Demi Ambisi Capai Puncak, Seorang Ayah Tega Tinggalkan Anaknya yang Berusia 7 Tahun Sendirian di Gunung Fuji
SHIZUOKA DIKSIMERDEKA.COM – Sebuah insiden ayah tinggalkan anak di Gunung Fuji tengah menjadi sorotan tajam dan memicu kecaman publik. Hanya demi memenuhi ambisi mencapai puncak gunung tertinggi di Jepang tersebut, seorang pria asal Nagoya nekat menelantarkan putranya yang baru berusia tujuh tahun sendirian di area pos pendakian. Tindakan tak bertanggung jawab ini langsung mendapat teguran keras dari pihak kepolisian setempat karena dinilai sangat membahayakan nyawa sang anak, mengingat kawasan gunung berapi aktif tersebut memiliki cuaca ekstrem yang mematikan.
Insiden ini terungkap pada hari Kamis (20/8/2026), ketika seorang petugas di gunung tertinggi di Jepang tersebut menemukan seorang bocah laki-laki tengah duduk sendirian di sebuah bangku. Lokasi penemuannya berada di dekat pos keenam jalur pendakian Fujinomiya, yang terletak di ketinggian lebih dari 2.000 meter (sekitar 6.500 kaki) di atas permukaan laut.
Melihat anak tersebut berdiam diri tanpa pendamping, petugas itu langsung mengajaknya berlindung di dalam pos dan segera menghubungi pihak berwajib. Polisi yang tiba di lokasi kemudian mengambil alih pengamanan sang bocah untuk melindunginya.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun The Guardian, peristiwa itu bermula pada dini hari. Saat tengah menapaki jalur pendakian, anak tersebut mengeluh kepada ayahnya bahwa ia sudah terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan. Sang ayah, pria yang berasal dari kota terbesar keempat di Jepang tersebut, justru mengambil keputusan tak terduga. Ia hanya membekali putranya dengan beberapa makanan ringan dan sebotol minuman.
Alih-alih menemani sang anak turun, pria tersebut malah menyuruh putranya untuk menunggu. Ia memilih melanjutkan pendakian menuju puncak perjalanan yang memakan waktu lima jam bersama anak sulungnya yang sudah lebih dulu berjalan di depan. Menurut laporan media setempat, sang ayah diprediksi baru bisa kembali ke tempat anaknya ditinggalkan setelah delapan jam.
Pihak kepolisian akhirnya berhasil menghubungi pria tersebut ketika ia sudah mencapai pos kedelapan. Jaraknya sekitar tiga jam pendakian dari lokasi sang anak ditinggalkan. Polisi pun dengan tegas memerintahkannya untuk segera membatalkan pendakian dan putar balik.
Setelah mempertemukan kembali ayah dan anak tersebut, pihak berwajib memberikan teguran keras atas kelalaian sang ayah karena telah menelantarkan anak di bawah umur di kawasan gunung berapi aktif.
Mengutip laporan Japan Today, pihak kepolisian memberikan peringatan tegas, “Meskipun itu berarti harus merelakan untuk tidak mendaki gunung bersama, meninggalkan anak sendirian adalah hal yang tidak bisa diterima.”
Sebagai informasi, Gunung Fuji memiliki iklim mikronya sendiri. Cuaca di kawasan tersebut sangat sulit diprediksi dan bisa berubah secara drastis dalam waktu yang sangat singkat. Ancaman hipotermia selalu menjadi risiko serius yang mengintai para pendaki, bahkan pada pertengahan musim panas sekalipun.
Menyadari kesalahannya, sang ayah dilaporkan telah menyampaikan permohonan maafnya kepada aparat kepolisian. “Saya mengambil keputusan yang gegabah, dan saya sangat menyesalinya,” akunya.
Menyusul kejadian ini, kepolisian setempat kembali mengimbau para pendaki untuk selalu mempertimbangkan kemampuan fisik dan stamina setiap anggota rombongan saat merencanakan ekspedisi ke Gunung Fuji. Rombongan juga diminta untuk menyesuaikan ritme pendakian demi keselamatan bersama.

Tinggalkan Balasan