Trump Ngamuk Lagi! NATO Dibilang Cuma Bebanin Amerika
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON – Kurang dari sepekan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang hubungan Washington dengan sekutu-sekutunya. Trump menyebut “konyol” jika Amerika Serikat terus mempertahankan pola dukungan militer yang dianggapnya hanya menguntungkan negara-negara Eropa.
Lewat unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan hubungan AS dengan NATO sudah tidak lagi berjalan secara timbal balik.
“Hubungan kita dengan NATO tidak bersifat resiprokal. Mereka tidak ada untuk kita!” tulis Trump dilansir The Guardian, Jumat (3/7/2026).

Pernyataan keras itu menjadi kritik terbaru Trump terhadap negara-negara anggota NATO yang dinilai gagal memberikan dukungan kepada Amerika Serikat selama konflik dengan Iran.
Trump Kecewa Sekutu Eropa
Trump berulang kali melontarkan kritik kepada sekutu-sekutu Eropa terkait sikap mereka selama perang Iran. Sejumlah negara bahkan membatasi penggunaan pangkalan militer mereka oleh pasukan Amerika Serikat, sehingga operasi Washington dinilai tidak memperoleh dukungan maksimal.
Menurut Trump, Amerika Serikat selama ini mengeluarkan biaya jauh lebih besar dibandingkan negara anggota NATO lainnya.
Untuk memperkuat argumennya, Trump mengunggah grafik yang menunjukkan besarnya anggaran pertahanan Amerika Serikat dibandingkan sejumlah anggota NATO seperti Inggris dan Prancis.
Ia kembali menegaskan bahwa Eropa harus mulai mengambil tanggung jawab utama dalam menjaga keamanan kawasan mereka sendiri.
Pemerintahan Trump juga telah mulai mengurangi berbagai komitmen militer Amerika Serikat di Eropa sebagai bagian dari kebijakan tersebut.
Target Belanja Pertahanan Naik
Tekanan Trump sebelumnya membuat para pemimpin NATO sepakat meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) masing-masing negara pada tahun 2035.
Namun, Trump menilai langkah tersebut belum cukup apabila negara-negara anggota masih bergantung pada kekuatan militer Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui Presiden Trump memang kecewa terhadap respons sekutu NATO selama operasi militer di Timur Tengah.
Saat menghadiri pertemuan para menteri luar negeri NATO pada Mei lalu, Rubio mengatakan persoalan tersebut hampir pasti menjadi salah satu agenda utama dalam KTT NATO di Ankara.
“Pandangan Presiden, bahkan kekecewaannya terhadap beberapa sekutu NATO atas respons mereka terhadap operasi kami di Timur Tengah, sudah diketahui publik. Hal itu harus dibahas,” ujar Rubio.
Menurut Rubio, pertemuan NATO tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang paling penting dalam sejarah aliansi tersebut.
KTT NATO Digelar Pekan Depan
Konferensi Tingkat Tinggi NATO akan berlangsung di Ankara, Turki, pada 7-8 Juli 2026, mempertemukan pemimpin dari 32 negara anggota.
Aliansi pertahanan yang berdiri sejak 1949 itu selama puluhan tahun dikenal sebagai kekuatan militer yang dipimpin Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas Eropa, membendung pengaruh Uni Soviet pada era Perang Dingin, sekaligus memperkuat posisi Washington sebagai kekuatan global.
Namun, di bawah kepemimpinan Trump, hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya kembali menghadapi ujian. Pernyataan keras menjelang KTT diperkirakan akan memanaskan pembahasan mengenai pembagian beban pertahanan, komitmen militer bersama, hingga masa depan NATO di tengah meningkatnya berbagai konflik internasional.
Pengamat hubungan internasional banyak menilai pernyataan Trump berpotensi memperdalam perdebatan lama mengenai pembagian beban pertahanan di dalam NATO. Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat memang menjadi penyumbang terbesar anggaran pertahanan aliansi, sementara sejumlah negara Eropa masih berada di bawah target belanja militer yang disepakati bersama.
Kondisi tersebut kerap dijadikan Trump sebagai alasan untuk mendesak sekutu-sekutunya meningkatkan kontribusi finansial dan kemampuan pertahanan mereka sendiri. Di sisi lain, sejumlah negara Eropa berpendapat bahwa kontribusi mereka tidak hanya diukur dari besaran anggaran, tetapi juga melalui dukungan diplomatik, operasi penjaga perdamaian, serta bantuan kemanusiaan dan keamanan di berbagai kawasan.
Ketegangan ini diperkirakan akan menjadi salah satu tema utama dalam KTT NATO di Ankara, terutama ketika aliansi menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks, mulai dari perang Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah, hingga meningkatnya ancaman siber dan persaingan geopolitik global. Apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan pandangan antara Washington dan sekutu-sekutunya dapat memengaruhi soliditas NATO dalam menghadapi berbagai krisis internasional.
Namun banyak analis meyakini bahwa meski terjadi ketegangan politik, negara-negara anggota pada akhirnya tetap memiliki kepentingan bersama untuk mempertahankan aliansi pertahanan tersebut sebagai pilar utama keamanan kawasan Atlantik Utara.

Tinggalkan Balasan