Dampak Perang Iran, Uni Eropa Boncos Rp9 Triliun per Hari untuk Biaya Energi
DIKSIMERDEKA.COM LONDON-risis energi kembali menghantam Eropa. Dampaknya tak main-main. Biaya melonjak, industri tertekan, dan ancaman resesi mulai menghantui.
Uni Eropa langsung bergerak cepat. Sejumlah langkah darurat disiapkan untuk menahan dampak lonjakan harga energi akibat konflik Iran.
Komisi Eropa menegaskan, situasi ini menjadi pukulan kedua dalam lima tahun terakhir setelah krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina.
“Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari lima tahun, warga Eropa harus membayar harga dari ketergantungan pada bahan bakar fosil impor,” demikian pernyataan resmi Komisi Eropa.
Melansir laporan CNN Business, dampaknya sudah terasa. Sejak konflik Iran pecah, Uni Eropa harus merogoh kocek sekitar Rp480 triliun hanya untuk menutup lonjakan biaya energi.
Angka itu setara dengan lebih dari Rp9 triliun per hari—tanpa tambahan pasokan energi sedikit pun.
“Tanpa menerima satu molekul energi tambahan pun,” tegas Komisi Eropa.
Sebagai langkah darurat, Uni Eropa akan membentuk badan khusus lintas negara untuk mengantisipasi kelangkaan bahan bakar, termasuk avtur dan diesel.
Badan ini juga akan mengoordinasikan distribusi energi darurat antarnegara anggota.
Peringatan keras datang dari sektor penerbangan. Potensi kelangkaan bahan bakar pesawat mulai terlihat.
Direktur Jenderal ACI Europe, Olivier Jankovec, mendesak kebijakan cepat.
“Negara-negara Uni Eropa harus segera menangguhkan pajak penerbangan untuk meredam dampak kenaikan harga,” ujarnya.
Jika tidak, dampaknya bisa meluas ke ekonomi.
Penurunan penerbangan akan memukul sektor pariwisata—salah satu tulang punggung ekonomi Eropa.
Dampak Meluas ke Industri
Krisis energi mulai menjalar ke berbagai sektor.
Harga bahan bakar naik. Harga makanan ikut terdorong. Tiket pesawat makin mahal.
Maskapai Lufthansa bahkan mengambil langkah ekstrem.
Mereka memangkas 20 ribu penerbangan hingga Oktober demi menekan biaya operasional.
“Harga bahan bakar pesawat telah dua kali lipat sejak konflik Iran dimulai,” ungkap pihak Lufthansa.
Di sektor lain, nelayan mulai berhenti melaut.
Biaya energi dan bahan baku melonjak drastis, membuat usaha tak lagi menguntungkan.
Komisi Eropa pun turun tangan.
“Orang-orang yang membawa makanan laut ke meja kita layak mendapatkan dukungan penuh ketika krisis di luar kendali mereka mengancam mata pencaharian,” ujar Costas Kadis.
Ancaman PHK dan Resesi
Industri kimia juga terpukul.
Perusahaan raksasa seperti BASF menaikkan harga produk hingga lebih dari 30 persen.
Asosiasi Industri Kimia Jerman menyebut kondisi ini sebagai pukulan berat.
“Perang Iran memberikan pukulan signifikan terhadap harapan pemulihan ekonomi tahun ini,” ujarnya.
Bahkan, ancaman penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja mulai terlihat.
“Akibatnya, penutupan produksi lebih lanjut dan pemangkasan tenaga kerja kemungkinan akan terjadi,” lanjutnya.
Ekonom Capital Economics, Neil Shearing, memberi peringatan serius.
Eropa berpotensi masuk resesi jika konflik terus berlanjut dan pasokan energi semakin terganggu.
Inggris Ikut Terdampak
Dampak krisis juga terasa di Inggris.
Inflasi kembali naik setelah harga bahan bakar melonjak.
Ekonom PwC, Adam Deasy, menyebut ini baru awal.
“Ini baru gelombang pertama dari guncangan energi, yang saat ini terlihat pada kenaikan harga bahan bakar,” ujarnya.
Ia mengingatkan, dampak lanjutan masih akan datang.
“Kita belum melihat dampak lanjutan dari tekanan harga pada produk turunan minyak dan gas seperti pupuk, plastik, atau logam,” tambahnya.
Penutup
Krisis energi global kini bukan sekadar ancaman.
Dampaknya sudah nyata. Biaya membengkak, industri tertekan, dan ekonomi mulai goyah.
Uni Eropa bergerak cepat. Tapi jika konflik terus memanas, krisis ini bisa jauh lebih besar.

Tinggalkan Balasan