DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Pelaku UMKM kembali “dihantam” badai baru. Kali ini datang dari lonjakan harga bahan baku plastik yang dikabarkan bisa tembus hingga 100 persen.

Biang keroknya? Konflik Timur Tengah.

Dampaknya tak main-main. Pelaku usaha kecil mulai megap-megap.

UMKM Terjepit dari Dua Arah

Ekonom UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, langsung angkat suara. Ia menilai kondisi ini bukan sekadar kenaikan biaya biasa.

Ini sinyal bahaya.

“Kita harus menyadari bahwa UMKM Indonesia sangat bergantung pada plastik mulai dari kemasan makanan hingga kantong belanja,” ungkapnya Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, di saat daya beli masyarakat belum pulih, kenaikan ini jadi pukulan ganda.


Biaya Naik, Untung Tergerus

Fakta di lapangan bikin makin miris.Sekitar 60–70 persen biaya produk kuliner UMKM ditentukan oleh bahan baku dan kemasan.Begitu harga plastik naik, margin langsung terkikis.

Baca juga :  Serangan Rudal di Timur Tengah, Pemerintah Pantau 58.873 Jemaah Umrah RI

UMKM terjebak dilema:

  • Harga dinaikkan → pelanggan kabur
  • Harga tetap → rugi

Efek Domino dari Timur Tengah

Wisnu menjelaskan, lonjakan ini bukan terjadi tiba-tiba.Ada efek domino panjang dari konflik global.Pertama, gangguan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.

Ketegangan di sana bikin harga minyak melonjak.Kedua, plastik adalah produk turunan minyak.

Ketika harga minyak naik, bahan baku plastik seperti polietilena dan polipropilena ikut terkerek.

Ketiga, negara produsen energi kini lebih fokus pada bahan bakar.

“Dalam situasi konflik, banyak negara eksportir atau pengolah minyak memprioritaskan ketersediaan bahan bakar untuk transportasi dan pemanas dibandingkan produk turunan petrokimia lainnya. Hal ini menyebabkan berkurangnya dan kelangkaan suplai biji plastik di pasar internasional,” jelasnya.

Baca juga :  Wisata Lebaran 2026 Meledak! Belanja Tembus Rp19,86 Triliun, Ekonomi Langsung Terdongkrak

Ancaman Nyata: Gulung Tikar

Dampaknya makin terasa di level usaha. Biaya produksi (COGS) melonjak, sementara harga jual sulit dinaikkan.

Arus kas mulai seret.

Tak sedikit UMKM memilih berhenti produksi daripada terus merugi.

“Seringkali, shock ekonomi yang berujung penutupan akan lebih lambat lagi pemulihannya,” jelas Wisnu.


Harus Putar Otak, Jangan Diam

Wisnu menegaskan, UMKM tak boleh pasif.

Harus adaptif.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
mengganti kemasan ke bahan alternatif seperti kertas, besek bambu, atau bahan singkong, mendesain ulang kemasan agar lebih hemat, hingga mendorong konsumen membawa wadah sendiri.

“Cara ini bisa mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai,” ungkapnya.

Baca juga :  AI OpenClaw Diserbu Pengguna, Pakar UGM Ingatkan Risiko Kebocoran Data

Pemerintah Jangan Tinggal Diam

Namun, UMKM tak bisa berjuang sendiri.

Peran pemerintah sangat krusial.

Wisnu mendorong kebijakan nyata, bukan sekadar imbauan.

Mulai dari insentif pajak, penghapusan sementara pajak impor bahan alternatif, hingga intervensi harga melalui BUMN.

Selain itu, perlu dorongan riset dan akses kemasan ramah lingkungan yang lebih terjangkau.

“Melalui dinas terkait, memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM tentang cara mengelola keuangan dan strategi pricing di masa krisis energi,” pungkasnya.


Sinyal Krisis Sudah Terlihat

Kenaikan harga plastik bukan isu sepele.

Ini efek langsung dari konflik global yang “merembet” ke dapur UMKM.

Kalau tak segera diatasi, bukan cuma usaha kecil yang tumbang—
ekonomi rakyat bisa ikut goyah.