DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN– Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat baku tembak pada Kamis (7/5 malam waktu setempat dalam insiden paling serius sejak gencatan senjata kedua negara diberlakukan sebulan lalu. Ketegangan terbaru itu memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan damai yang rapuh bisa runtuh sewaktu-waktu.

Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata dengan menyerang dua kapal di Selat Hormuz dan membombardir wilayah sipil. Sebaliknya, militer AS menyatakan serangan dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap tiga kapal perusak Amerika yang melintas di jalur strategis tersebut.

Komando Pusat Militer AS atau Centcom mengatakan Iran meluncurkan rudal, drone, dan kapal kecil ke arah USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason dalam aksi yang disebut sebagai “provokasi tanpa alasan”. Namun militer AS mengklaim tidak ada aset mereka yang terkena serangan.

Centcom kemudian membalas dengan menghancurkan fasilitas militer Iran yang dituding bertanggung jawab atas serangan tersebut, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando, serta fasilitas pengintaian.

“Centcom tidak mencari eskalasi, tetapi tetap siap melindungi pasukan Amerika,” demikian pernyataan Centcom.

Media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan situasi di pulau-pulau Iran dan kota pesisir sekitar Selat Hormuz telah kembali normal setelah beberapa jam baku tembak berlangsung.

Baca juga :  Trump Optimistis Deal Iran-AS Tercapai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok

Sementara itu, United Arab Emirates menyatakan pihaknya berhasil mencegat serangan rudal dan drone Iran beberapa jam setelah AS mengklaim menggagalkan serangan terhadap kapal perangnya.

Presiden AS Donald Trump tetap bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku meski bentrokan kembali pecah. Dalam wawancara dengan ABC News, Trump bahkan menyebut serangan itu hanya sebagai “love tap”.

“Mereka mengusik kita hari ini. Kami menghancurkan mereka. Saya menyebut itu cuma gangguan kecil,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Washington DC.

Trump juga mengklaim Iran kini lebih membutuhkan kesepakatan damai dibanding Amerika Serikat.

“Saya yakin mereka lebih menginginkan kesepakatan itu daripada saya,” ujarnya.

Ketegangan tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga diperdagangkan di kisaran US$101 per barel setelah kabar serangan muncul.

Sebelum bentrokan terjadi, muncul laporan bahwa Washington dan Teheran sebenarnya hampir mencapai kesepakatan sementara untuk menghentikan perang. Sebuah memorandum satu halaman disebut telah dipertukarkan melalui Pakistan sebagai mediator.

Namun sejumlah pejabat senior Iran dikabarkan menolak memberikan konsesi. Sebagian pihak di Teheran disebut ingin memperpanjang negosiasi hingga mendekati pemilu paruh waktu AS pada November mendatang dengan harapan posisi tawar Iran akan lebih kuat.

Baca juga :  Sadis! AS Gempur Rudal Iran di Hormuz Pagi Buta

Di sisi lain, diplomat regional memperingatkan Iran berisiko kehilangan momentum jika terus memainkan strategi tarik-ulur. Mereka menilai kondisi saat ini sebenarnya memberi peluang bagi Iran untuk mengakhiri perang sambil mengklaim kemenangan politik.

Militer Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran dan satu kapal lain yang memasuki Selat Hormuz.

“Militer AS yang agresif, teroris, dan bajak laut telah melanggar gencatan senjata,” kata juru bicara militer Iran.

Iran juga menuduh AS melancarkan serangan udara ke wilayah sipil di Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm yang dihuni sekitar 150 ribu penduduk dan memiliki fasilitas desalinasi air.

Menurut Iran, angkatan bersenjata mereka kemudian membalas dengan menyerang kapal militer AS dan mengklaim telah menimbulkan kerusakan signifikan. Namun klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen.

Dalam beberapa hari terakhir, AS terus menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Washington juga menjalankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Pada Senin lalu, militer AS menyebut telah menghancurkan enam kapal kecil Iran serta sejumlah rudal jelajah dan drone dalam operasi pengawalan tanker yang disebut Trump sebagai “Project Freedom”.

Baca juga :  400 Kg Uranium 60% dan 8.Ton Stok Iran Jadi Sumber Deadlock AS–Iran

Melalui media sosial, Trump memuji awak kapal perusak AS yang berhasil melewati Selat Hormuz tanpa kerusakan meski berada di bawah tembakan. Ia juga kembali menyerang kepemimpinan Iran.

“Iran bukan negara normal,” tulis Trump sambil menyebut para pemimpin Iran sebagai “orang-orang gila” yang menurutnya tidak akan ragu menggunakan senjata nuklir bila memilikinya.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, sebelumnya sempat menyampaikan optimisme bahwa gencatan senjata akan berubah menjadi perdamaian jangka panjang.

“Saya yakin gencatan senjata ini akan berkembang menjadi gencatan senjata jangka panjang,” kata Sharif dalam pidato yang disiarkan televisi.

Ketegangan AS-Iran juga berpotensi mempengaruhi situasi di Lebanon. Upaya perdamaian antara Israel dan Lebanon kembali terganggu setelah serangan Israel di Beirut selatan menewaskan seorang komandan kelompok Hezbollah pada Rabu lalu.

Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi pembicaraan baru antara Israel dan Lebanon akan digelar pada 14-15 Mei mendatang. Pertemuan itu menjadi yang ketiga dalam beberapa bulan terakhir antara dua negara yang secara teknis masih berada dalam kondisi perang dan tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.