AS, Kuba, Iran hingga China Kirim Bantuan, Dunia Bersatu Bantu Venezuela
DIKSIMERDEKA.COM CARACAS – Gelombang solidaritas internasional mengalir ke Venezuela setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang negara itu pada Kamis (25/6) . Amerika Serikat, Kuba, Iran, China, hingga sejumlah negara Eropa dan Amerika Latin menyatakan siap mengirim tim penyelamat, tenaga medis, serta bantuan kemanusiaan.
Dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi hanya dalam selang waktu singkat menewaskan sedikitnya 164 orang, melukai hampir 1.000 warga, serta menyebabkan kerusakan parah di ibu kota Caracas dan sejumlah wilayah di pesisir utara Venezuela.
Juru Bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Tommaso Della Longa, mengatakan bencana tersebut memperburuk kondisi Venezuela yang sebelumnya telah dilanda berbagai persoalan kemanusiaan.

Menurutnya, negara itu masih menghadapi krisis ekonomi, banjir, serta berbagai tantangan di sektor kesehatan sehingga kapasitas penanganan bencana menjadi semakin terbatas.
“Kami berbicara mengenai sistem yang sejak awal sudah menghadapi berbagai tekanan. Jumlah korban luka saja sudah cukup untuk membebani sistem kesehatan mana pun,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan pemerintah AS akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk membantu proses tanggap darurat di Venezuela.
“Respons kami akan melibatkan seluruh lembaga pemerintah. Bantuan akan diberikan secara cepat, besar, dan efektif,” kata Rubio saat melakukan kunjungan ke Bahrain. Ia menambahkan Departemen Pertahanan AS akan memainkan peran penting dalam dukungan logistik dan operasi penyelamatan.
Selain Amerika Serikat, sejumlah negara Amerika Latin seperti Meksiko, Brasil, El Salvador, Ekuador, Republik Dominika, dan Kuba juga menyampaikan dukungan kepada Venezuela.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez mengatakan tenaga kesehatan Kuba telah berada di lokasi bencana dan sepenuhnya dikerahkan untuk memberikan pelayanan medis kepada masyarakat terdampak.
Dari Eropa, Belanda mengalokasikan dana sekitar 2 juta euro untuk mengirim tim penyelamat lengkap dengan personel, anjing pelacak, dan peralatan pencarian. Spanyol dan Prancis juga mengirim puluhan personel penyelamat, sementara Jerman menyiapkan enam pesawat angkut militer untuk mendukung distribusi bantuan. Swiss turut mengirim tim tanggap darurat beserta anjing pelacak.
Iran juga menyatakan kesiapan membantu proses penyelamatan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan negaranya siap memberikan bantuan apa pun yang dibutuhkan sekaligus menyampaikan solidaritas kepada pemerintah dan rakyat Venezuela.
China menyampaikan komitmen serupa dengan menyatakan siap mengirim seluruh bantuan yang diperlukan sesuai kebutuhan di lapangan.
Kepala Badan Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA), Tom Fletcher, mengatakan tim penyelamat internasional sedang menuju Venezuela untuk membantu pencarian korban yang masih tertimbun reruntuhan.
Ia menyambut baik besarnya dukungan dari berbagai negara.
“Beberapa hari ke depan membutuhkan upaya kolektif dalam skala besar untuk mendukung pemerintah Venezuela dan membantu masyarakat yang terdampak. Dukungan internasional bagi organisasi kemanusiaan di lapangan sangat mendesak,” ujarnya.
Gempa terbesar yang melanda Venezuela sejak 1900 itu memaksa petugas penyelamat dan warga bekerja sepanjang malam mencari korban di antara reruntuhan apartemen dan bangunan yang ambruk.
Bencana tersebut terjadi ketika Venezuela masih menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan. Data PBB menunjukkan sekitar 7,9 juta penduduk atau hampir 28 persen dari total populasi membutuhkan bantuan kemanusiaan. Keterbatasan layanan kesehatan, akses air bersih, pendidikan, hingga pasokan energi masih menjadi persoalan utama bagi jutaan warga.
Sekretaris Jenderal Norwegian Refugee Council, Jan Egeland, menilai gempa bumi itu akan memperburuk penderitaan masyarakat yang selama ini telah hidup dalam kondisi sulit.
“Lebih dari seperempat penduduk Venezuela sudah membutuhkan bantuan mendesak bahkan sebelum gempa terjadi. Kini bencana tersebut menjadi krisis di atas krisis,” katanya.
Ia juga menyoroti minimnya pendanaan bantuan kemanusiaan bagi Venezuela. Dari kebutuhan dana sebesar 632,2 juta dolar AS untuk rencana respons kemanusiaan tahun 2025, baru sekitar 146,9 juta dolar AS atau sekitar 20 persen yang berhasil dihimpun.
Egeland mendesak negara-negara donor segera meningkatkan dukungan agar proses penyelamatan dan pemulihan dapat berjalan optimal.
“Sudah terlalu lama penderitaan rakyat Venezuela terabaikan. Para donor harus segera meningkatkan bantuan karena tidak ada waktu untuk menunda respons terhadap bencana sebesar ini,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan