Potensi Energi Arus Laut Nusa Penida Capai 376,8 MW, Koster Dorong Realisasi PLTAL
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk mewujudkan Bali mandiri energi melalui pemanfaatan energi bersih dan terbarukan. Salah satu langkah yang kini didorong adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di kawasan Selat Nusa Penida.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Koster saat memimpin Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Penataan Ruang Laut Berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jaya Sabha Denpasar, Kamis (9/7).
Menurut Koster, sebagai salah satu destinasi wisata dunia, Bali sangat rentan apabila masih bergantung pada pasokan energi dari luar daerah. Di sisi lain, kebutuhan energi di Pulau Dewata terus meningkat seiring pertumbuhan sektor pariwisata dan industri.
“Bali harus mandiri energi dengan memanfaatkan energi bersih dan terbarukan,” tegas Koster.
Saat ini, kebutuhan energi listrik di Bali mencapai sekitar 1.300 hingga 1.400 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, sekitar 400 MW masih dipasok melalui jaringan interkoneksi kabel bawah laut dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton di Jawa Timur.
Untuk mewujudkan visi Bali Mandiri Energi, Pemerintah Provinsi Bali telah melakukan berbagai langkah strategis sesuai amanat Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih. Salah satunya melalui percepatan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap pada gedung pemerintahan, bangunan komersial, hotel, hingga kawasan industri.
Selain itu, Koster juga mendorong pembangunan Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi dalam menangani persoalan sampah perkotaan sekaligus meningkatkan bauran energi baru terbarukan di Bali.
Tak hanya mengandalkan energi surya dan pengolahan sampah, Pemerintah Provinsi Bali kini mulai melirik potensi energi laut melalui pengembangan PLTAL di Selat Nusa Penida. Kajian tersebut dilakukan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di bawah koordinasi Prof. Dwi Susanto dari University of Maryland, Amerika Serikat.
“Saya sudah menangkap idenya dan ini memang sangat kita perlukan. Ternyata kita memiliki potensi besar, ini harus kita manfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat Bali,” ujar Koster.
Prof. Dwi Susanto menjelaskan bahwa selat-selat di Indonesia, termasuk kawasan perairan Nusa Penida, memiliki potensi energi arus laut yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi pembangkit listrik. Berdasarkan hasil kajian, potensi energi listrik dari tiga selat di sekitar Nusa Penida diperkirakan mencapai 376,8 MW.
Potensi tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat Nusa Penida dan mendukung target kemandirian energi Bali. Pengembangannya pun dirancang secara modular sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan di masa mendatang.
Sementara itu, Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kartika Listriana, yang mengikuti kegiatan secara daring, menyampaikan apresiasi atas langkah Pemerintah Provinsi Bali dalam mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis kelautan.
Ia berharap implementasi energi laut di Bali dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengembangkan sumber energi bersih dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan