Dikatakan Berkonflik Gara-Gara Kuburan, Kelian Adat Tista: ‘Saya Hanya Bisa Tersenyum’
DIKSIMERDEKA.COM, BULELENG, BALI – Kelian Desa Adat Tista Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng Jro Nyoman Supardi MP, S.H., M.Si., mengaku hanya bisa tersenyum atas pemberitaan adanya polemik kuburan antara Desa Adat Bangkang dan Desa Adat Tista yang dikabarkan saling klaim dan warganya bersitegang.
Sebagai Kelian Adat Desa Tista, pihaknya merasa tidak ada konflik, membantah dikatakan membangkang. Begitu juga ketika munculnya rumor tidak ada koordinasi dalam upaya memperbaiki areal kuburan milik dua desa adat setempat.
“Itu tidak benar. Apa mungkin seorang saya melakukan kegiatan dan tau bahwa itu kuburan masih status milik dua desa adat membangkang? Sebelumnya saya sudah membuat surat meminta permakluman untuk dapat memperbaiki kuburan agar terlihat asri, nyaman, bersih dan aman. Namanya koordinasi kan tidak semuanya harus konteksnya langsung. Surat itu juga ditujukan ke Kelian Adat Bangkang,” ungkap

Jro Nyoman Supardi, Jumat (12/02).
Jro Nyoman Supardi menjelaskan, sehari sebelum pelaksanaan proyek dijalankan, dikatakan pihaknya ditemui warga bernama Made Astawa. Dan mengaku sebagai utusan perwakilan masyarakat Desa Adat Bangkang. Mempertanyakan terkait rencana pembangunan proyek penataan kuburan.
“Saya paparkan karena dia mengaku sebagai utusan. Tentang rencana saya membuat jalan untuk menata kuburan itu agar terlihat asri, bersih aman dan nyaman. Bahkan saya sampaikan, kuburan kita ini sudah tergerus terjadi abrasi. Dan dia mengatakan setuju sekali dan menyambut positif. Mengatakan selaku warga Bangkang sangat menerima ‘silahkan bli lanjutkan saya dukung’,” paparnya.
Lebih lanjut Jro Nyoman Supardi meminta agar disampaikan kepada Kelian Desa Bangkang jika memang disetujui dan dianggap baik. Dan sekalian pihaknya meminta sekiranya ada tenaga bisa membantu.
“Besoknya berjalanlah proyek. Sedikitpun saya tidak ada prasangka terjadi penyetopan. Tiba-tiba dikabarkan terjadi konflik, saya merasa tidak pernah berkonflik. Saya langsung ke kuburan dan sudah ada Pecalang menyetop dan sebagainya terkesan gawat. Sementara lucunya warga saya yang ikut memiliki kewidangan tidak ada reaksi. Dan pada saat itu oke, tukang tidak jadi bekerja dan material barang saya kembalikan.
“Saya tanya Kelian Adatnya katanya perintah Perbekel suruh menghentikan sebelum ada mediasi. Saya bingung, dimediasi apanya karena saya tidak pernah merasa konflik. Sesampai di rumah saya menelpon Kapolsek Kota Singaraja, menyatakan permakluman menyangkut rencana mediasi yang akan dilakukan oleh perbekel tidak hadir.”
“Dan juga saya berpikir kompeten Perbekel ngapain memediasi, karena ini persoalan adat. Pantas untuk memediasi adalah Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng. Dan mengingat langkah saya lakukan itu sangat luhur dan mulia,” lanjut Jro Nyoman Supardi menerangkan.
Jro Nyoman Supardi pun mengaku heran. Mengapa rencana baik untuk menata Setra dipermasalahkan seperti demikian. Padahal diungkap anggaran proyek rencana penataan kuburan dibantu para donatur.
“Makanya saya heran, harusnya dari pihak Desa Adat Bagkang mengucapkan syukur dan terima kasih. Dan menyumbangkan tenaga untuk bisa membantu, itu kuburan milik kita bersama. Setelah saya cek warga masyarakat di sana damai tenang. Dari kejadian ini kita dapat belajar. Terkadang niat baik belum tentu bisa diterima dengan baik,” tutup Jro Nyoman Supardi. (*)

Tinggalkan Balasan