Mengapa Ada Sekolah Favorit dan Non-Favorit?
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Menilai bahwa sekolah favorit dan non-favorit muncul sebagai konsekuensi dari kompetisi akademik yang sehat tidak sepenuhnya betul. Istilah sekolah favorit dan non-favorit muncul lantaran ada ketimpangan struktural dalam kebijakan pendidikan.
Ketimpangan itu mencakup distribusi sumber daya pendidikan yang tidak merata mulai dari kualitas guru, fasilitas belajar, akses teknologi, sampai dukungan sosial ekonomi yang terkonsentrasi di sekolah tertentu.
Pengamat pendidikan Gede Agus Siswadi menilai munculnya istilah sekolah favorit terbentuk melalui proses akumulatif yang berlangsung dalam jangka panjang.

“Saya melihat konsep sekolah favorit tidak lahir semata-mata karena kompetisi kualitas, tetapi juga merupakan produk dari ketimpangan struktural dalam sistem pendidikan. Sekolah yang selama bertahun-tahun memiliki sumber daya lebih baik, guru berpengalaman, prestasi akademik tinggi, serta input siswa unggul sejak awal, akan terus berkembang lebih cepat,” ujarnya.
Menurut Agus, kondisi itu menciptakan efek akumulatif, di mana sekolah yang sudah baik akan semakin baik karena terus menjadi pilihan utama masyarakat.
Ia menilai fenomena itu akan memperlebar jurang kualitas antar sekolah. Ketika ribuan siswa berebut masuk ke sejumlah kecil sekolah yang dianggap unggulan, sekolah lain kehilangan kesempatan mendapatkan siswa dengan potensi akademik yang tinggi.
Akibatnya, kualitas input siswa menjadi semakin terkonsentrasi dan menciptakan siklus yang sulit diputus.
“Sekolah favorit semakin berprestasi karena menerima siswa terbaik, sementara sekolah lain kesulitan meningkatkan reputasinya karena tidak memperoleh kesempatan yang sama,” jelasnya.
Di sisi lain, label sekolah non-favorit berpotensi memengaruhi psikologis siswa. Predikat tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri, motivasi belajar, hingga membentuk identitas akademik yang negatif.
“Anak bisa merasa dirinya kurang mampu hanya karena bersekolah di tempat yang dianggap kurang bergengsi, padahal potensi setiap individu tidak ditentukan oleh nama sekolahnya,” katanya.
Lebih jauh, Agus menyebut istilah sekolah favorit dan non-favorit menjadi indikator bahwa pemerataan kualitas pendidikan belum sepenuhnya tercapai.
Ia bahkan menyoroti adanya kecenderungan keterkaitan antara akses terhadap sekolah favorit dengan kemampuan ekonomi keluarga.
“Kalau dilihat lebih jelas, sekolah favorit cenderung lebih mudah diakses oleh kelompok ekonomi menengah ke atas karena memiliki modal ekonomi lebih besar. Sementara sekolah non-favorit lebih banyak diakses kelompok ekonomi menengah ke bawah. Ini secara tidak sadar melanggengkan kasta baru dalam akses pendidikan,” tegasnya.
Menurut Agus, persoalan kesenjangan kualitas pendidikan tidak dapat disederhanakan hanya pada satu faktor. Ia menilai kualitas guru, fasilitas, kepemimpinan sekolah, tata kelola, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat saling memengaruhi.
Namun, ia menekankan bahwa kepemimpinan sekolah menjadi fondasi utama dalam menentukan kualitas pendidikan.
“Sekolah dengan kepala sekolah yang memiliki visi kuat biasanya mampu mengoptimalkan guru, mengelola sumber daya, dan membangun budaya belajar yang positif, bahkan ketika fasilitasnya belum sempurna,” ujarnya.
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Agus menawarkan lima langkah strategis. Pertama, pemerataan kualitas guru melalui redistribusi tenaga pendidik, peningkatan kompetensi, dan pemberian insentif. Kedua, memperkuat kapasitas kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Ketiga, pemerataan sarana dan prasarana pendidikan.
Keempat, menerapkan sistem pendampingan antarsekolah melalui kemitraan antara sekolah maju dan sekolah berkembang. Kelima, membangun sistem evaluasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga kualitas proses pembelajaran, karakter, kreativitas, dan inovasi siswa.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan