LOS ANGELES, DIKSIMERDEKA.COM – Di setiap stadion yang disinggahi Timnas Spanyol, satu nama selalu mengundang sorakan paling keras: Lamine Yamal. Setiap kali bola menempel di kakinya, ribuan pasang mata menanti keajaiban. Di usia yang baru menginjak 18 tahun, ia bukan lagi sekadar wonderkid. Ia kini menjadi wajah, harapan, sekaligus beban terbesar Spanyol dalam perburuan gelar Piala Dunia 2026.

Namun di balik sorotan jutaan penonton, ada satu sosok kecil yang mampu membuat Yamal melupakan semua tekanan. Namanya Keyne, adik kandungnya yang baru berusia tiga tahun.

Momen menggemaskan itu terjadi sesaat setelah Spanyol memastikan kemenangan 3-0 atas Austria di babak 32 besar. Kamera televisi menangkap Keyne melompat kegirangan sambil mengangkat kedua tangan dan berteriak, “¡Vamos!” atau “Ayo!” Rekaman singkat itu langsung viral dan memenuhi media sosial.

Beberapa saat kemudian, di ruang wawancara yang berada puluhan meter di bawah permukaan tanah Stadion Los Angeles, Yamal diperlihatkan video tersebut.

Responsnya tak disangka.

“Saya tidak tahu… melihat adik saya bahagia membuat saya sangat emosional,” kata Yamal sambil tersenyum.

Baca juga :  Jepang vs Swedia 1-1: Elanga Selamatkan Swedia, Samurai Biru Tetap Melaju ke Babak 32 Besar

“Dia segalanya bagi saya. Rasanya seperti dia anak saya sendiri. Saya sangat mencintainya.”

Anak 18 Tahun dengan Beban Satu Negara

Kalimat itu menggambarkan siapa sebenarnya Lamine Yamal.

Meski baru berusia 18 tahun, pemain Barcelona tersebut mengaku sudah memikul tanggung jawab besar sejak masih belia. Dalam wawancara dengan media Spanyol beberapa waktu lalu, ia mengatakan mulai merasakan tekanan sebagai figur publik sejak berusia 13 tahun.

Popularitasnya kini luar biasa.

Di Amerika Serikat, sebuah video ketika Yamal berjalan santai di Walmart sempat viral. Bagi kebanyakan orang, itu mungkin sekadar aktivitas biasa. Namun bagi Yamal, berjalan tanpa sorotan kamera menjadi kemewahan yang semakin sulit didapat.

Kini, setiap langkahnya selalu menjadi perhatian.

Mesin Permainan Spanyol

Di atas lapangan, Yamal kembali menunjukkan mengapa ia dianggap salah satu pemain muda terbaik dunia.

Meski tidak mencetak gol ke gawang Austria, penampilannya menjadi pusat permainan Spanyol. Dua kali melakukan nutmeg, berkali-kali melewati lawan, serta memaksa Konrad Laimer bekerja ekstra keras sepanjang pertandingan.

Pelatih Luis de la Fuente bahkan menyebut performa timnya sebagai “nyaris sempurna”.

Baca juga :  Skotlandia vs Brasil 0-3: Vinicius Bersinar, Selecao Juara Grup

Tak hanya Yamal, Mikel Oyarzabal mencetak dua gol, Dani Olmo tampil kreatif, sementara lini belakang bermain disiplin. Namun sorotan tetap kembali kepada Yamal.

Statistik pertandingan menunjukkan dominasi mutlak Spanyol. La Roja menguasai 68 persen penguasaan bola, berbanding 32 persen milik Austria. Mereka melepaskan 18 tembakan, 9 di antaranya tepat sasaran, sedangkan Austria hanya mampu mencatat 6 percobaan dengan 2 mengarah ke gawang.

Spanyol juga mencatat 643 operan dengan akurasi mencapai 91 persen, jauh mengungguli Austria yang membukukan 318 operan dengan akurasi 82 persen.

Dari sisi serangan, Spanyol memperoleh 8 tendangan sudut, sementara Austria hanya mendapat 3. Dominasi itu membuat Austria nyaris tak memiliki kesempatan mengembangkan permainan.

“Tak Ada yang Lebih Baik dari Kami”

Sejak awal turnamen, Yamal memang sudah mengirim sinyal optimistis.

Menurutnya, fase grup hanyalah pemanasan. Piala Dunia sesungguhnya dimulai ketika memasuki fase gugur.

Ucapan itu ternyata bukan sekadar percaya diri.

“Saya merasa semakin baik. Dribel saya kembali, akselerasi saya kembali,” ujarnya.

“Mulai sekarang, tak ada yang ingin pulang. Kami akan melakukan apa saja agar tetap bertahan.”

Baca juga :  Novita Hardini: Gaung Piala Dunia 2026 Masih Minim

Yamal juga menegaskan bahwa Spanyol tidak takut menghadapi siapa pun.

“Kami adalah Spanyol. Kami percaya pada kemampuan kami sendiri.”

Pernyataan tersebut kemudian diikuti para pemain lain dalam sesi latihan sehari setelahnya. Mereka sepakat bahwa jika mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Austria, Spanyol bisa menghadapi siapa pun.

Keluarga Jadi Tempat Pulang

Di tengah tekanan sebagai bintang muda terbesar dunia sepak bola, Yamal memilih satu cara sederhana agar tetap membumi.

Keluarga.

Baginya, hanya keluarga yang mengenalnya bukan sebagai superstar, tetapi sebagai “Lamine”.

“Saya menikmati setiap momen di Piala Dunia, sejak keluar dari hotel hingga masuk stadion,” katanya.

“Saya baru berusia 18 tahun dan bermain di Piala Dunia. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.”

“Dan saya tetap menjadi diri sendiri karena saya menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Mereka satu-satunya yang mengenal saya hanya sebagai Lamine.”

Kini, bersama talenta luar biasa yang dimilikinya dan dukungan penuh dari keluarga, Lamine Yamal bukan hanya menjadi masa depan Spanyol.

Ia telah menjadi masa kini.