DIKSIMERDEKA.COM,LONDON – Ketegangan Timur Tengah makin panas. Iran dilaporkan hampir menyelesaikan kesepakatan pembelian rudal jelajah anti-kapal supersonik CM-302 buatan China, di saat Amerika Serikat (AS) mengerahkan armada laut raksasa ke dekat perairan Iran.Seperti yang dilansir oleh Reuters, Rabu (25/02/2026).

Enam sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebutkan, kesepakatan tersebut sudah memasuki tahap akhir, meski belum ada jadwal pengiriman yang disepakati.

Rudal CM-302 memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer, terbang rendah dan cepat untuk menghindari sistem pertahanan kapal. Jika terealisasi, sistem ini akan meningkatkan signifikan kemampuan serangan Iran terhadap armada laut musuh.

“Itu akan menjadi pengubah permainan total jika Iran memiliki kemampuan supersonik untuk menyerang kapal di kawasan,” kata Danny Citrinowicz, mantan perwira intelijen Israel yang kini peneliti senior Iran di lembaga kajian keamanan nasional Israel.
“Rudal ini sangat sulit dicegat,” tegasnya.


Negosiasi Dipercepat Usai Perang 12 Hari

Pembicaraan pembelian sistem rudal ini telah berlangsung sedikitnya dua tahun. Namun, prosesnya melaju cepat setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu.

Baca juga :  Serangan Rudal di Timur Tengah, Pemerintah Pantau 58.873 Jemaah Umrah RI

Dalam tahap akhir negosiasi musim panas lalu, pejabat tinggi militer dan pemerintah Iran disebut terbang ke China, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Iran, Massoud Oraei.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan negaranya memiliki kesepakatan militer dan keamanan dengan sekutu-sekutunya.

“Iran memiliki perjanjian militer dan keamanan dengan para sekutunya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan perjanjian tersebut,” ujarnya.

Namun Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak mengetahui pembicaraan terkait penjualan rudal tersebut. Sementara Gedung Putih tidak secara langsung mengomentari negosiasi tersebut.

Seorang pejabat Gedung Putih mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump.

“Presiden sudah jelas: kita akan membuat kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras seperti sebelumnya,” kata pejabat tersebut merujuk pada kebuntuan saat ini dengan Iran.

Baca juga :  Duterte Tolak Hadiri Sidang ICC: Eks Presiden Filipina Terancam Diadili atas Kasus 30 Ribu Korban Perang Narkoba

AS Kerahkan 2 Kapal Induk, 5.000 Personel

Kesepakatan ini muncul ketika AS mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke dekat Iran.

Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta gugus tempurnya sudah berada dalam jarak serang. Kapal induk USS Gerald R. Ford juga menuju kawasan tersebut.

Dua kapal induk ini secara total dapat membawa lebih dari 5.000 personel dan 150 pesawat tempur.

Trump bahkan memberi ultimatum pada 19 Februari agar Iran mencapai kesepakatan nuklir dalam 10 hari atau menghadapi aksi militer.


China–Iran–Rusia Makin Solid

Potensi penjualan rudal ini menegaskan kedekatan militer China dan Iran, sekaligus menantang dominasi AS di kawasan.

Presiden China Xi Jinping sebelumnya menyatakan dukungannya kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

“China mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan martabat nasionalnya,” ujar Xi dalam pertemuan militer di Beijing.

China, Iran, dan Rusia juga rutin menggelar latihan laut gabungan setiap tahun.


Nilai Kontrak Masih Misterius

Reuters belum dapat memastikan jumlah rudal dalam kesepakatan ini maupun nilai kontraknya. Karena itu, belum ada angka resmi yang bisa dikonversi ke rupiah.

Baca juga :  🚨 Update: Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain

Namun, rudal CM-302 dipasarkan sebagai salah satu rudal anti-kapal paling canggih di dunia. Sistem ini mampu diluncurkan dari kapal, pesawat, atau kendaraan darat bergerak, bahkan bisa menyerang target darat.

Pieter Wezeman dari Stockholm International Peace Research Institute menyebut pembelian ini akan menjadi peningkatan besar bagi arsenal Iran yang terkuras akibat konflik tahun lalu.


Iran Jadi Medan Tarik Ulur Kekuatan Global

Salah satu pejabat yang mengetahui negosiasi menyebut Iran kini menjadi “medan pertempuran” pengaruh antara AS di satu sisi dan Rusia serta China di sisi lain.

“China tidak ingin melihat rezim pro-Barat di Iran. Itu akan menjadi ancaman bagi kepentingan mereka,” ujar Citrinowicz.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik regional bisa berkembang menjadi pertarungan geopolitik skala global.