DIKSIMERDEKA.COM PARIS – Gelombang panas Eropa terus memakan korban. Sedikitnya empat balita meninggal dunia di Prancis, sementara lebih dari 55 orang dilaporkan tewas akibat tenggelam ketika mencoba mencari cara untuk mendinginkan diri di tengah suhu yang terus melonjak.

Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai gelombang panas paling luas dan paling parah yang pernah melanda Eropa. Hampir separuh dari 850 kota terbesar di kawasan kini menghadapi tekanan panas pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menilai krisis iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut.

Kondisi cuaca ekstrem diperkirakan mulai bergeser ke Eropa Tengah dan Timur pada akhir pekan ini. Sekitar 150 juta penduduk diprediksi akan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius, bahkan beberapa wilayah diperkirakan mendekati 40 derajat Celsius.

Korban terbaru di Prancis adalah seorang balita berusia 18 bulan yang meninggal dunia setelah ditemukan dalam kondisi hipertermia di dalam mobil di Marseille. Rumah sakit setempat mengungkapkan balita tersebut sempat mendapatkan perawatan darurat sebelum akhirnya meninggal.

Media Prancis melaporkan sang ayah diduga tidak sengaja meninggalkan anaknya di dalam mobil ketika hendak berangkat bekerja, padahal seharusnya sang anak diantar ke tempat penitipan.

Sebelumnya, seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun ditemukan meninggal di pinggiran Paris setelah masuk ke dalam mobil dan terjebak akibat sistem pengunci otomatis. Dalam insiden lain, dua balita berusia dua dan empat tahun juga ditemukan meninggal di mobil milik keluarganya yang terparkir di kawasan permukiman.

Baca juga :  BMKG: Potensi Cuaca Ekstrem di Bali 2–8 Maret 2026, Masyarakat Diminta Waspada

Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari mengatakan jumlah korban tenggelam juga meningkat tajam.

“Hingga tadi malam kami mencatat sedikitnya 55 korban tenggelam. Kami khawatir jumlah itu masih akan bertambah,” ujarnya kepada Franceinfo.

Sementara itu, Inggris kembali mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni selama tiga hari berturut-turut. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) melaporkan suhu di Santon Downham, Suffolk, mencapai 37,3 derajat Celsius, melampaui rekor sehari sebelumnya sebesar 36,7 derajat Celsius.

Met Office mempertahankan status peringatan merah untuk wilayah London dan Inggris Tenggara selama tiga hari berturut-turut, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Peringatan oranye juga diberlakukan di sebagian besar wilayah Inggris bagian tengah dan timur.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris memperpanjang peringatan kesehatan akibat panas hingga Jumat malam. Status siaga merah berarti cuaca ekstrem berpotensi mengancam keselamatan bahkan bagi masyarakat yang sehat.

Tekanan terhadap layanan publik pun semakin besar. Sejumlah rumah sakit menetapkan status darurat karena lonjakan pasien terkait suhu panas.

Lebih dari 1.000 sekolah di Inggris terpaksa ditutup sebagian atau sepenuhnya akibat ruang kelas yang terlalu panas karena banyak gedung tidak memiliki pendingin udara.

Baca juga :  BMKG Minta Masyarakat Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Hingga Maret-April Mendatang

Operator kereta api juga meminta masyarakat menunda perjalanan yang tidak mendesak. Sejumlah layanan dikurangi untuk menghindari risiko rel melengkung akibat suhu tinggi. Di Derbyshire, petugas pemadam kebakaran masih berupaya memadamkan kebakaran hutan yang telah melalap sekitar 200 hektare lahan.

Pemerintah Inggris juga mulai memberlakukan pembatasan penggunaan air di Kent karena lonjakan konsumsi masyarakat. Sementara operator listrik nasional memperingatkan meningkatnya permintaan listrik akibat penggunaan pendingin ruangan dan kipas angin.

Layanan Ambulans London mencatat jumlah panggilan darurat yang mengancam jiwa mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Rabu lalu.

Di Prancis, kondisi rumah sakit juga mulai kewalahan. Kepala Kepolisian Paris Patrice Faure mengatakan kapasitas fasilitas kesehatan semakin mendekati batas maksimal setelah suhu ibu kota sempat mencapai 40,9 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah bulan Juni.

Ketua Asosiasi Dokter Gawat Darurat Prancis Patrick Pelloux mengungkapkan sebanyak 55 orang meninggal dalam perawatan layanan darurat di Paris hanya dalam waktu 24 jam.

“Biasanya hanya tiga atau empat orang dalam sehari. Angka 55 benar-benar luar biasa,” katanya.

Situasi tersebut memaksa penyelenggara Paris Pride, Lyon Pride, hingga festival musik Solidays membatalkan seluruh kegiatan demi mengurangi beban layanan darurat.

Baca juga :  Waspada ! Potensi Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan

Gelombang panas kini diperkirakan bergerak menuju Belgia, Belanda, Jerman, Austria, hingga kawasan Balkan.

Di Belgia, pertunjukan ulang Pertempuran Waterloo dibatalkan. Belanda juga membatalkan festival musik elektronik Defqon.1 setelah untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan merah akibat suhu panas.

Austria memperingatkan rel kereta berpotensi melengkung akibat suhu ekstrem. Di Jerman, permukaan Jalan Tol A2 bahkan mengalami retak dan menggelembung akibat panas yang mendekati 40 derajat Celsius.

Berbeda dengan Eropa Barat, Yunani dan Siprus justru sedikit terbantu oleh hembusan angin utara musiman yang membuat suhu lebih nyaman. Bahkan sejumlah wilayah Yunani diperkirakan diguyur hujan lebat dan hujan es.

Meski demikian, para ahli memperingatkan kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Negara-negara di kawasan Mediterania diperkirakan akan menghadapi periode dua bulan dengan suhu sangat tinggi mulai pertengahan Juli.

Kepala Informasi Iklim Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), John Kennedy, mengatakan suhu rata-rata Eropa telah meningkat sekitar 2 derajat Celsius dibandingkan saat gelombang panas besar pada 1976.

“Gelombang panas seperti ini merupakan gambaran perubahan iklim yang sedang terjadi. Ke depan, cuaca panas ekstrem akan muncul lebih sering, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang lebih tinggi jika pemanasan global terus berlanjut,” tegas Kennedy.