TANGSEL DIKSIMERDEKA.COM Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B. Kady, mewanti-wanti keras agar pemerintah tidak serampangan menggelar operasi teknologi modifikasi cuaca. Di tengah ancaman El Nino yang makin memanggang, langkah menciptakan hujan buatan tak boleh sekadar latah dan berpotensi menjadi ajang buang-buang duit negara. Pasalnya, tanpa survei dan analisis ahli yang akurat, operasi penyemaian awan cuma bakal bikin anggaran miliaran rupiah menguap sia-sia

Peringatan keras ini dilontarkan Hamka merespons potensi kekeringan panjang yang dilaporkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).“BMKG sudah menyampaikan kepada kita bahwa El Nino ini kemungkinan panjang. Bahkan, bisa sampai tahun berikutnya dan baru selesai awal Januari 2027. Tetapi, di beberapa daerah mungkin pertengahan bulan depan sudah ada sebagian yang bisa,” ujar Hamka memberikan konteks peringatannya usai merampungkan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI di Apartemen/Rusun Samesta Mahata Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (28/8/2026).

Baca juga :  Penyumbang Devisa Terbesar, Komisi V Desak Percepatan Pembangunan Infrastruktur Strategis Bali

Jangan Asal Tembak Awan Kosong!

Menurut politisi Senayan ini, tantangan terbesar dalam proyek modifikasi cuaca bukanlah sekadar perkara menerbangkan pesawat pengangkut bahan semai, melainkan ketelitian mencari target awan yang benar-benar ‘hamil’ air. Publik atau kepala daerah tidak bisa main perintah seenaknya kepada BMKG untuk memaksa turunnya hujan buatan.

“Persoalannya sekarang, masalah penyemaian atau menciptakan hujan buatan itu tidak mudah. Harus dilihat dulu di mana kumpulan awan yang mengandung hujan, kemudian diteliti,” jelasnya menyoroti kerumitan teknis yang kerap diremehkan.

Hamka menerangkan, kondisi fisik awan wajib dianalisis secara presisi. Jangan sampai pesawat sudah telanjur bermanuver tinggi menabur bahan penyemai, namun yang disasar ternyata hanya gumpalan awan kering tak berair.“Yang penting dilihat dulu, dianalisis dulu, awan-awan ini mengandung air atau tidak. Kalau itu mengandung air, teknologi yang kemudian dipakai adalah menerbangkan itu di atas awan untuk menyemai, sehingga menciptakan hujan,” terangnya merinci alur kerja yang benar.

Baca juga :  Rapat Bersama Komisi V, Menhub dan MenPU, Koster Perjuangkan Sejumlah Infrastruktur Strategis Bali

Ia kembali menegaskan bahwa memaksakan penyemaian pada awan yang keliru adalah sebuah kemustahilan secara sains dan teknologi.“Tetapi kalau awannya tidak ada yang mengandung unsur air, bagaimana mungkin? Secara teknologi itu tidak bisa. Itu yang pasti. Tidak sembarang juga harus minta kepada BMKG, minta hujan buatan. Tidak mudah,” tegasnya mematahkan anggapan instan publik soal hujan buatan.

Miliaran Rupiah Rawan Melayang Sia-Sia

Lebih jauh, wakil rakyat ini mengingatkan soal ongkos selangit yang dibebankan pada kas negara untuk setiap kali operasi modifikasi cuaca. Jika dilakukan secara asal-asalan tanpa presisi tinggi, operasi ini tak ubahnya seperti membakar uang rakyat di udara.

Lebih jauh, wakil rakyat ini mengingatkan soal ongkos selangit yang dibebankan pada kas negara untuk setiap kali operasi modifikasi cuaca. Jika dilakukan secara asal-asalan tanpa presisi tinggi, operasi ini tak ubahnya seperti membakar uang rakyat di udara.“Harus disurvei dulu, awan mana yang mengandung air. Bayangkan berapa biayanya, miliaran satu kali penaburan itu. Kalau tidak dapat air, bagaimana? Itu membuang-buang uang,” katanya memberikan sentilan keras.

Baca juga :  Data Cuaca BMKG Sering Meleset? DPR Sentil Alat Jadul dan Kualitas "Juru Masak" Berita Cuaca!

Oleh karena itu, Hamka mendesak agar tahapan survei lapangan oleh tenaga ahli yang kompeten menjadi harga mati sebelum mesin pesawat modifikasi cuaca dihidupkan. Para pakar harus turun tangan menjadi penentu utama agar eksekusi di lapangan benar-benar berdampak, bukan sekadar kebijakan reaktif menuruti kepanikan akibat kekeringan ekstrem.“Tidak mudah. Survei pertama melihat dulu, ahlinya melihat. Oh, ini ada awan mengandung hujan, oke, dilanjutkan. Itu kuncinya,” tutup Hamka memberikan catatan pamungkas.