Konser Kanye West Kandas di Rusia Buntut Tuduhan Pemujaan Hitler
DIKSIMERDEKA.COM MOSKOW Langkah rapper kontroversial Amerika Serikat, Kanye West, untuk unjuk gigi di Rusia akhirnya kandas. Rencana menggelar dua pertunjukan yang tiketnya sudah ludes terjual di St. Petersburg resmi dibatalkan. Penyebabnya tak main-main: sang musisi dianggap memuja Adolf Hitler.
Penyanyi yang kini menyapa dirinya dengan nama Ye tersebut sejatinya dijadwalkan mengguncang Gazprom Arena, St. Petersburg, pada 10 dan 11 Oktober mendatang. Namun, setelah berminggu-minggu didera simpang siur, pihak penyelenggara akhirnya angkat bendera putih.
Melalui unggahan di aplikasi pesan Telegram pada hari Kamis, promotor Say Agency memastikan bahwa pertunjukan tersebut tidak akan dilanjutkan.
“Teman-teman, dengan penyesalan yang tulus kami informasikan bahwa konser Ye di St Petersburg pada tanggal yang dijadwalkan tidak akan dapat berlangsung,” tulis agensi yang berbasis di Moskow tersebut.
Pihak agensi berjanji akan segera merilis pernyataan resmi mengenai status proyek dan rencana ke depan. “Say Agency sangat berterima kasih kepada semua orang yang telah berada di sisi kami selama satu setengah bulan terakhir: mendukung kami, mengkhawatirkan, dan, seperti kami, menantikan konser ini dengan sepenuh hati. Kami tetap menjalin komunikasi dan terus bekerja.”
Uang tiket penonton dijanjikan mulai bisa di-refund pada Senin, 12 Oktober, lengkap dengan aturan dan syarat pengembaliannya.
Penolakan Keras dari Moskow dan Jejak ‘Nazi’ Sang Rapper
Pembatalan ini nyatanya merupakan puncak gunung es dari rentetan kebingungan yang terjadi. Pada awalnya, Gazprom Arena dengan bangga menggembar-gemborkan konser tersebut di media sosial dan melabeli Ye sebagai “artis musik paling berpengaruh di zaman kita”.
Ironisnya, pada bulan Agustus—tepat setelah tiket ludes—pihak arena tiba-tiba buang badan. Mereka mengklaim belum menandatangani perjanjian sewa stadion dengan promotor, sehingga konser tak bisa digelar di lokasi tersebut. Pihak arena menegaskan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas pemesanan dan mengakui telah menerima banyak keluhan terkait pertunjukan itu.
Keluhan itu rupanya sampai ke telinga petinggi negara. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, secara terbuka melabeli rencana konser tersebut sebagai hal yang tidak dapat diterima karena adanya unsur “glorifikasi” (pemujaan) Hitler oleh Ye.
Politikus Rusia, Nikolay Novichkov, bahkan mendesak agar musisi tersebut diselidiki atas pujiannya terhadap Hitler. Ia menegaskan konser harus dibatalkan kecuali Ye secara terbuka mendeklarasikan “dukungan moral untuk Rusia dan operasi militer khusus”—sebuah istilah resmi yang dipakai Moskow untuk invasinya ke Ukraina.
Jejak kontroversi Ye memang tebal. Tahun lalu, ia nekat menjual kaus bergambar swastika dan merilis lagu berjudul Heil Hitler. Pada Januari lalu, ia sempat menyewa iklan satu halaman penuh di Wall Street Journal untuk meminta maaf dengan judul: “Untuk Mereka yang Telah Saya Sakiti.”
“Saya bukan seorang Nazi atau antisemit. Saya mencintai orang-orang Yahudi,” tulisnya kala itu. Ia berkilah bahwa gangguan bipolarnya telah membuatnya jatuh ke dalam “episode manik selama empat bulan dari perilaku psikotik, paranoid, dan impulsif yang menghancurkan hidup saya”.
Menabrak Boikot Global
Rencana awal Ye untuk manggung di Rusia sebenarnya sangat berani karena menabrak sanksi dan seruan boikot budaya global yang dijatuhkan sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.
Di Eropa Barat, Ye juga terus mendapat panggung penolakan. April lalu, pertunjukannya di Prancis ditunda setelah ia ditolak mendapatkan visa Inggris, yang berujung pada batalnya penampilan utamanya di festival Wireless London buntut komentar antisemitnya. Pada bulan Juli, konser Ye di festival Pulse of Gaia di Reggio Emilia, Italia, juga dihentikan oleh otoritas setempat setelah muncul “kekhawatiran” dari komunitas Yahudi lokal.
Meski diterpa badai penolakan bertubi-tubi, basis penggemar Ye rupanya masih solid. Konser besar pertamanya di AS dalam lima tahun terakhir sukses digelar di Los Angeles pada bulan April. Ia juga tetap laris manis tampil di hadapan lautan massa di Turki, Belanda, Georgia, Albania, Portugal, dan Kazakhstan.
Bahkan, jadwal tur untuk mendukung album solo ke-12 miliknya bertajuk Bully (dirilis Maret) masih terus berlanjut, dengan jadwal berikutnya membidik pasar Amerika Serikat dan Indonesia. Namun untuk tanah Rusia, pintu bagi Ye dipastikan sudah tertutup rapat.

Tinggalkan Balasan