Kasus Kanker Global Meledak, WHO Sebut 1 dari 5 Orang Terkena
DIKSIMERDEKA NEW YORK-Kasus kanker global diperkirakan akan meningkat drastis dalam beberapa dekade mendatang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa satu dari lima orang di dunia berpotensi didiagnosis menderita kanker sepanjang hidupnya. Bahkan, sekitar 92 persen populasi dunia diperkirakan akan terdampak penyakit ini, baik sebagai pasien maupun melalui anggota keluarga atau kerabat dekat yang mengalaminya.
Laporan terbaru WHO juga menyoroti fakta bahwa kemajuan teknologi dan pengobatan kanker belum dinikmati secara merata. Akibatnya, jutaan pasien masih menghadapi hambatan besar dalam memperoleh layanan pencegahan, diagnosis, hingga pengobatan.
WHO: Kemajuan Pengobatan Belum Dinikmati Semua Negara
Ketua Tim Pengendalian Kanker WHO, Dr. Andre Ilbawi, menegaskan bahwa dunia memang telah mencatat kemajuan luar biasa dalam penelitian kanker. Namun, di sisi lain, ketimpangan akses layanan kesehatan masih menjadi persoalan serius.
“Selama bertahun-tahun, kisah tentang kanker selalu diwarnai kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi baru, dan harapan baru. Itu benar, tetapi bukan keseluruhan cerita,” ujar Ilbawi seperti yang dilansir dari The Guardian,Kamis (9/7/2026).
Menurut laporan tahunan WHO, kesenjangan akses terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, hingga perawatan kanker justru semakin melebar, terutama antara negara kaya dan negara berpenghasilan rendah.
Jumlah Penderita Diproyeksikan Tembus 35 Juta pada 2050
Saat ini, dunia mencatat sekitar 20,6 juta kasus baru kanker setiap tahun dengan sekitar 10 juta kematian.
Namun, WHO memperkirakan angka tersebut akan meningkat tajam menjadi hampir 35 juta kasus baru per tahun pada 2050 apabila berbagai faktor risiko tidak berhasil dikendalikan.
Karena itu, kasus kanker global diprediksi menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar yang akan dihadapi dunia dalam beberapa dekade mendatang.
Ketimpangan Layanan Kanker Masih Sangat Tinggi
Laporan WHO menunjukkan bahwa peluang hidup pasien kanker sangat bergantung pada negara tempat mereka tinggal.
Sebagai contoh, sekitar 85 persen pasien kanker payudara maupun kanker anak di negara maju mampu bertahan hidup sedikitnya lima tahun setelah diagnosis. Sebaliknya, angka tersebut turun menjadi kurang dari 30 persen di negara berpendapatan rendah.
Selain itu, akses terhadap obat kanker juga masih timpang. Negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah hanya memiliki 9 hingga 54 persen dari 20 obat kanker prioritas WHO. Sementara itu, negara kaya memiliki akses terhadap 68 hingga 94 persen obat-obatan tersebut.
Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat 23 negara yang hingga kini belum memiliki fasilitas radioterapi sama sekali.
Banyak Pasien Menghentikan Pengobatan Karena Biaya
WHO juga menemukan bahwa beban ekonomi menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian akibat kanker.
Sekitar dua pertiga negara belum memasukkan layanan kanker ke dalam cakupan jaminan kesehatan universal. Akibatnya, biaya pengobatan menjadi sangat mahal sehingga di beberapa negara hingga 90 persen pasien terpaksa menghentikan terapi sebelum selesai.
Selain tekanan finansial, pasien dan keluarganya juga menghadapi masalah kesehatan mental, tekanan psikologis, hingga beban berat bagi para pendamping pasien.
Stigma Masih Menjadi Ancaman
Penyintas kanker payudara asal Nigeria sekaligus aktivis pasien, Abigail Simon-Hart, mengungkapkan bahwa stigma terhadap kanker masih menjadi masalah serius.
Ia mengaku pernah menyaksikan orang tua yang harus memilih antara membayar biaya pengobatan atau membiayai pendidikan anak mereka.
Bahkan, menurutnya, ada perempuan yang memilih meninggal dunia dibanding menjalani operasi pengangkatan payudara karena takut terhadap stigma sosial di lingkungan mereka.
Empat dari 10 Kasus Sebenarnya Bisa Dicegah
Di balik meningkatnya kasus kanker global, WHO juga menyampaikan kabar baik.
Dr. Isabelle Soerjomataram dari International Agency for Research on Cancer (IARC) menyebut sekitar 40 persen kasus kanker baru sebenarnya berkaitan dengan faktor risiko yang dapat dicegah.
Faktor-faktor tersebut meliputi:
- Merokok
- Infeksi tertentu
- Konsumsi alkohol
- Kelebihan berat badan atau obesitas
Karena itu, perubahan gaya hidup dinilai mampu menekan jumlah kasus kanker secara signifikan pada masa mendatang.
WHO Minta Dunia Perkuat Layanan Kanker
WHO menyerukan kepada seluruh pemerintah agar memberikan perhatian yang sama besar terhadap perawatan maupun pengobatan kanker.
Organisasi tersebut menilai investasi harus dilakukan sejak tahap pencegahan, deteksi dini, diagnosis, hingga pengobatan agar seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan hidup.
Tanpa langkah konkret tersebut, lonjakan kasus kanker global diperkirakan akan semakin membebani sistem kesehatan dunia dalam beberapa dekade ke depan.

Tinggalkan Balasan