Ruang Digital Kian Tak Terkendali, Cendekiawan Muda Dorong Kajian Kritis Media Sosial
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya manipulasi konten digital, perdebatan mengenai pembatasan media sosial kembali menguat. Isu ini tidak lagi sebatas persoalan teknis, melainkan menyentuh dimensi yang lebih luas, yakni menjaga kualitas demokrasi digital tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.
Persoalan tersebut diangkat Jaringan Cendekiawan Muda dalam forum diskusi Bincang Cendekia Vol. 05 bertema “Pembatasan Media Sosial: Solusi Atas Disinformasi atau Ancaman Bagi Ruang Digital?” di Sadjoe Cafe and Resto, Tebet, Jakarta Selatan. Senin (27/4/2026).
Founder Jaringan Cendekiawan Muda, Teddy Chrisprimanata Putra, menegaskan Indonesia yang kini memasuki dekade ketiga reformasi menghadapi tantangan kompleks yang tidak lagi dapat diselesaikan secara sektoral.
“Memasuki dekade ketiga reformasi, kita dihadapkan pada kompleksitas baru. Salah satunya ruang digital yang semakin tidak terkendali. Ini bukan semata persoalan teknologi, tetapi juga persoalan ekosistem,” ujar Teddy.
Ia menjelaskan, dinamika ruang digital saat ini dibentuk oleh tiga faktor utama, yakni demokratisasi akses informasi, percepatan digitalisasi, dan logika kapitalisasi platform.
Menurut dia, kombinasi ketiganya menciptakan ruang yang sangat terbuka, namun minim kontrol kualitas informasi.
“Demokratisasi membuat semua orang bisa menjadi produsen informasi, digitalisasi mempercepat distribusinya, sementara kapitalisasi mendorong platform mengutamakan engagement dibanding akurasi. Ini membuat disinformasi tumbuh subur,” katanya.
Teddy menilai solusi atas persoalan tersebut tidak bisa disederhanakan hanya melalui pembatasan.
“Kita tidak bisa menjawab masalah kompleks dengan solusi simplistik. Pembatasan tanpa pemahaman ekosistem justru berpotensi menimbulkan masalah baru, termasuk pembatasan kebebasan berekspresi,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas sektor dalam membangun ruang digital yang sehat.
“Ke depan, kita membutuhkan kolaborasi antara negara, platform, masyarakat, dan media. Tanpa itu, ruang digital akan terus menjadi ruang liar dan rentan dimanipulasi,” pungkasnya.
Diskusi tersebut menegaskan pembatasan media sosial bukan solusi tunggal. Tantangan ke depan adalah merumuskan kebijakan yang mampu menyeimbangkan pengendalian disinformasi dan perlindungan kebebasan di ruang digital.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan