Pemprov Bali Siapkan Subsidi Transportasi untuk Atasi Inflasi Dampak Kenaikan BBM
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pemerintah Provinsi Bali akan memberikan subsidi transportasi untuk distribusi barang pokok agar dapat menekan harga. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi inflasi dan kenaikan harga sejumlah komoditas pokok akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Hal ini diungkapkan Kepala Biro Pengadaan Barang Jasa dan Perekonomian Provinsi Bali, I Ketut Adi Arsa, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (15/09).
I Ketut Adi Arsa, mengatakan, pemerintahan provinsi Bali tengah berupaya mengendalikan harga kebutuhan pangan utama yaitu 12 bahan pokok, agar harga dalam keadaan stabil dan tetap bisa dijangkau oleh masyarakat.

Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah provinsi Bali adalah menyiapkan dan memberikan subsidi transportasi untuk distribusi barang sehingga dapat menekan harga barang ketika sampai di pasar.
Untuk itulah, pemerintah provinsi Bali, sedang melakukan pemetaan neraca pangan Bali agar dapat menentukan daerah yang mengalami surplus pangan dan daerah-daerah yang mengalami minus pangan.
“Daerah-daerah yang mengalami surplus pangan, kami akan memberikan bantuan untuk transportasi untuk mendistribusikan barang ke daerah-daerah yang minus pangan. Sehingga dari bantuan transportasi ini harga barang tidak terlalu mahal di pasar,” terang I Ketut Adi Arsa.
Lebih lanjut, I Ketut Adi Arsa, menjelaskan, melalui skema ini ketersedian pangan pada daerah yang minus pangan dapat tercukupi sehingga harga barang bisa stabil dan dapat dijangkau oleh masyarakat.
Disamping itu, pemerintah juga tengah berusaha memangkas rantai distribusi dengan menunjuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai distributor yang membeli langsung komoditas pangan dari kelompok tani, kemudian langsung dijual ke pasar sehingga harganya tidak terlalu tinggi.
“Ini sudah dilakukan di Buleleng, yaitu memangkas rantai pasok, dengan menunjuk BUMD Pangan, PD Pasar Buleleng untuk bisa langsung membeli di petani, kemudian langsung dijual ke pasar sehingga harga tidak terlalu tinggi,” terang I Ketut Adi Arsa.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, mencatat, Pada Bulan Agustus 2022, perkembangan harga berbagai komoditas (barang dan jasa) konsumsi gabungan dua kota, yaitu Kota Denpasar dan Kota Singaraja secara umum menunjukkan adanya penurunan.
Berdasarkan hasil pemantauan perkembangan harga barang dan jasa di dua kota tersebut, pada Agustus 2022 tercatat deflasi sedalam 0,23 persen yang ditunjukkan dengan penurunan Indeks Harga Konsumen dari 112,11 pada Juli 2022 menjadi 111,85 pada Agustus 2022.
Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender (year to date/ytd) Agustus 2022 sebesar 4,89 persen. Tingkat inflasi tahun ke tahun tercatat setinggi 6,38 persen. (Gus)

Tinggalkan Balasan