DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Banjir yang melanda masyarakat Pemogan, Denpasar Selatan di tengah masa pandemi Covid-19, pada Minggu (31/6) lalu turut mengungkap adanya berbagai persoalan baru. Pembangunan saringan sampah di waduk Muara Nusa Dua yang kurang baik disinyalir jadi pemicu meluapnya air ke pemukiman warga.

Bahkan disebut-sebut, banjir terjadi semakin parah semenjak dibangunnya bangunan penahan sampah di mura yang berada di wilayah lingkungan Banjar Gelogor Carik, Pemogan, Denpasa Selatan itu.

Terkait hal tersebut, Kelian Dinas Banjar Gelogor Carik I Ketut Budiarta mengatakan, saat pembangunan waduk Muara Nusa Dua dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) di tahun 2017 mengaku sempat mendatangi mereka. Bahkan warganya sempat dijanjikan pekerjaan sebagai wilayah berdampingan dengan waduk dan Perumda Tirta Mangutama (PDAM) Badung.

Baca juga :  Tanggulangi Banjir Pemogan, BWS Bali-Penida Siapkan Kajian

“Pernah dulu saya didatangi kurang lebih 3 orang dari BWS saat akan dibangun proyek waduk. Bilang akan bekerjasama dengan banjar terdekat dan juga dijanjikan akan menyerap tenaga kerja dari wilayah kami. Namun sampai detik ini tidak ada datang lagi sampai proyek waduk selesai dan malah menimbulkan banjir,” terang Jarot panggilan akrabnya, Selasa (9/6).

Ketua Forum Kadus Pemogan ini mengatakan keberadaan pembangunan waduk agar dikaji ulang. Selain itu pihak dari PDAM Badung diminta agar bisa peka terhadap lingkungan sekitar perusahaan.

“Kalau tidak ada Covid -19 kami dari 17 Banjar mungkin sudah melakukan silaturahmi bertanya ke BWS dan PDAM Badung. Hal itu kami lakukan lantaran sudah merasa bosan adanya banjir. Kalau ini dibiarkan takutnya ke depan terjadi pergolakan di masyarakat. Pemerintah harus tanggap dengan keluh masyarakat ini,” tegasnya.

Baca juga :  Banjir Pemogan, BWS: Perlu Sinergi Serius Pemerintah Tanggulangi Sampah

Lebih lanjut dikatakan Jarot ketika banjir baru-baru ini melanda Desa Pemogan ada 5 banjar terendam air. Banjar Gelogor Carik, Banjar Sakah, Banjar Kajeng, Banjar Rangkan termasuk Banjar Teruna Bhineka dan Banjar Mekar. Dikatakan paling parah dari akibat banjir ini adalah Banjar Gelogor Carik. Banyak kendaraan terendam dan kerugian materi belum bisa diberikan keterangan.

“Sekarang sudah 10 harian bagaimana warga di tengah ekonomi sulit mengalami musibah seperti ini. Dan faktanya sampai detik hari ini pemerintah dan anggota dewan tidak ada yang turun,” singgung Jarot.

Sebelumnya Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumdam) Tirta Mangutama Kabupaten Badung, I Ketut Golak mengatakan selama ini memang belum ada kontribusi sosial perusahaan diberikan kepada masyarakat Denpasar Selatan. Terutama ada di sekitar lingkungan Waduk Muara Nusa Dua, berdirinya tempat usaha pengolahan air Perumda Tirta Mangutama Badung.

Baca juga :  Hujan Tiba Banjir Melanda, Nasib Warga Pemogan Kian Merana

Menurutnya, kontribusi sosial perusahaan baru tersalurkan bagi warga masyarakat Kabupaten Badung. Namun, ia mengaku siap jika nantinya diminta turut memperhatikan masyarakat yang ada di Kota Denpasar terutama Desa Pemogan. Hal ini lantaran memang lokasi usaha perusahaan dipimpinnya ada di perbatasan.

“Sementara ini memang belum ada (kontribusi sosial terhadap masyarakat Pemogan, red) tapi pasti kita akan berpikir ke arah sana. Karena kita ada regulasi dan aturan harus kita perhatikan dan taati. Harus direncanakan yang matang,” ungkapnya. (wan/dhi)