DIKSIMERDEKA.COM, GIANYAR – Kabupaten Gianyar mencatat sejarah sebagai daerah pertama di Bali yang sukses menjalankan program beasiswa “Satu Keluarga Satu Sarjana” secara terstruktur dan masif. Sebanyak 1.400 anak muda Gianyar lolos seleksi dan akan melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi ternama, termasuk ITB, UGM, IPB, hingga Poltekkes Surakarta.

Program ini diluncurkan secara resmi dalam acara Pelepasan Penerima Beasiswa Gianyar Aman dan LPK, Selasa (9/7), di Kantor Bupati Gianyar. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Gianyar I Made Mahayastra.

Koster: Gianyar Jadi Contoh, Kabupaten Lain Harus Menyusul

Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi Gianyar yang dianggapnya menjadi pelopor program pendidikan afirmatif di Bali. Ia mendorong 8 kabupaten/kota lain untuk mengikutinya.

“Kalau semua kabupaten/kota menyiapkan 500 kuota, ditambah Gianyar 1.000 dan provinsi 2.000, maka sedikitnya 6.000 mahasiswa miskin bisa dibiayai setiap tahun,” kata Koster.

Menurutnya, program ini bukan sekadar beasiswa, melainkan gerakan keadilan sosial dan investasi masa depan Bali. Ia menargetkan angka partisipasi kuliah di Bali naik dari 38% menjadi 50%, menyalip rata-rata nasional.

Baca juga :  Mungkinkah Pemprov Bali Membentuk Dana Abadi Beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana

Beasiswa Transparan, Bukan Proyek

Dalam sambutannya, Bupati Mahayastra menegaskan bahwa skema beasiswa ini bersifat langsung dan tanpa proyek. Dana bantuan ditransfer langsung ke rekening mahasiswa dengan rincian: UKT dibayar penuh, uang makan Rp50.000 per hari, uang kos Rp1 juta per bulan, dan bantuan pembelian laptop hingga Rp15 juta.

“Program ini bukan proyek. Tidak boleh ada markup. Satu rupiah pun harus bermanfaat langsung bagi mahasiswa,” tegas Mahayastra.

Mahasiswa juga bebas memilih sendiri laptop yang dibutuhkan. Jika harganya di bawah plafon, kelebihan dana dikembalikan ke kas daerah.

Pemprov Siapkan Skema Kuliah Gratis di 20 PTS

Untuk memperkuat gerakan ini, Pemprov Bali menggandeng 20 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk memberikan kuliah gratis tanpa pungutan, dengan memanfaatkan skema UKT, KIP Kuliah, serta bantuan APBD Provinsi.

Bantuan juga diberikan untuk mahasiswa rantau berupa uang kos Rp1,4 juta per bulan. Proses seleksi dilakukan dengan verifikasi langsung ke rumah calon penerima agar tepat sasaran dan bebas KKN.

Baca juga :  Genjot Program Satu Keluarga Satu Sarjana, Koster Target APK Perguruan Tinggi Tembus 50 Persen

Tak hanya jalur akademik, lulusan SMA/SMK yang memilih jalur vokasi juga mendapat perhatian. Tahun ini, 60 siswa dibiayai mengikuti pelatihan 1 tahun di LPK dengan dana APBD Gianyar. Sebelumnya, 10 siswa dikirim lewat CSR BPD Bali.

Dari Anak Desa Jadi Pemimpin Daerah

Di hadapan ribuan hadirin, Gubernur Koster membagikan kisah inspiratif masa kecilnya. Ia tumbuh dari keluarga petani miskin di Buleleng yang harus menjual ayam dan sapi demi bisa kuliah di ITB.

“Saya dari rumah tanah, tapi karena kerja keras bisa bertahan kuliah di Bandung. Kalau saya bisa, anak-anak Bali juga pasti bisa!” ujar Koster yang disambut tepuk tangan meriah.

Ia menegaskan, program ini bukan ajang pencitraan, melainkan kerja gotong royong lintas pemerintahan untuk menyiapkan generasi emas Bali 2030.

Baca juga :  Gubernur Koster Kumpulkan Rektor Bahas Skema Program Satu Keluarga Satu Sarjana

“Kalau ini dijalankan serius, maka kita akan punya puluhan ribu sarjana baru yang siap kerja, siap menciptakan lapangan kerja, dan tidak bergantung pada orang tua,” tegasnya.

Mahasiswa: Beasiswa Ini Bukan Sekadar Bantuan

Salah satu penerima beasiswa, Made Panji Sentana, alumni SMAN 1 Sukawati yang lolos di Program Kedokteran Hewan IPB University, menyampaikan rasa syukur dan tekadnya.

“Beasiswa ini bukan hanya bantuan finansial, tapi amanah dan tanggung jawab moral,” ujar Panji.

Ia menyebut program ini dengan akronim AMAN: Astungkara, Mensyukuri, Aktif, dan Negara. Panji berjanji akan menjawab kepercayaan ini dengan prestasi nyata, dan berharap makin banyak anak muda Bali mendapatkan kesempatan serupa.

Harapan Besar dari Gianyar untuk Bali

Program “Satu Keluarga Satu Sarjana” kini telah melampaui status kebijakan lokal. Gianyar menjadi contoh bahwa akses pendidikan tinggi bisa diwujudkan tanpa diskriminasi, membuka jalan bagi seluruh anak Bali untuk meraih masa depan yang lebih cerah.