DIKSIMERDEKA.COM,WASHINGTON Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tensi geopolitik Timur Tengah. Ia menyatakan dalam “sekitar 10 hari” akan terlihat apakah kesepakatan nuklir dengan Iran bisa tercapai, di tengah penumpukan kekuatan militer AS yang makin masif di kawasan Timur Tengah.

Berbicara dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington, Trump menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan memperingatkan konsekuensi keras bila Teheran terus mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.“Mungkin kita akan membuat kesepakatan, tapi kalian akan tahu dalam kira-kira 10 hari ke depan,” katanyadilansir The Guardian, Jumat ( 20/02/2026).


Kapal Induk Tambahan Bergerak

Sinyal tekanan bukan hanya retorika. Amerika Serikat sudah menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab hampir sebulan dengan sembilan skuadron pesawat tempur, termasuk F-35 dan F/A-18. Kini kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford — kapal perang terbesar di dunia — sedang menuju kawasan Mediterania timur setelah terakhir terdeteksi di Atlantik barat Maroko.

Baca juga :  Perang Iran Bikin Toyota Rugi Rp60 Triliun, Harga Material dan Penjualan Terpukul

Analis militer Royal United Services Institute, Matthew Savill, mengatakan dua gugus tempur kapal induk itu mampu melancarkan

“ratusan serangan udara per hari selama beberapa minggu,”
bahkan dengan intensitas lebih besar dibanding perang 12 hari tahun lalu.

Menurutnya, tanpa kapal kedua pun, pesawat dari Lincoln saja bisa menjalankan lebih dari 125 misi pengeboman per hari jika Washington memutuskan menyerang.


Tekanan Militer Terlihat Nyata

Pengamat penerbangan melacak pergerakan besar pesawat militer AS ke Timur Tengah. Enam pesawat radar E-3 Sentry AWACS kini ditempatkan di pangkalan udara Prince Sultan, Arab Saudi, untuk kendali operasi tempur real time.

Savill mempertanyakan tujuan pengerahan itu. Ia menilai skala kekuatan udara dan laut menunjukkan militer AS memberi Trump opsi melancarkan kampanye pengeboman luas — bukan hanya operasi terbatas terhadap tokoh puncak Iran seperti pemimpin tertinggi Ali Khamenei.


Iran Balas Ancaman

Pemimpin tertinggi Iran sebelumnya mengancam akan menenggelamkan kapal perang AS jika konflik pecah. Misi Iran di PBB bahkan memperingatkan bahwa pangkalan dan aset militer “kekuatan musuh” di kawasan akan dianggap target sah bila terjadi agresi militer.

Baca juga :  Perang Picu Harga Plastik Naik! Greenpeace: Saatnya RI Tinggalkan Plastik Sekali Pakai

Rudal balistik Iran menjadi faktor kekhawatiran utama. Negara itu diperkirakan memiliki sekitar 2.000 rudal dengan puluhan basis peluncuran. Meski pertahanan udara Iran relatif lemah, serangan balasan rudal tetap sulit dicegat sepenuhnya bahkan dengan sistem pertahanan canggih.


Program Nuklir Masih Misteri

Serangan udara AS dan Israel tahun lalu memang melemahkan program nuklir Iran, tetapi tidak menghilangkannya. Para ahli menilai Iran saat ini belum mampu memperkaya uranium dalam skala besar. Namun keberadaan sekitar 440 kilogram uranium dengan kemurnian 60% masih belum jelas lokasinya. Secara teori, jika diperkaya hingga di atas 90%, jumlah itu cukup untuk membuat sekitar 10 senjata nuklir.


Diplomasi atau Serangan?

Utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner sudah bertemu pejabat Iran di Jenewa untuk membahas penghentian program pengayaan uranium. Teheran berjanji akan merespons dalam dua minggu — tenggat yang hampir sejalan dengan ultimatum Trump.

Baca juga :  Trump Ngamuk! Ultimatum Keras ke Iran: Buka Selat Hormuz atau “Neraka Menanti”

Namun rekam jejak Trump menunjukkan tenggat bisa berubah cepat. Tahun lalu ia sempat memberi dirinya dua minggu untuk memutuskan serangan ke fasilitas nuklir bawah tanah Iran, tetapi hanya beberapa hari kemudian langsung melancarkan pengeboman dengan pesawat siluman B-2.

Situasi ini menandai fase paling tegang hubungan AS–Iran sejak konflik bersenjata singkat tahun lalu. Penumpukan militer skala besar biasanya punya dua tujuan: menekan lawan agar mau bernegosiasi atau menyiapkan opsi perang.

Jika kesepakatan tercapai, dunia bisa melihat penurunan ketegangan dan stabilitas energi global membaik. Namun jika gagal, risiko konflik regional meningkat, yang dapat berdampak pada harga minyak, stabilitas Timur Tengah, dan keamanan global.

Trump sedang memainkan strategi tekanan maksimum: satu tangan menawarkan kesepakatan, tangan lain menyiapkan armada perang. Dalam 10 hari ke depan, dunia akan tahu apakah ini jalan menuju damai — atau hitung mundur menuju konflik besar.