Apa yang Hilang dari Satu Abad Rarud Batur?
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Relokasi akibat letusan Gunung Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, tidak saja berbicara cerita tentang solidaritas masyarakat membangun kembali peradapan pasca erupsi, tetapi juga menyimpan kehilangan yang jauh lebih besar dari sekadar perpindahan permukiman.
Bencana yang terjadi pada 1926 itu ikut mengubur jejak-jejak sejarah, memutus pewarisan sejumlah ritual adat, bahkan mengubah struktur sosial masyarakat.
Jero Penyarikan Duuran Batur mengungkapkan, banyak situs dan ritus bersejarah yang kini tak lagi bisa ditunjukkan karena hilang tertimbun material letusan dan proses adaptasi yang dilakukan masyarakat pasca relokasi.
“Kalau sekarang orang bertanya di mana situs-situs Batur yang lama, kami sudah sulit menunjukkannya. Berdasarkan hasil riset, memang banyak situs yang hilang setelah letusan,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Jero Eriadi panggilan akrabnya, bangunan Pura Ulun Danu Batur yang berdiri saat ini sebenarnya merupakan pura yang dibangun kembali setelah masyarakat direlokasi dan baru diupacarai pada 1935.
Namun demikian, sejumlah benda bersejarah seperti gamelan Selonding, arca, dan berbagai peninggalan dari masa Bali Kuno hingga Kerajaan Gelgel, dan Pra Gelgel masih berhasil diselamatkan dan tetap dirawat hingga sekarang.
Tidak hanya situs fisik yang hilang. Jero Eriadi sapaan akrabnya mengatakan sejumlah ritual adat yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Batur di kaki gunung di sisi barat daya juga perlahan lenyap karena proses adaptasi.
Ia menuturkan, dalam satu tahun masyarakat Batur memiliki sebelas rangkaian upacara adat. Kini, beberapa ritual besar yang tercatat dalam Raja Purana sudah tidak lagi dilaksanakan karena tata caranya tidak lagi diketahui.
Salah satunya adalah ritual Ngelintikan Gelung yang dilaksanakan pada sasih Kesanga, serta ritual Meayunan. Kedua tradisi itu kini hanya tersisa dalam catatan sejarah.
“Diduga saat relokasi terjadi, masyarakat lebih fokus mempertahankan ritual-ritual utama. Yang lain akhirnya disederhanakan, bahkan ada yang hilang karena keterbatasan sumber daya saat itu,” jelasnya.
Meski begitu, Jero Eriadi mengatakan beberapa tradisi mulai dihidupkan kembali seiring membaiknya kondisi masyarakat. Contohnya Ngusaba Kadasa, yang kini kembali dilaksanakan secara lebih lengkap, termasuk ritual Nangluk Merana yang menggunakan sarana kerbau seperti yang tercatat dalam tradisi lama.
Di samping ritual, perubahan juga terjadi pada sistem sosial Desa Adat Batur. Salah satu yang paling terasa adalah hilangnya jabatan Kubayan, tokoh penting dalam struktur ulu apad yang menjadi ciri desa-desa Bali Mula.
Kini, Desa Adat Batur menjadi salah satu desa di Kintamani yang tidak lagi memiliki Kubayan “Kalau boleh diibaratkan, Kubayan itu adalah kepala dalam struktur sosial kami,” katanya.
Menurutnya, perubahan tersebut merupakan bagian dari proses adaptasi setelah relokasi. Ia mengatakan untukmenyesuaikan kondisi saat itu, sejumlah jabatan diefisiensikan dan fungsi kepemimpinan dipusatkan kepada Jero Gede yang kini menjalankan dua peran sekaligus, yakni sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin Desa Adat Batur.
Meski banyak warisan yang hilang, masyarakat Batur tidak ingin kehilangan ingatan kolektif tentang sejarah mereka. Berbagai peninggalan yang masih tersisa terus didokumentasikan, sementara kisah-kisah yang nyaris terlupakan kembali diangkat melalui peringatan 100 Tahun Rarud Batur.
Jero Penyarikan Duuran Batur tidak menampik jika kedepan ada upaya mengembalikan ritus yang hilang tersebut, terlebih telah terbit Peraturan Daerah No 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat.
Namun, menurutnya, mengembalikan sistem tersebut membutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan dukungan desa.
“Yang menjadi perkara kemudian, siapa yang siap menjadi Kubayan? Menjadi Kubayan bukan perkara mudah. Ada tanggung jawab besar dan desa juga harus mampu memberikan dukungan yang dibutuhkan,” tutupnya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan