BEOGRAD DIKSIMERDEKA.COM – Keadilan seolah ditampar telak di Beograd, ibukota Serbia. Ratko Mladić, mantan jenderal Serbia yang tangannya berlumuran darah ribuan rakyat Bosnia tak berdosa, justru diantar ke liang lahat layaknya pahlawan besar. Pemakaman pria yang dijuluki “Jagal Bosnia” ini diiringi upacara militer yang megah dan dihadiri ribuan simpatisan, memicu kemarahan komunitas internasional, khususnya Uni Eropa.

Ratko Mladić meninggal dunia di penjara pada akhir Agustus dalam usia 84 tahun. Ia sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dunia mengingatnya sebagai dalang utama genosida Srebrenica tahun 1995, di mana sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosniak dibantai secara sadis setelah pasukan Serbia Bosnia menyerbu wilayah kantong yang ditetapkan PBB tersebut. Ini adalah pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.

Alih-alih dikuburkan dengan proses pemakaman biasa, Mladić justru dipuja. Pekan lalu, peti matinya diterbangkan ke Serbia menggunakan pesawat pemerintah, dibalut bendera nasional, dan ditandu oleh tentara berseragam.

Pada Senin (7/9) pagi, ribuan orang berkerumun di depan sebuah gereja kecil di ibu kota Serbia. Pasukan bersenjata mengawal peti matinya, di mana topi militer khasnya dan sebuah pedang diletakkan di atasnya. Deretan medali pun dipamerkan di depan peti.

Baca juga :  Dampak Perang Iran, Uni Eropa Boncos Rp9 Triliun per Hari untuk Biaya Energi

Patriark Gereja Ortodoks Serbia, Porfirije, secara terbuka menyanjungnya dalam upacara tersebut.

“Kami tahu bahwa namanya akan tetap terukir dalam ingatan dan doa sebagian besar umat Ortodoks Serbia kami, yang merasakan dan memelihara rasa terima kasih yang mendalam kepadanya,” ujar Porfirije.

Usai prosesi keagamaan, peti mati diarak menuju pemakaman, di mana Mladić dikuburkan dengan penghormatan militer, lengkap dengan tembakan salvo tiga kali ke udara. Sehari sebelumnya, para penggemar sepak bola garis keras di Beograd bahkan membentangkan spanduk raksasa bergambar wajahnya dan meneriakkan namanya di stadion.

Uni Eropa Menampar Keras Manuver Serbia

Pesta pora militeristis ini langsung memicu reaksi pedas dari Uni Eropa (UE). Komisaris Perluasan UE, Marta Kos, merespons keras dengan membatalkan jadwal kunjungannya ke Serbia yang rencananya digelar Jumat mendatang.

“Kembalinya jenazahnya ke Beograd mengingatkan Eropa pada halaman-halaman paling gelap dalam sejarah kita baru-baru ini,” tegas Kos melalui media sosial.

Baca juga :  Bundaran Rp24 Miliar di Hungaria Jadi Sorotan, Dibangun Tapi Tak Terpakai

Kos memperingatkan bahwa glorifikasi ini bisa menjadi batu sandungan fatal bagi negosiasi keanggotaan Serbia di Uni Eropa yang sudah mandek sejak 2014.

“Pengagungan seputar kematian [Mladić] tidak sejalan dengan nilai-nilai yang menjadi dasar jalur UE. Jalur tersebut membutuhkan konfrontasi dengan masa lalu, rekonsiliasi yang tulus, dan penghormatan terhadap para korban kejahatan perang,” imbuhnya.

Peringatan serupa juga digemakan oleh juru bicara Uni Eropa pada hari Senin.

“Setiap pengagungan penjahat perang, penolakan genosida, dan revisionisme bertentangan dengan nilai-nilai Eropa yang paling mendasar dan tidak memiliki tempat di UE atau di negara-negara kandidat UE,” tegasnya melalui pernyataan resmi.

Akal-Akalan Politik Vučić di Tengah Krisis Domestik

Meski pemakaman hari Senin itu tidak dilabeli sebagai “pemakaman kenegaraan”—kemungkinan besar akal-akalan untuk menghindari sanksi internasional yang lebih berat—skalanya jelas mencerminkan campur tangan negara dengan hadirnya delegasi militer dan kepolisian dalam jumlah besar.

Presiden Serbia, Aleksandar Vučić, seorang pemimpin ultranasionalis yang sudah mendominasi politik Serbia selama lebih dari satu dekade, mengaku memiliki “agenda lain” sehingga tidak hadir. Namun, putranya, Danilo, tampak hadir bersama sejumlah menteri kabinet Serbia dan Duta Besar Rusia untuk Serbia. Bulan lalu, Vučić bahkan sempat mendesak PBB agar Mladić dibebaskan lebih awal dari tahanan Den Haag agar bisa mati di tanah Serbia.

Baca juga :  Zelensky Ngotot! Minta Jaminan Keamanan 20 Tahun dari AS Sebelum Teken Damai

Di era 1990-an, saat Mladić sibuk membantai etnis non-Serbia demi ambisi “Serbia Raya”, Vučić muda merintis karier politiknya di partai nasionalis sayap kanan ekstrem. Kini, Vučić sedang menghadapi guncangan domestik hebat. Kemarahan publik meledak menyusul tragedi ambruknya atap stasiun kereta api pada tahun 2024 yang menewaskan 16 orang, memicu tuduhan korupsi massal yang mengancam kekuasaannya.

Untuk menyelamatkan muka dan meredam protes, pemerintah Serbia pada hari Senin mengumumkan rencana untuk membubarkan parlemen dan menggelar pemilihan umum (Pemilu) sela, satu tahun lebih cepat dari jadwal semula pada Desember 2027.

Terkait hal ini, Perdana Menteri Djuro ‌Macut berdalih, “Jika kita ingin meredakan ketegangan di masyarakat, tidak ada cara yang lebih baik daripada bertanya kepada rakyat.” Namun, membiarkan seorang penjagal dirayakan sebagai pahlawan jelang Pemilu jelas menjadi sinyal berbahaya bagi wajah demokrasi Serbia di mata dunia.