Pilpres Kolombia 2026 Jadi Referendum Pemerintahan Petro

DIKSIMERDEKA.COM BOGOTA — Pilpres Kolombia 2026 berubah menjadi duel panas antara kubu kanan dan kiri. Abelardo de la Espriella, pengacara kontroversial yang terang-terangan mengagumi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berhasil melaju ke putaran kedua bersama senator sayap kiri Iván Cepeda.

Hasil penghitungan lebih dari 99 persen suara menunjukkan De la Espriella meraih 43,73 persen suara. Sementara itu, Cepeda mengantongi 40,91 persen suara.

Karena tidak ada kandidat yang menembus ambang 50 persen, rakyat Kolombia harus kembali ke bilik suara pada 21 Juni mendatang.

Selain menentukan presiden baru, Pilpres Kolombia 2026 juga menjadi penilaian langsung terhadap pemerintahan Presiden Gustavo Petro yang selama empat tahun terakhir menuai pujian sekaligus kritik keras.


Kandidat Pro Trump Melonjak, Kubu Kiri Terancam

De la Espriella, 47 tahun, muncul sebagai kejutan terbesar dalam pemilu kali ini. Tokoh yang dijuluki “El Tigre” itu membangun kampanye dengan isu keamanan, perang terhadap kartel narkoba, pemangkasan pajak, dan perluasan eksplorasi minyak.

Bahkan, banyak pengamat menyamakan gaya politiknya dengan Presiden El Salvador, Nayib Bukele, yang terkenal keras terhadap geng kriminal.

Baca juga :  Trump Tunda Serangan ke Iran, Timur Tengah Deg-Degan Lagi!

Usai memastikan tiket ke putaran kedua, De la Espriella langsung melontarkan pernyataan keras.

“Kami melaju ke putaran kedua berkat lebih dari 10 juta rakyat Kolombia yang menjawab panggilan ke TPS. Dalam 21 hari, kita akan membuat sejarah!” katanya.

Tak berhenti di situ.

“Kami akan mengalahkan tirani dan absolutisme.”ujarnya seperti yang dilansir dari CNN.

Pernyataan itu langsung dianggap sebagai serangan terbuka terhadap pemerintahan Petro dan sekutunya.

Di sisi lain, Cepeda memilih lebih hati-hati. Politikus berusia 63 tahun itu meminta semua pihak menunggu hasil final yang diverifikasi otoritas pemilu.


Warisan Petro Jadi Sasaran Tembak

Sepanjang kampanye, isu terbesar adalah kebijakan “Perdamaian Total” yang menjadi proyek andalan Presiden Gustavo Petro.

Program tersebut mengedepankan negosiasi dengan kelompok bersenjata dan organisasi kriminal demi mengakhiri konflik yang telah berlangsung puluhan tahun.

Namun lawan-lawan Petro menilai kebijakan itu gagal total.

Mereka menyoroti meningkatnya produksi kokain, membesarnya kelompok bersenjata, dan melonjaknya kekerasan di sejumlah wilayah perbatasan.

Sebaliknya, kubu pemerintah berargumen bahwa mereka berhasil memperluas perlindungan sosial, meningkatkan upah minimum, serta menyita narkoba dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah negara itu.

Baca juga :  Siapa Mojtaba Khamenei? Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

Karena itu, Pilpres Kolombia 2026 kini dipandang sebagai referendum terhadap era Petro.


Isu Keamanan Jadi Senjata Utama

Kampanye pemilu kali ini berlangsung dalam suasana yang jauh dari tenang.

Serangan drone, penculikan, pembunuhan, hingga penembakan kandidat presiden Miguel Uribe Turbay menjadi bayang-bayang yang menghantui proses demokrasi.

Uribe ditembak saat kampanye dan akhirnya meninggal dunia setelah menjalani sejumlah operasi.

Akibatnya, isu keamanan menjadi faktor penentu pilihan pemilih.

De la Espriella menawarkan pendekatan militer yang lebih agresif. Ia bahkan menjanjikan pembangunan 10 penjara raksasa di hutan serta operasi gabungan dengan Amerika Serikat untuk menggempur kartel narkoba.

Sementara itu, Cepeda tetap percaya bahwa dialog dan negosiasi merupakan jalan terbaik untuk meredam konflik bersenjata.


Hubungan dengan Amerika Serikat Dipertaruhkan

Tak hanya menentukan masa depan domestik, Pilpres Kolombia 2026 juga akan memengaruhi hubungan Bogota dengan Washington.

Selama menjabat, Petro beberapa kali bentrok secara terbuka dengan Presiden AS Donald Trump terkait deportasi migran, perang narkoba, dan kebijakan regional.

Baca juga :  Trump Tarik Pasukan AS dari Jerman, NATO Gelisah: Ancaman Rusia Menguat, Eropa Disuruh Jaga Diri Sendiri!

Ketegangan itu sempat memicu ancaman tarif dagang yang mengguncang pasar.

Meski demikian, hubungan kedua negara perlahan membaik setelah pertemuan Petro dan Trump di Gedung Putih pada Februari 2026.

Kini, kedua kandidat menawarkan arah berbeda.

Cepeda menginginkan kebijakan luar negeri yang lebih independen dan memperkuat integrasi Amerika Latin.

Sebaliknya, De la Espriella mendorong aliansi keamanan yang lebih erat dengan Amerika Serikat serta kerja sama yang lebih agresif melawan kartel narkoba.


Putaran Kedua Bisa Mengubah Peta Politik Amerika Latin

Kemenangan Cepeda akan memperpanjang pengaruh kubu kiri yang selama ini dibangun Petro.

Sebaliknya, jika De la Espriella menang, Kolombia berpotensi bergabung dalam gelombang pergeseran ke kanan yang belakangan melanda sejumlah negara Amerika Latin.

Karena itu, Washington, Caracas, Quito, hingga pelaku pasar internasional kini mengawasi ketat perkembangan Pilpres Kolombia 2026.

Pertarungan pada 21 Juni mendatang bukan sekadar memilih presiden baru.

Lebih dari itu, rakyat Kolombia sedang menentukan apakah negara mereka tetap berjalan di jalur kiri ala Petro atau berbelok tajam menuju politik keamanan bergaya Trump dan Bukele.