JAKARTA DIKSIMERDEKA.COM Fenomena iklim El Nino kini membesar secara mengerikan di depan mata kita. Berdasarkan prakiraan terbaru PBB, gelombang panas ekstrem ini dipastikan akan menghancurkan rekor suhu global yang pernah ada.

El Nino kali ini diprediksi menjadi yang terbesar dalam setidaknya 1.000 tahun terakhir, memompa suhu panas tambahan ke atmosfer yang saat ini sudah mendidih akibat pemanasan global. Kombinasi mematikan ini diproyeksikan membuat tahun 2027 “menghancurkan” rekor sebelumnya, menjadikannya tahun terpanas dalam sejarah peradaban manusia yang pernah tercatat.

Ancaman Kelaparan Global dan Karhutla di Indonesia

Hantaman awal El Nino sudah mulai terasa nyata. Di Indonesia, fenomena ini memperparah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sementara di India, curah hujan monsun yang sangat vital mulai melemah. Bencana iklim ini akan merambat secara global, memicu risiko kebakaran yang lebih mengerikan di Australia hingga banjir bandang yang lebih intens di Amerika Selatan. Bahkan, Program Pangan Dunia (WFP) pada Agustus lalu telah memproyeksikan bahwa El Nino dapat mendorong sekitar 50 juta orang ke jurang kelaparan akut.

Baca juga :  BMKG Minta Masyarakat Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Hingga Maret-April Mendatang

Krisis iklim, yang dipicu oleh polusi bahan bakar fosil, telah memperparah cuaca ekstrem dan merenggut banyak nyawa. Gelombang panas paling ekstrem yang menghantam Eropa pada musim panas ini saja tercatat telah membunuh sedikitnya 35.000 orang. Dengan skala yang digambarkan para ahli sebagai fenomena level “Godzilla” dan “benar-benar di luar nalar”, El Nino dipastikan akan melipatgandakan daya hancur tersebut.

Secara alamiah, El Nino terjadi karena perubahan arah angin di Pasifik yang mendongkrak suhu lautan dan memindahkan panas dalam skala raksasa ke atmosfer. Data terbaru pada hari Senin menunjukkan, anomali suhu lautan di episentrum El Nino telah menembus 2,6 derajat Celcius di atas rata-rata 30 tahunan. Angka ini sudah mendekati rekor anomali tertinggi di era satelit, yakni 3,1 derajat Celcius pada 2015, padahal puncak fenomena ini masih butuh beberapa bulan lagi untuk terjadi.

Puncak anomali ini diprediksi akan menyentuh angka 4 derajat Celcius pada November mendatang, berdasarkan rata-rata dari 14 model prakiraan cuaca. “Data dari analisis terumbu karang, lingkaran tahun pohon, dan dokumen sejarah menunjukkan tidak ada El Nino yang pernah mencapai level ini dalam milenium terakhir,” ungkap analis iklim, Zeke Hausfather. Sebagai catatan, setiap anomali suhu yang melebihi 0,5 derajat Celcius sudah diklasifikasikan sebagai El Nino.

Baca juga :  Presiden Ajak Seluruh Negara Bersatu Hadapi Pandemi Covid-19 di Sidang Umum PBB

Kekhawatiran yang jauh lebih besar adalah temuan riset terbaru yang menunjukkan bahwa pemanasan global kini secara aktif mengintensifkan siklus El Nino, yang pada gilirannya memperparah dampak krisis iklim itu sendiri.

Mobilisasi PBB dan Peringatan Keras Pemimpin Dunia

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memberikan peringatan keras kepada komunitas internasional. “El Nino membesar di depan mata kita,” tegasnya. “Sains tidak menyisakan ruang untuk keraguan: planet ini berada di perairan yang belum dipetakan, dan perairan itu semakin memanas. Dunia berada di zona bahaya cuaca ekstrem. Perlombaan saat ini adalah antara meningkatnya risiko dan komitmen kita untuk mengambil tindakan iklim demi melindungi umat manusia. Kita harus memenangkan perlombaan itu”.

Peringatan serupa dilontarkan oleh Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB, Celeste Saulo. “El Nino memiliki potensi untuk memberikan pukulan telak bagi masyarakat dan ekonomi di seluruh dunia,” ujarnya. “Belum pernah dalam 50 tahun sejarah WMO kami meluncurkan mobilisasi sebesar ini dengan layanan meteorologi dan hidrologi nasional… Kita tidak punya waktu lagi”.

Baca juga :  Jaring Nusa KTI : Krisis Iklim Mengancam Masyarakat Pesisir

Pembaruan proyeksi WMO yang dipublikasikan pada hari Kamis mengonfirmasi bahwa El Nino akan terus menguat menjadi “peristiwa yang sangat kuat”, membawa dampak besar seperti banjir, kekeringan, dan panas ekstrem yang berlanjut hingga tahun 2027. Rekor gila bahkan tercatat di beberapa area, di mana suhu lautan bawah permukaan melonjak hingga 8 derajat Celcius di atas rata-rata selama bulan Juli dan awal Agustus.

Analis dari Energy and Climate Intelligence Unit di Inggris, Chris Jaccarini, menyoroti bagaimana cuaca ekstrem telah mencekik harga pangan global. “Petani Inggris kini menghadapi panen terburuk yang pernah tercatat di 2026,” tuturnya. “Namun, tanpa tindakan, tahun-tahun ini mungkin masih terhitung sebagai ‘tahun yang baik’. Kecuali kita dengan cepat memangkas emisi dan memperkuat ketahanan, dampak perubahan iklim akan terus memburuk dengan El Nino yang mempercepat tren tersebut setiap beberapa tahun”.