanya diperuntukan untuk membaca, sebagian pengunjung juga menjadikan perpustakaan sebagai tempat membuat tugas, belajar kelompok, bahkan tempat rapat secara daring (Zoom).

“Karena kita sediakan wifi jadi beberapa ada yang memanfaatkan untuk rapat,” terangnya.

Ia mengatakan saat ini buku koleksi yang ditawarkan di perpustakaan sangat beragam mulai dari buku untuk anak TK sampai buku untuk referensi mahasiswa. Ia mengatakan bahwa buku-buku tersebut masih sangat relevan.

Lebih lanjut, Tunjung mengungkapkan bahwa setiap tahun perpustakaan akan memperbaharui koleksi bukunya.

“Tiap tahun akan ada pembaharuan koleksi. Penambahan itu didasarkan pada kebutuhan pengunjung,” terangnya.

Meski telah ada peningkatan kunjungan ke perpustakaan, Tunjung mengaku perpustakaan daerah Bali yang saat ini beralamat di Jalan Tukad Batang Hari XIV Desa Dauh Puri Kelod, Denpasar, yang merupakan pindahan dari Jalan DI Panjaitan Renon, Denpasar sejak 2022 masih awam diketahui masyarakat.

“Kalau disini sekarang bisa dikatakan belum maksimal sehingga pelayanan masih sedikit jadi tantanganya disana ,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Subbagian Perpustakaan Bali I Nyoman Ananta Krisna mengatakan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, perpustakaan secara rutin menggelar berbagai kegiatan literasi, mengundang sekolah untuk berkunjung, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi layanan.

Ia menambahkan, tren kunjungan perpustakaan dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa buku fisik masih memiliki tempat di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Perpustakaan tetap menjadi sumber ilmu pengetahuan. Kami berharap semakin banyak masyarakat mengenal dan memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar dan mencari referensi,” katanya.

Lebih lanjut, selain meningkatkan tingkat kunjungan ke kantor, pihaknya juga melakukan upaya jemput bola. Salah satunya dengan menghadirkan perpustakaan keliling.

“Salah satunya kami menghadirkan perpustakaan keliling setiap minggu di Car Free Day Renon. Selain itu, banyak sekolah yang juga mengundang perpustakaan keliling untuk hadir dalam kegiatan mereka,” ujarnya.

Menurutnya, layanan tersebut menjadi cara yang efektif untuk memperluas akses masyarakat, terutama anak-anak, terhadap bahan bacaan.

Selain memperluas jangkauan layanan, Perpustakaan Bali juga secara rutin memperbarui koleksi buku setiap tahun. Penambahan koleksi dilakukan berdasarkan kebutuhan dan permintaan pembaca yang berkunjung ke perpustakaan.

“Kami memiliki tim yang menyeleksi buku. Pengunjung biasanya kami tanyakan buku apa yang mereka cari. Kalau belum ada, kami usahakan untuk mengadakannya,” katanya.

Pada tahun ini, anggaran pengadaan buku mencapai sekitar Rp150 juta. Dana tersebut digunakan untuk menambah sekitar seribu eksemplar buku dari berbagai judul. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 500 eksemplar.

Ia mengatakan koleksi yang akan ditambah adalah novel dan buku cerita lantaran dua jenis buku tersebut kondisinya masih kurang diperpustakaan. Di samping itu, perpustakaan juga terus melengkapi koleksi di berbagai jenis buku, seperti hukum, sejarah, agama, sosial, serta referensi akademik.

Selain melalui pengadaan, Perpustakaan Provinsi Bali juga menambah koleksi melalui layanan deposit. Melalui mekanisme tersebut, setiap penerbit maupun percetakan di Bali menyerahkan salinan buku yang diterbitkan untuk menjadi koleksi perpustakaan.

Ke depan tambahnya, perpustakaan Bali berencana mengembangkan konsep perpustakaan sebagai third place atau ruang ketiga, yakni ruang publik yang nyaman untuk belajar, berdiskusi, dan berinteraksi di luar rumah maupun tempat kerja.

Konsep tersebut akan diwujudkan melalui penataan kawasan perpustakaan agar lebih ramah bagi generasi muda, termasuk menghadirkan area membaca yang terintegrasi dengan ruang bersantai.

“Harapannya orang datang bukan hanya untuk meminjam buku, tetapi juga membaca, berdiskusi, dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat berkegiatan,” katanya.

Di sisi lain, ia mengakui tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukan hanya perubahan pola membaca masyarakat, tetapi juga keterbatasan sumber daya manusia (SDM).

Ia mengatakan saat ini Perpustakaan di bawah naungan Pemprov Bali memiliki sekitar 12 pustakawan, sementara dalam beberapa tahun ke depan sebagian di antaranya akan memasuki masa pensiun.

“Tantangan utama memang SDM. Banyak pustakawan yang akan pensiun, sementara penggantinya tidak mudah karena tidak semua pegawai memiliki kompetensi sebagai pustakawan,” ujarnya.

Reporter: Agus Pebriana