Menuju Green Island, Koster Percepat Energi Bersih dan Kendaraan Listrik di Bali
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster mempercepat transformasi energi bersih dan penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya mewujudkan Bali sebagai green island. Hal tersebut disampaikan dalam pidato satu tahun kepemimpinan Koster.
Dihadapan Sidang Paripurna DPRD Provinsi Bali, Koster menegaskan, kebijakan Bali Mandiri Energi berbasis energi bersih mendapat dukungan penuh dari PT PLN (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dukungan tersebut ditandai dengan masuknya rencana pengembangan kelistrikan Bali dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Koster mengatakan PLN akan membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas dengan total kapasitas 1.550 megawatt (MW) secara bertahap mulai 2026 hingga 2031.
Rinciannya, pembangunan 200 MW di Pesanggaran pada 2026–2027, 450 MW di wilayah perbatasan Denpasar–Gianyar pada 2028–2029, serta dua unit masing-masing 450 MW di Celukan Bawang pada 2030–2031.
Selain pengembangan pembangkit, Pemprov Bali juga mempercepat pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Program ini didorong melalui sosialisasi masif kepada masyarakat dan pelaku usaha, dengan berbagai manfaat seperti penghematan biaya listrik hingga 30 persen per bulan serta penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS atap dengan total kapasitas 250 MW yang melibatkan berbagai pihak, yakni PLN Icon Plus sebesar 100 MW, PLN Indonesia Power sebesar 20 MW, serta sektor swasta sebesar 130 MW.
Pemanfaatan PLTS atap juga diarahkan untuk berbagai fasilitas, mulai dari gedung pemerintah, BUMN/BUMD, hingga bangunan komersial dan pasar.
Di sektor transportasi, Pemprov Bali terus mempercepat penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Koster menyebut, penggunaan kendaraan listrik mampu menghemat biaya operasional hingga 60–70 persen serta lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi.
Sejumlah kawasan seperti Sanur, Kuta, Nusa Dua, Ubud, dan Nusa Penida disiapkan sebagai zona percontohan penggunaan kendaraan listrik. Selain itu, infrastruktur pendukung terus diperkuat melalui pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang kini telah mencapai 140 titik di seluruh Bali.
“Penggunaan energi bersih dan kendaraan listrik menjadi langkah strategis untuk mewujudkan Bali sebagai pulau yang ramah lingkungan,” ujar Koster.
Upaya tersebut juga mendapat dukungan internasional. Pemerintah Korea memberikan hibah berupa 11 unit bus listrik beserta fasilitas pengisian daya, yang saat ini tengah dalam proses perakitan oleh Hyundai dan ditargetkan terealisasi pada November 2026.
Koster optimistis, dengan berbagai langkah tersebut, Bali memiliki peluang besar untuk mencapai kemandirian energi berbasis energi bersih. Selain itu, keberhasilan program ini diyakini akan meningkatkan citra Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan di tingkat global.
“Ini bukan hanya soal energi, tetapi juga masa depan Bali sebagai destinasi dunia yang berkelanjutan dan berdaya saing,” tegasnya.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan