DIKSIMERDEKA.COM,BANDUNG Alarm kesehatan mental pelajar di Kota Bandung berbunyi keras. Dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis terhadap 148.239 siswa pada Agustus–Oktober 2025, tercatat 71.433 pelajar atau 48,19 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa.

Temuan paling tinggi terjadi di jenjang SMP/MTs. Dari kelompok ini, 76,46 persen mengalami gejala ansietas ringan, 7,89 persen ansietas berat, 15,23 persen depresi ringan, dan 7,42 persen depresi berat.

Sementara itu:

  • SD/MI: 43.390 dari 80.724 siswa (53,75 persen) terindikasi masalah kesehatan jiwa, didominasi ansietas dan depresi ringan.
  • SMA/MA: 25,79 persen siswa terindikasi mengalami gangguan serupa.
  • SLB: mencapai 48,51 persen.
Baca juga :  Prodi Pariwisata Unud Gelar Kuliah Tamu Hadirkan Dosen UGM

Data ini memantik perhatian serius berbagai kalangan, termasuk akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).


Generasi Alpha Rentan Tekanan Digital

Psikolog Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, menilai generasi Alpha tumbuh di era digital dengan paparan informasi tanpa batas. Namun, derasnya arus media sosial justru memicu rasa tidak aman (insecurity).

“Dunia maya memberikan insecurity yang sangat besar. Anak-anak semakin banyak tahu, tetapi beberapa informasi justru membuat insecurity semakin tinggi,” ujarnya, Selasa (24/2).

Ia menyoroti pergeseran nilai pada generasi muda. Jika dulu keluarga menjadi pusat pembentukan karakter, kini algoritma media sosial kerap mengambil alih.

Baca juga :  8,6 Juta Murid Ikuti Gladi Bersih TKA 2026, Digelar 9–17 Maret

“Media sosial didominasi hal-hal instan, hedonisme, pamer kekayaan. Jika keluarga tidak menanamkan nilai, maka fungsi itu akan diambil alih oleh dunia maya,” tegasnya.


Peran Keluarga Jadi Kunci

Menurut Diana, pencegahan harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu memahami ciri-ciri kesehatan mental anak: mampu mengenali potensi diri, punya tujuan hidup, bisa mengelola stres, produktif, dan bermanfaat bagi orang lain.

“Orang tua perlu memahami perubahan perilaku anak. Dengan begitu mereka tahu bagaimana memberi pertolongan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga pemerintah dan sekolah.

  • Pemerintah perlu memperkuat edukasi keterampilan berkeluarga.
  • Sekolah perlu menerapkan pendekatan School-Based Mental Health.
  • Layanan kesehatan harus siap ketika kesadaran masyarakat meningkat.
Baca juga :  Sekolah Jadi Pasar, Guru-Murid Bentrok Terus: Sosiologi UGM Bongkar Busuknya Liberalisasi Pendidikan

Bangun Sistem Mental Health Sejak Dini

Diana mendorong pembangunan sistem kesehatan mental berbasis promosi dan pencegahan secara holistik. Upaya ini penting agar generasi muda tumbuh dengan kesehatan emosional yang optimal.

“Kita harus membangun sistem kesehatan mental yang kuat. Jangan sampai generasi kita tumbuh dengan kerentanan yang tidak tertangani,” pungkasnya.

Pesan yang mengemuka jelas: angka hampir 50 persen bukan sekadar statistik, melainkan sinyal darurat yang perlu ditangani bersama