DIKSIMERDEKA.COM – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pemimpin-pemimpin negara dunia agar tidak lagi menggunakan lockdown (penutupan) untuk mengatasi penyebaran wabah Virus Corona 2019 (COVID-19). WHO beralasan, penutupan membuat orang miskin menjadi semakin miskin.

Sikap ini berbeda, setelah sebelumnya WHO mengatakan bahwa negara-negara harus berhati-hati dalam melonggarkan pembatasan-pembatasan sosial mereka. Tapi kini, pembatasan seperti itu hanya boleh diperlakukan sebagai upaya terakhir.

Baca juga :  WHO Konfirmasi 7 Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Evakuasi Darurat Dikebut

“Penguncian hanya memiliki satu konsekuensi yang tidak boleh Anda remehkan, dan itu membuat orang miskin menjadi semakin miskin,” kata perwakilan WHO, Dr. David Nabarro, dilansir dari New York Post dari majalah Inggris The Spectator dalam sebuah wawancara video, Minggu (11/10).

“Lihat apa yang terjadi pada petani kecil di seluruh dunia. Lihat apa yang terjadi pada tingkat kemiskinan. Tampaknya kita mungkin memiliki dua kali lipat kemiskinan dunia pada tahun depan. Kami mungkin memiliki setidaknya dua kali lipat dari malnutrisi anak,” imbuhnya.

Baca juga :  WHO Sebut 5 dari 10 Pasien Ebola Berisiko Meninggal

Dia menambahkan bahwa penguncian telah berdampak parah pada negara-negara yang mengandalkan pariwisata. Nabarro mengatakan bahwa ada kerugian signifikan yang disebabkan oleh pembatasan yang ketat, khususnya terhadap ekonomi global.

“Lihat saja apa yang terjadi pada industri pariwisata di Karibia, misalnya, atau di Pasifik karena orang-orang tidak berlibur,” kata Nabarro kepada outlet tersebut.

Baca juga :  WHO Tak Lagi Anjurkan Lockdown, Trump: Mereka Mengakui bahwa Saya Benar

“Satu-satunya saat kami yakin bahwa penguncian dapat dibenarkan adalah untuk memberi Anda waktu untuk mengatur ulang, menyusun kembali, menyeimbangkan kembali sumber daya Anda, melindungi petugas kesehatan Anda yang kelelahan, tetapi pada umumnya, kami lebih suka tidak melakukannya,” tutupnya. (dk)