DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON DC-Ketika dunia khawatir perang Timur Tengah makin meluas, Presiden AS Donald Trump justru memilih menekan tombol jeda. Operasi militer “Project Freedom” di Selat Hormuz dihentikan sementara, tetapi ancaman blokade terhadap Iran belum benar-benar berakhir.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan sementara operasi “Project Freedom”, misi militer AS yang bertujuan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dilansir CNN,Trump mengatakan langkah itu dilakukan demi memberi ruang bagi upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik dengan Iran.

Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain, serta karena adanya kemajuan menuju kesepakatan akhir dengan Teheran.

“Berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer luar biasa selama kampanye melawan Iran, dan kemajuan besar menuju perjanjian lengkap dan final dengan perwakilan Iran,” tulis Trump.

Meski operasi itu dihentikan sementara, Trump menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran tetap berlangsung. Langkah tersebut menunjukkan Washington masih mempertahankan tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran sambil membuka jalur negosiasi.

Baca juga :  Selat Hormuz Memanas, Pemerintah Amankan Kapal Indonesia dan Pasokan BBM

Pengumuman Trump muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan pejabat militer Amerika menyatakan gencatan senjata di Timur Tengah masih bertahan, walaupun konflik belum sepenuhnya berakhir.

“Operasi sudah selesai. Epic Fury seperti yang diberitahukan presiden kepada Kongres tahap itu telah berakhir,” kata Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Rubio menegaskan perdamaian hanya bisa dicapai jika Iran menyetujui tuntutan Washington terkait program nuklirnya serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Uni Emirat Arab menyebut wilayahnya kembali diserang drone dan rudal Iran dua hari berturut-turut.

“Kami lebih memilih jalan damai,” ujar Rubio. Ia juga berharap pemerintah China dapat menekan Iran agar menghentikan penutupan Selat Hormuz saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan ke Beijing.

“Iran harus berhenti menutup selat itu. Itu juga kepentingan China,” kata Rubio.

Sebelumnya, pemerintah AS terlihat masih berupaya membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Rubio menggambarkan operasi tersebut sebagai langkah defensif untuk membantu ribuan pelaut sipil yang terjebak akibat perang.

Baca juga :  Teror di Kediaman Trump: Penyusup Shotgun Tewas Ditembak Agen Secret Service

“Mereka seperti sasaran empuk, terisolasi, kelaparan, dan rentan,” ujarnya.

Pada Senin lalu, militer AS mengklaim telah membuka satu jalur pelayaran dan menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang dianggap mengancam kapal dagang. Namun hingga kini baru dua kapal niaga yang berhasil melewati jalur yang dijaga AS, sementara ratusan kapal lain masih tertahan di Teluk Persia.

Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran telah mengguncang ekonomi global. Jalur tersebut sebelumnya menjadi rute utama pengiriman minyak, gas, pupuk, dan berbagai produk energi dunia. Krisis itu memicu lonjakan harga bahan bakar dan meningkatkan kekhawatiran pasar internasional.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menyebut serangan terbaru Iran belum mencapai level “operasi tempur besar”.

“Gencatan senjata belum berakhir,” kata Hegseth.

Rubio juga menegaskan bentrokan yang terjadi sejauh ini bersifat defensif.

“Tidak ada penembakan kecuali kami ditembak lebih dulu. Kami tidak menyerang mereka,” ujarnya.

Baca juga :  AS Sudah Habiskan Rp400 Triliun untuk Perang Iran, Pentagon: Ini Bukan Perang Gagal

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memberi sinyal bahwa Teheran belum memberikan respons penuh terhadap upaya AS membuka kembali jalur laut tersebut.

“Kami memahami sepenuhnya bahwa keberlanjutan situasi saat ini tidak bisa ditoleransi Amerika; sementara kami bahkan belum benar-benar memulai,” tulisnya di platform X.

Iran juga membantah klaim AS mengenai penghancuran enam kapal Iran. Televisi pemerintah Iran melaporkan dua kapal kargo sipil kecil justru terkena serangan pada Senin, menewaskan lima warga sipil.

Jenderal Dan Caine mengatakan lebih dari 100 pesawat militer AS kini berpatroli di langit Selat Hormuz. Sejak 13 April, Washington memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, yang berdampak besar terhadap pemasukan minyak negara itu.

Di sisi lain, perusahaan pelayaran raksasa Jerman Hapag-Lloyd AG menyatakan jalur Selat Hormuz masih terlalu berisiko untuk dilalui kapal mereka.

“Untuk perusahaan pelayaran dan asuransi, mereka masih harus menunggu bagaimana situasi ini berkembang,” kata analis Timur Tengah Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt.