DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR-Indonesia dikenal sebagai negeri megabiodiversitas. Hutan, laut, dan rempah sudah lama jadi kebanggaan. Tapi ada satu kekayaan lain yang luput dari sorotan: mikroba. Jumlahnya luar biasa, potensinya raksasa, tapi pemanfaatannya? Masih jauh dari maksimal.

Hal itu disorot Guru Besar Departemen Biologi FMIPA IPB University, Prof Antonius Suwanto, dalam tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV. Ia menegaskan, mikroorganisme adalah bagian penting kekayaan hayati Indonesia yang belum digarap serius.

Sekitar 95 persen dunia mikroorganisme itu masih menjadi misteri. Ini peluang besar bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Menurut Prof Antonius, manusia sejatinya baru “kenal” mikroba sekitar 300 tahun lalu, sejak Antonie van Leeuwenhoek menemukan mikroskop. Dari situlah revolusi ilmu pengetahuan dimulai.

Dengan ditemukannya mikroorganisme, kemudian berkembanglah ilmu genetika hingga penemuan DNA,” jelasnya.

Menariknya, sejarah ilmu pengetahuan modern Eropa juga punya kaitan dengan Nusantara. Prof Antonius mengaitkan kemajuan riset di Belanda dengan limpahan rempah Indonesia pada masa VOC.

Kesejahteraan yang diperoleh Belanda dari rempah Nusantara memungkinkan lahirnya berbagai penemuan penting, termasuk mikroskop,” katanya.

Ironisnya, kini giliran Indonesia yang justru belum optimal memanfaatkan kekayaan hayatinya sendiri. Padahal, secara geografis dan ekologis, Indonesia adalah surga mikroba. Dari tanah pertanian, laut dalam, pegunungan, hingga lingkungan ekstrem seperti mata air panas.

Bakteri dan fungi itu sudah ada jauh sebelum manusia dan menghuni hampir semua tempat,” ujarnya.

Prof Antonius mencontohkan mikroba ekstremofil yang hidup di suhu tinggi. Mikroba jenis ini menghasilkan enzim tahan panas yang sangat bernilai industri.

Enzim untuk PCR yang banyak digunakan, termasuk saat pandemi COVID-19, berasal dari bakteri yang hidup di mata air panas,” jelasnya.

Sayangnya, riset mikroba di Tanah Air masih banyak berhenti di meja laboratorium. Belum banyak yang naik kelas ke industri.

Sayang sekali kalau potensinya besar tetapi berhenti di laboratorium. Ini perlu strategi riset yang kuat,” katanya.

Padahal, pemanfaatan mikroba relatif ramah lingkungan. Mikroorganisme bisa dikembangkan dalam jumlah kecil atau hanya diambil DNA-nya, tanpa merusak alam. Mikroba juga berperan penting dalam kesehatan manusia, hewan, dan tanaman melalui ekosistem mikrobioma.

Bahkan, mikroba bisa menjadi jawaban atas persoalan lingkungan akut seperti sampah plastik.

Bakteri tertentu bisa diisolasi dan dimanfaatkan untuk menguraikan plastik secara lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Di akhir perbincangan, Prof Antonius mengajak generasi muda untuk berani masuk ke dunia yang selama ini luput dari sorotan.

Cobalah mengeksplorasi dan meneliti mikroorganisme. Masih sangat banyak yang belum kita pahami, dan di sanalah peluang penemuan baru berada,” tuturnya.

Nusantara sudah kaya. Tinggal mau serius menggali—atau terus membiarkan harta karun mikroba ini tersembunyi.