DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN- Gencatan senjata AS–Iran belum benar-benar adem. Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru bikin langkah yang memancing reaksi keras. Ia memperpanjang masa gencatan senjata, tapi di saat yang sama tetap mempertahankan blokade terhadap Iran.

Keputusan ini langsung menuai respons tajam dari Teheran. Bagi Iran, langkah Trump dianggap tidak punya arti.

Seorang penasihat senior Iran bahkan menyebut kebijakan tersebut “tidak berarti apa-apa” dan menilai negaranya seharusnya merespons secara militer.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa gencatan senjata diperpanjang hingga Iran menyerahkan proposal untuk mengakhiri konflik secara permanen. Namun, ia juga menegaskan bahwa Amerika tetap akan memblokade pelabuhan Iran.

Baca juga :  Trump Siapkan “Project Freedom” di Hormuz, Kapal Terjebak Diselamatkan, Iran Diingatkan Jangan Ganggu

Langkah ini membuat situasi makin rumit. Di satu sisi bicara damai, di sisi lain tekanan tetap dijalankan.

Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengaitkan situasi ini dengan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia.

“Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup, mereka ingin tetap terbuka agar bisa menghasilkan 500 juta dolar per hari,” tulis Trump.

Ia menuding Iran hanya ingin menjaga citra. “Mereka hanya mengatakan ingin menutupnya karena saya telah memblokade sepenuhnya (menutupnya), jadi mereka hanya ingin ‘menjaga muka’.” tulis Trump lagi.

Trump juga mengklaim ada pihak yang mendekatinya untuk membuka kembali jalur tersebut.

“Ada orang yang mendekati saya empat hari lalu, mengatakan, ‘Tuan, Iran ingin segera membuka Selat itu.’”

Baca juga :  AS dan Iran Kian Panas! Trump Tunggu Jawaban Teheran, Rudal dan Drone Kembali Menghujani Hormuz

Namun, ia memberi peringatan keras jika blokade dihentikan tanpa kesepakatan.

“Namun jika kita melakukan itu, maka tidak akan pernah ada kesepakatan dengan Iran, kecuali kita menghancurkan sisa negara mereka, termasuk para pemimpinnya!”

Pernyataan ini langsung memanaskan suasana. Apalagi sebelumnya Trump sempat mengatakan akan melanjutkan serangan jika kesepakatan tidak tercapai.

Sementara itu, Iran juga tidak tinggal diam. Menteri Luar Negeri Iran menilai blokade yang dilakukan AS sebagai tindakan perang dan pelanggaran gencatan senjata.

Di sisi lain, perwakilan Iran di PBB, Amir Saeid Iravani, menyebut peluang negosiasi tetap terbukadengan satu syarat.

Baca juga :  AS dan Iran Kembali Baku Tembak di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Melonjak

“Segera setelah Washington mengakhiri blokade laut, saya yakin putaran negosiasi berikutnya akan digelar di Islamabad,” ujar Saeid Iravani,.

Namun, rencana perundingan itu sendiri justru tertunda. Wakil Presiden AS JD Vance yang dijadwalkan memimpin pembicaraan di Pakistan membatalkan perjalanannya.

Situasi ini menunjukkan satu hal: konflik belum benar-benar reda.

Di tengah upaya diplomasi, tekanan ekonomi dan ancaman militer masih terus dimainkan. Gencatan senjata yang diperpanjang justru terasa rapuh.

Gencatan senjata AS–Iran kini berada di titik krusial. Damai masih dibicarakan, tapi konflik belum benar-benar berhenti.

Dan di balik semua itu, dunia kembali menahan napas.