Ketua JMSI Bali: Kompetensi Analisis Wacana Kritis Kian Strategis bagi Kader Pergerakan di Era Digital
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Kemampuan analisis wacana kritis dinilai menjadi salah satu kompetensi yang semakin strategis bagi kader organisasi pergerakan di tengah pesatnya perkembangan media digital. Di era ketika opini publik banyak dibentuk melalui media massa, media sosial, dan berbagai platform digital, kader dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memahami dan mengkritisi berbagai narasi yang berkembang di ruang publik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Bali, Nyoman Ady Irawan, saat memberikan materi Analisis Wacana dan Media dalam kegiatan Pekan Kaderisasi Dasar (PKD) yang diselenggarakan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Denpasar di Sekretariat KNPI Bali, Minggu (14/6/2026).
Menurut Ady Irawan, medan perjuangan organisasi pergerakan saat ini telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya perjuangan lebih banyak berlangsung melalui forum diskusi, advokasi, dan aksi lapangan, kini pertarungan gagasan juga berlangsung di ruang media dan platform digital.
“Perjuangan kader pergerakan hari ini tidak hanya berlangsung di jalanan atau ruang rapat. Pertarungan gagasan juga terjadi di ruang media. Karena itu kemampuan membaca, memahami, dan menganalisis wacana menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, analisis wacana kritis membantu kader memahami bahwa informasi yang beredar tidak selalu bersifat netral. Setiap berita, narasi, maupun konten media sering kali dibangun melalui sudut pandang, kepentingan, dan konstruksi tertentu yang perlu dibaca secara kritis.
Menurutnya, kemampuan tersebut sangat relevan dengan karakter PMII sebagai organisasi kader yang lahir dari tradisi intelektual dan pemikiran kritis terhadap berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.
“Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa juga dapat membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu isu. Karena itu kader harus mampu melihat realitas di balik teks, memahami siapa yang memproduksi informasi, untuk kepentingan apa, dan bagaimana dampaknya terhadap publik,” jelasnya.
Ady menambahkan, derasnya arus informasi di era digital juga meningkatkan risiko penyebaran hoaks, disinformasi, dan propaganda yang dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat. Kondisi tersebut menuntut kader organisasi pergerakan memiliki literasi media yang kuat agar tidak mudah terjebak dalam narasi yang menyesatkan.
Sementara itu, Ketua Biro Advokasi dan Jaringan Eksternal PMII Kota Denpasar, Angger Bayu Pamungkas, mengatakan bahwa materi analisis wacana dan media sengaja diberikan karena dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis terhadap informasi menjadi kebutuhan dasar bagi kader PMII agar mampu menjalankan perannya sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
“Dinamika media saat ini sangat cepat. Informasi yang belum tentu benar bisa dengan mudah menyebar luas. Melalui materi ini kami berharap kader PMII mampu memilah informasi secara kritis, memahami konstruksi media, serta tidak mudah terpengaruh oleh berita yang mengandung hoaks maupun framing tertentu,” kata Bayu.
Ia menjelaskan, PKD merupakan jenjang kaderisasi kedua setelah Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang bertujuan memperkuat kapasitas ideologis, intelektual, dan kepemimpinan kader. Selain membahas analisis wacana dan media, peserta juga mendapatkan berbagai materi yang dirancang untuk memperkuat nilai dasar pergerakan (NDP), serta wawasan kebangsaan dan kemasyarakatan.
Melalui pembekalan tersebut, PMII Kota Denpasar berharap dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual yang memadai untuk membaca perkembangan zaman, mengawal kepentingan publik, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih kritis dan berdaya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan