Negosiasi AS–Iran Mandek, Trump Batalkan Misi ke Pakistan, Hormuz Makin Mencekam
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Upaya damai Amerika Serikat dan Iran kembali buntu. Presiden Donald Trump membatalkan rencana pengiriman delegasi ke Pakistan, sementara ketegangan di Selat Hormuz dan Lebanon terus meningkat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan membatalkan rencana pengiriman delegasi ke Pakistan setelah Iran menolak melakukan pertemuan langsung dengan negosiator AS. Trump mengungkapkan bahwa pembicaraan tetap akan dilanjutkan melalui jalur komunikasi jarak jauh, meski peluang kesepakatan masih belum jelas.
Trump juga menyebut telah menerima proposal baru dari Teheran, namun menilai isinya belum cukup. “Mereka menawarkan banyak hal, tapi itu belum cukup,” ujarnya seperti yang dilansir CNN, Minggu (26/4/2026).
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mempertanyakan keseriusan Washington dalam menempuh jalur diplomasi. Setelah melakukan pertemuan dengan mediator di Oman, ia menyatakan ketidakpastian terhadap niat Amerika Serikat. “Kehadiran militer Amerika di kawasan ini hanya menciptakan ketidakamanan dan perpecahan,” katanya.
Araghchi juga menyampaikan apresiasi kepada Oman atas peran diplomatiknya. Ia menyebut sikap Oman sebagai “bijaksana dalam menghadapi perang yang dipaksakan oleh Amerika dan Israel,” serta menegaskan komitmen Iran untuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara kawasan Teluk.
Sultan Oman, Haitham bin Tariq, turut menyerukan stabilitas kawasan. “Saya berharap perang ini segera berakhir secara pasti dan kita dapat melihat kembalinya stabilitas dan keamanan di kawasan,” ujarnya.
Namun di lapangan, situasi justru semakin memanas.
Selat Hormuz,jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia kini hampir lumpuh. Data pelayaran menunjukkan hanya segelintir kapal yang berani melintas. Iran bahkan menegaskan bahwa jalur tersebut “tidak akan kembali ke kondisi normal dalam keadaan apa pun.”
Kondisi ini mulai berdampak pada ekonomi global, dengan gangguan distribusi energi dan ketidakpastian harga.
Sementara itu, konflik di Lebanon kembali memanas meski gencatan senjata telah diperpanjang. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan militernya tetap akan bertindak tegas.
“Kami beroperasi dengan kekuatan penuh,” ujarnya, sembari menuduh kelompok Hezbollah melanggar kesepakatan.
Serangan balasan pun terjadi. Hezbollah mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pasukan Israel di wilayah selatan Lebanon.
Korban jiwa terus bertambah. Data terbaru menyebut lebih dari 2.400 orang tewas sejak konflik meningkat.
Situasi Makin Kompleks
Upaya diplomasi yang mandek, konflik militer yang terus berlanjut, serta tekanan ekonomi global membuat situasi kawasan Timur Tengah semakin kompleks.
Warga sipil pun menjadi pihak yang paling terdampak.
“Beberapa orang berusaha melindungi keluarga mereka, sementara yang lain mencoba mempertahankan kehidupan normal, meski kehidupan itu semakin rapuh,” ungkap seorang jurnalis foto Iran-Amerika.
Ketika diplomasi tersendat dan konflik terus membesar, dunia kini menanti—apakah jalan damai masih mungkin, atau justru krisis akan semakin meluas.

Tinggalkan Balasan