Manzambi Menggila! Swiss Bungkam Aljazair 2-0, Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026
DIKSIMERDEKA.COM TORONTO – Aroma kejutan kembali menyelimuti panggung Piala Dunia 2026. Setelah Jerman tumbang dan Belanda angkat koper lebih cepat, kini giliran Aljazair yang harus mengubur mimpi. Swiss tampil dingin, tajam, dan tanpa ampun untuk mengunci tiket babak 16 besar lewat kemenangan meyakinkan 2-0 dalam duel yang memperlihatkan kualitas sepak bola modern mereka. Di balik kemenangan itu, satu nama bersinar paling terang: Johan Manzambi.
Penyerang muda berusia 20 tahun tersebut benar-benar menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Aljazair. Kecepatan, keberanian menggiring bola, hingga visi umpannya membuat lini belakang lawan kelimpungan sejak peluit awal dibunyikan. Tak heran jika Newcastle United disebut semakin serius memburu tanda tangannya usai penampilan memikat di turnamen ini.
Gol pertama lahir hanya 10 menit setelah kickoff. Ruben Vargas mengirim umpan pendek ke Manzambi di sisi kiri. Dari sana, pemain Freiburg itu melakukan aksi individu yang memukau, melewati Aissa Mandi sebelum melepaskan umpan silang akurat ke kotak penalti. Breel Embolo yang berdiri bebas tinggal menyentuh bola untuk membawa Swiss unggul 1-0.

Keunggulan tersebut membuat Swiss semakin percaya diri. Mereka mendominasi ritme permainan melalui kombinasi umpan-umpan pendek yang rapi dan serangan dari kedua sisi lapangan. Statistik juga menunjukkan dominasi tim asuhan Murat Yakin. Meski hanya menguasai bola 45 persen, Swiss tampil jauh lebih efektif dengan 11 tembakan, 5 di antaranya tepat sasaran, dibandingkan Aljazair yang hanya mencatat 8 percobaan dengan 2 tembakan mengarah ke gawang. Efektivitas itu menjadi pembeda utama sepanjang pertandingan.
Aljazair sebenarnya lebih banyak menguasai bola, mencapai 55 persen, serta membukukan 513 operan dengan akurasi 88 persen. Namun dominasi tersebut tidak mampu diterjemahkan menjadi peluang berbahaya. Sebaliknya, Swiss yang hanya mencatat 398 operan dengan akurasi 85 persen justru lebih cepat dan langsung ketika memasuki area pertahanan lawan.
Memasuki babak kedua, Swiss langsung menekan. Baru 48 detik setelah jeda, Dan Ndoye menggandakan keunggulan. Berawal dari sapuan kurang sempurna lini belakang Aljazair, Ndoye mengontrol bola dengan sempurna sebelum melepaskan tendangan keras ke pojok gawang. Kiper Luca Zidane sempat menyentuh bola, namun gagal menghalau laju tembakan yang membuat skor berubah menjadi 2-0.
Pelatih Murat Yakin tampak puas di pinggir lapangan. Dengan rambut klimis khasnya, ia menyaksikan timnya memainkan sepak bola disiplin sekaligus efisien. Swiss yang sempat ditahan Qatar di laga pembuka kini menjelma menjadi salah satu tim paling konsisten di turnamen dengan tiga kemenangan beruntun, delapan gol, dan hanya dua kali kebobolan.
Selain Manzambi, Ruben Vargas dan Dan Ndoye juga menjadi motor serangan yang merepotkan Aljazair sepanjang pertandingan. Manzambi akhirnya ditarik keluar pada pertengahan babak kedua setelah menyelesaikan tugasnya dengan gemilang dan mendapat tepuk tangan meriah dari pendukung Swiss.
Di sisi lain, Aljazair sebenarnya sempat memperoleh peluang emas pada awal laga. Houssem Aouar gagal memaksimalkan umpan Riyad Mahrez setelah membaca dummy sang kapten. Peluang lain datang melalui Ibrahim Maza yang menyambar bola hasil pantulan Mahrez, tetapi sepakannya masih melebar tipis.
Saat tertinggal dua gol, Mahrez kembali mencoba peruntungannya melalui tendangan keras dari luar kotak penalti. Namun Denis Zakaria tampil disiplin untuk memblok bola sebelum mencapai gawang Gregor Kobel. Hingga laga usai, kiper Swiss itu nyaris tidak dipaksa melakukan penyelamatan sulit.
Swiss bahkan hampir memperbesar keunggulan pada menit ke-81. Zakaria mengirim umpan silang matang yang diterima Fabian Rieder di depan gawang kosong. Sayangnya, alih-alih mencetak gol ketiga, Rieder justru mengarahkan bola kembali ke pelukan Luca Zidane.
Secara statistik, Swiss juga lebih agresif ketika menyerang melalui bola mati. Mereka memperoleh 4 tendangan sudut, sedangkan Aljazair hanya 2. Tim Merah Putih itu juga tampil lebih disiplin dengan hanya melakukan 10 pelanggaran tanpa menerima kartu kuning maupun kartu merah. Sebaliknya, Aljazair melakukan 12 pelanggaran dan harus menerima 2 kartu kuning.
Lini pertahanan Swiss juga tampil sangat rapi. Mereka tidak sekali pun terjebak offside, sementara Aljazair tercatat 2 kali berada dalam posisi offside akibat buruknya koordinasi serangan.
Kemenangan ini menjadi pencapaian bersejarah bagi Swiss. Untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1938, mereka berhasil memenangi pertandingan fase gugur dan melangkah ke babak 16 besar dengan penuh keyakinan.
Kini tantangan yang lebih besar sudah menunggu. Swiss akan menghadapi pemenang laga Kolombia kontra Ghana. Namun dengan performa seperti ini—ditambah lahirnya bintang muda bernama Johan Manzambi—Swiss mulai layak disebut sebagai salah satu kuda hitam paling berbahaya di Piala Dunia 2026.

Tinggalkan Balasan