TKA SMP 2026 Dimulai! Anti Curang, Mendikdasmen Tegas: Bukan Penentu Kelulusan
DIKSIMERDEKA.COM TANGERANG – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMP resmi dimulai. Pemerintah memastikan tes berjalan lancar, kredibel, dan yang paling penting: bebas kecurangan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti turun langsung meninjau hari pertama pelaksanaan di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten. Hasilnya? Secara umum, pelaksanaan dinilai sudah sesuai standar.
“Kesiapan kelas dan penataan teknis sudah sesuai dengan ketentuan. Kita berharap pelaksanaan TKA ini dapat berjalan dengan lancar,” ujar Menteri Mu’ti.
Namun, ada satu hal penting yang ditegaskan. TKA bukan penentu kelulusan. Penilaian akhir tetap menjadi kewenangan sekolah masing-masing.
TKA, kata Mu’ti, hanya berfungsi sebagai alat ukur kemampuan akademik siswa, terutama dalam aspek literasi dan numerasi. Tak hanya itu, tes ini juga dilengkapi survei karakter dan lingkungan belajar.
“Melalui TKA, kita ingin memperoleh profil kemampuan murid yang lebih komprehensif, baik dari sisi akademik maupun karakter. Data ini nantinya menjadi salah satu referensi dalam proses sistem penerimaan murid baru melalui jalur domisili, prestasi, maupun afirmasi,” jelasnya.
Anti Curang, Sistem Diproteksi Sejak Awal
Pemerintah tak mau kecolongan. Sistem pencegahan kecurangan sudah disiapkan sejak awal.
Pelaksanaan TKA dirancang transparan dan akuntabel. Bahkan, Mendikdasmen mengingatkan pentingnya integritas melalui jargon “Jujur dan Gembira”.
“Kerjakan dengan jujur dan gembira, karena ini adalah bagian dari proses, bukan akhir. Selain itu, kami juga mengimbau para pengawas untuk menjalankan tugas secara profesional, tanpa melakukan dokumentasi yang tidak perlu seperti membuat video atau memperbarui status selama pelaksanaan,” tegasnya.
98 Persen Peserta Ikut, Sisanya Absen
Secara nasional, partisipasi siswa pada hari pertama mencapai sekitar 98 persen. Sisanya, sekitar 2 persen, belum mengikuti TKA karena berbagai alasan, mulai dari kesiapan psikologis hingga pertimbangan orang tua.
Menariknya, di SMP Negeri 2 Curug yang dikunjungi langsung, tingkat partisipasi mencapai 100 persen.
TKA Jadi Sistem “Five in One”
Mu’ti juga mengungkapkan bahwa TKA dirancang sebagai sistem “five in one”. Artinya, satu tes bisa menghasilkan lima jenis data penting sekaligus.
Mulai dari kemampuan akademik, literasi, numerasi, karakter, hingga kondisi lingkungan belajar siswa.
Langkah ini diharapkan mampu memberikan gambaran utuh tentang kualitas pendidikan di Indonesia.
Daerah 3T dan Bencana Tetap Terlayani
Pemerintah juga memastikan pelaksanaan TKA tetap berjalan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Skema fleksibel diterapkan. Soal tidak sepenuhnya berbasis daring, sehingga sekolah dengan keterbatasan fasilitas tetap bisa ikut.
Bahkan, untuk sekolah yang terdampak bencana seperti banjir dan kebakaran, disiapkan ujian susulan berbasis komputer.
“Sekolah telah menyiapkan pelaksanaan dengan sebaik-baiknya. Dengan sistem yang ada, kita optimistis pelaksanaan TKA dapat memberikan data yang valid dan akurat sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan ke depan,” pungkas Mendikdasmen.
🏫 Sekolah: Lancar Tanpa Kendala
Kepala SMP Negeri 2 Curug, Purwaningsih, memastikan pelaksanaan hari pertama berjalan mulus.
“Alhamdulillah pada sesi pertama berjalan lancar. Kami menggunakan tiga ruang dengan masing-masing sekitar 20 peserta, sehingga total 60 siswa per sesi. Hari ini dilaksanakan dalam tiga sesi,” ujarnya.
Ia juga memastikan tidak ada gangguan teknis selama pelaksanaan.
“Seperti yang terlihat, tidak ada kendala. Jaringan berjalan baik dan token juga keluar sesuai waktu yang ditetapkan. Mudah-mudahan sampai hari terakhir tetap lancar,” tambahnya.
Siswa: Deg-degan Tapi Penasaran
Salah satu siswa, Heiba Anindya, mengaku sempat gugup saat menghadapi TKA.
“Jujur awalnya takut dan deg-degan, karena ini pengalaman baru bagi kami. Tapi saya juga penasaran dengan soal-soalnya, karena dari cerita kakak kelas ada yang bilang sulit, ada juga yang bilang mudah,” ungkapnya.
Ia mengaku sudah mempersiapkan diri sejak beberapa bulan terakhir.
“Saya mulai belajar dari bulan Desember secara bertahap. Tapi seminggu terakhir sebelum TKA, saya lebih intens belajar untuk memaksimalkan persiapan,” ujarnya.
Dukungan orang tua juga jadi faktor penting.
“Orang tua sangat mendukung, membantu saya belajar dan menyediakan buku-buku latihan. Jadi saya merasa lebih siap,” tambahnya.
Meski bukan penentu kelulusan, Heiba tetap ingin tampil maksimal.
“Walaupun TKA tidak menentukan lulus atau tidak, saya tetap ingin memberikan yang terbaik dan mendapatkan hasil maksimal,” tegasnya.
TKA hadir bukan sebagai momok, melainkan alat ukur baru yang lebih komprehensif. Pemerintah menegaskan, yang dikejar bukan sekadar nilai, tapi gambaran utuh kemampuan siswa.
Dengan sistem yang makin rapi dan pengawasan ketat, TKA diharapkan menjadi pijakan penting untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan