KUMAMOTO, DIKSIMERDEKA.COMKorban tewas gempa Kumamoto berkekuatan magnitudo (M) 7,1 di Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, terus bertambah. Hingga Kamis (30/7), jumlah korban meninggal dunia mencapai 30 orang, sementara ribuan petugas masih melanjutkan pencarian dan penanganan di wilayah terdampak.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan angka tersebut termasuk korban yang diduga meninggal akibat dampak bencana, selain korban yang telah terkonfirmasi secara resmi.

Sementara itu, Pemerintah Prefektur Kumamoto mencatat 18 korban tewas yang telah terverifikasi. Delapan di antaranya meninggal di pabrik Nippon Paper Industries Co. di Kota Yatsushiro, sedangkan enam korban lainnya tewas di pusat perbelanjaan Aeon di Kota Kashima setelah terjadi ledakan yang dipicu gempa besar dua hari sebelumnya.

Empat korban lainnya masing-masing terdiri atas tiga warga di Kota Yatsushiro dan satu orang di Kota Kosa.

Di lokasi pabrik Nippon Paper, satu orang yang sebelumnya dinyatakan hilang telah ditemukan. Namun hingga kini kondisi korban belum diumumkan kepada publik. Gempa menyebabkan sejumlah cerobong asap di fasilitas tersebut mengalami kerusakan parah.

Di lokasi lain, Pemerintah Kota Uki mengungkapkan terdapat dua korban meninggal dunia yang belum dimasukkan ke dalam data resmi Prefektur Kumamoto.

Sementara itu, Vietnam News Agency melaporkan seorang pekerja magang asal Vietnam meninggal dunia setelah tertimpa derek di sebuah pabrik di Kota Kosa.

Data Korban Masih Berbeda

Perbedaan jumlah korban antara pemerintah pusat dan Pemerintah Prefektur Kumamoto masih terjadi karena metode pendataan yang digunakan berbeda.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menjelaskan pemerintah pusat menggunakan data dari kepolisian dan dinas pemadam kebakaran, sedangkan pemerintah prefektur mengumpulkan laporan dari masing-masing pemerintah daerah.

“Perbedaan angka korban merupakan hal yang wajar pada tahap awal penanganan bencana karena proses verifikasi masih terus berlangsung,” ujarnya.

Ribuan Warga Bertahan di Pengungsian

Dampak gempa juga masih dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Kumamoto.

Hingga Kamis pagi, lebih dari 10.000 warga masih bertahan di pusat-pusat pengungsian.

Selain itu, sekitar 23.000 rumah masih mengalami pemadaman listrik, sedangkan 75.000 rumah tangga belum mendapatkan pasokan air bersih.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan para pengungsi, terutama kelompok lanjut usia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit kronis.

Layanan Shinkansen Belum Beroperasi

Kerusakan infrastruktur akibat gempa juga mengganggu transportasi di Pulau Kyushu.

Operator kereta JR Kyushu menyatakan layanan Kyushu Shinkansen antara Stasiun Kumamoto dan Kagoshima-Chuo masih belum dapat dioperasikan karena proses pemeriksaan jalur rel dan infrastruktur belum selesai.

Perusahaan juga membatalkan rencana pembukaan kembali jalur antara Stasiun Chikugo-Funagoya di Prefektur Fukuoka dan Stasiun Kumamoto. Seluruh perjalanan kereta di lintasan tersebut dibatalkan sepanjang Kamis.

Guncangan Maksimum

Gempa berkekuatan M7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto pada Selasa pukul 16.27 waktu setempat.

Badan Meteorologi Jepang mencatat guncangan mencapai level 7, tingkat tertinggi pada skala intensitas seismik Jepang, di Kota Uki dan Hikawa.

Pada tingkat tersebut, seseorang umumnya tidak mampu berdiri atau berjalan tanpa merangkak dan bahkan dapat terlempar akibat kuatnya guncangan.

Pemerintah Jepang masih mengerahkan tim penyelamat untuk memastikan tidak ada lagi korban yang terjebak di reruntuhan, sekaligus mempercepat pemulihan layanan listrik, air bersih, serta transportasi di wilayah yang terdampak gempa.