DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON– “Kalau gagal, kami bombardir lagi.” Pernyataan Donald Trump soal Iran langsung mengguncang pasar dunia dan membuat harga minyak bergejolak.

Upaya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat masih dibayangi ketidakpercayaan mendalam meski muncul optimisme soal kemungkinan tercapainya kesepakatan baru di Timur Tengah. Seorang pejabat Pakistan mengatakan pembicaraan kedua negara hingga kini masih belum memiliki arah yang pasti.

“Masih ada ambiguitas dalam pembicaraan dan belum ada yang benar-benar diputuskan. Situasinya masih 50:50 dan bisa bergerak ke arah mana pun,” kata pejabat Pakistan tersebut.

Menurut dia, pembicaraan substantif baru dapat dimulai apabila Amerika Serikat menghentikan blokade dan Selat Hormuz tetap dibuka.

“Saat AS mengakhiri blokade dan Selat Hormuz tetap terbuka, itu akan menjadi awal pembicaraan yang sebenarnya,” ujarnya seperti yang dilansir dari The Guardian, Kamis (7/5/2026).

Ia menambahkan, selama kedua pihak masih melakukan blokade dan tekanan, proses negosiasi akan tetap sulit berkembang. Karena itu, diperlukan kerangka kesepahaman untuk menghentikan blokade selama 30 hingga 60 hari sebagai langkah membangun kepercayaan.

“Selama masih ada blokade dari kedua pihak, pembicaraan akan tetap sulit. Karena itu, kerangka pemahaman untuk mengakhiri blokade setidaknya 30 sampai 60 hari penting sebagai langkah membangun kepercayaan,” katanya.

Baca juga :  Selat Hormuz Ditutup, Harga BBM Terancam Melonjak: DPR Sebut Beban APBN Bisa Naik Rp10,3 Triliun

Para analis menilai kehadiran pihak penjamin eksternal menjadi faktor penting bagi keberhasilan kesepakatan apa pun antara Teheran dan Washington. Pejabat Pakistan itu mengatakan Iran dan Pakistan sama-sama berharap Cina dapat memainkan peran tersebut.

“Pakistan dan Iran sama-sama ingin Cina menjadi penjamin, tetapi apakah Cina benar-benar punya pengaruh terhadap kedua pihak? Semua orang masih meragukannya,” ujar dia.

Kabar mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan langsung memengaruhi pasar energi dunia. Harga minyak yang sebelumnya melonjak hingga 6 persen pada awal pekan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, justru turun tajam setelah isu negosiasi kembali mencuat.

Meski demikian, banyak pengamat menilai jarak kepentingan antara Iran dan Amerika Serikat masih terlalu lebar sehingga gencatan senjata permanen sulit tercapai dalam waktu dekat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Teheran akan menyampaikan sikap resminya kepada Pakistan setelah “menyelesaikan pandangan mereka”.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya optimistis kesepakatan dengan Iran dapat dicapai sebelum kunjungannya ke Cina.

Baca juga :  Dunia Mulai Guncang! China Bertahan, Tapi Dampak Iran Tutup Selat Hormuz Tak Terbendung

“Saya pikir peluang untuk mengakhiri ini sangat besar, dan jika tidak berakhir, kami harus kembali membombardir mereka habis-habisan,” kata Trump dalam wawancara dengan PBS.

Trump juga bersikeras bahwa Iran harus mengekspor uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ke Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan. Namun para ahli menilai tuntutan itu sulit diterima Teheran karena uranium tersebut merupakan komponen penting dalam pengembangan senjata nuklir.

Perang Iran yang pecah setelah serangan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei kini disebut mulai menemui jalan buntu. Iran mengalami kerugian ekonomi besar dan berpotensi semakin parah jika kapasitas penyimpanan minyak mereka penuh.

Di sisi lain, Trump juga menghadapi tekanan politik di dalam negeri maupun internasional akibat lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat dan dunia.

Pemerintah AS bersikeras bahwa gencatan senjata di Timur Tengah masih bertahan, meski pada Senin terjadi peningkatan kekerasan. Rudal dan drone Iran dilaporkan menyerang Uni Emirat Arab untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir, sementara bentrokan juga dilaporkan terjadi di Selat Hormuz.

Baca juga :  Wanita Iran Dibekuk di AS! Diduga Makelar Drone, Bom dan Amunisi ke Afrika

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Amerika Serikat berhasil mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut dan ratusan kapal komersial kini bersiap melintas.

“Kami tahu Iran malu dengan fakta ini. Mereka mengatakan menguasai selat itu. Faktanya, mereka tidak,” ujar Hegseth.

Penguasaan Selat Hormuz dan ancaman serangan terhadap infrastruktur minyak di kawasan Teluk disebut menjadi dua kartu utama Iran dalam perundingan.

Baik Washington maupun Teheran dinilai sama-sama merasa berada di ambang kemenangan sehingga enggan memberikan konsesi besar untuk melanjutkan pembicaraan.

Harapan tercapainya kesepakatan membuat pasar global merespons positif. Harga minyak Brent turun mendekati US$ 101 per barel, sementara pasar saham di berbagai negara menguat.

Kenaikan harga bahan bakar dan perlambatan ekonomi global kini menjadi ancaman politik bagi Trump menjelang pemilu kongres Amerika Serikat pada November mendatang. Kemenangan Partai Demokrat di salah satu atau kedua kamar kongres diperkirakan dapat melemahkan kekuatan politik Trump.

Namun sejauh ini Trump disebut tetap mengabaikan kekhawatiran domestik. Sejumlah laporan menyebutkan ia lebih fokus mengejar warisan politik yang ingin ditinggalkannya selama menjabat presiden.