WHO Sebut 5 dari 10 Pasien Ebola Berisiko Meninggal
WHO Bunyikan Alarm Bahaya Ebola
DIKSIMERDEKA.COM KINSHASA –Wabah Ebola di Kongo kembali memicu kekhawatiran dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan tingkat kematian dalam wabah terbaru di Republik Demokratik Kongo (DRC) mencapai antara 30 hingga 50 persen.
Artinya, dari setiap 10 pasien yang terinfeksi, hingga lima orang berpotensi meninggal dunia.
Peringatan itu disampaikan saat Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, tiba di Kongo untuk mendukung upaya pengendalian wabah yang terus meluas.
“Penyakit ini bisa dihentikan,” kata Tedros.
Korban Terus Bertambah
Sejak wabah diumumkan pada 15 Mei 2026, WHO telah mencatat 10 kematian terkonfirmasi akibat Ebola dan 223 kematian suspek lainnya.
Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 1.000 kasus terkonfirmasi maupun suspek yang sedang dipantau.
Meski demikian, WHO meyakini angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena virus diduga telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa waktu sebelum wabah diumumkan.
Di tengah kabar buruk tersebut, satu pasien berhasil sembuh dan dipulangkan dari pusat kesehatan setelah dua kali mendapatkan hasil tes negatif.
Konflik Bersenjata Hambat Penanganan
Wabah kali ini terjadi di Provinsi Ituri, wilayah kaya mineral yang selama bertahun-tahun menjadi medan konflik kelompok bersenjata.
Situasi keamanan yang buruk membuat distribusi bantuan kesehatan menjadi jauh lebih sulit.
Karena itu, Tedros secara terbuka meminta seluruh pihak yang bertikai menghentikan pertempuran.
“Tidak ada alasan, tidak ada konflik, dan tidak ada keluhan yang layak membuat orang-orang tak bersalah meninggal akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya.
Ratusan Ribu Warga Mengungsi
Data badan pengungsi PBB menunjukkan lebih dari 245 ribu orang telah melarikan diri dari wilayah timur Kongo sejak Januari 2025.
Perpindahan penduduk dalam jumlah besar meningkatkan risiko penyebaran virus ke daerah lain maupun negara tetangga.
Kondisi tersebut membuat para petugas kesehatan menghadapi tantangan ganda: menangani wabah sekaligus bekerja di tengah konflik bersenjata.
Gejala Ebola yang Harus Diwaspadai
Gejala awal Ebola meliputi:
- Demam tinggi
- Kelelahan berat
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Nyeri tenggorokan
Selanjutnya penyakit dapat berkembang menjadi:
- Muntah
- Diare
- Nyeri perut
- Ruam kulit
- Gangguan fungsi ginjal
- Gangguan fungsi hati
Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi maupun korban yang meninggal akibat penyakit tersebut.
Belum Ada Obat yang Disetujui
Wabah saat ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, salah satu varian Ebola yang hingga kini belum memiliki pengobatan resmi yang disetujui.
Namun WHO mengungkapkan bahwa sejumlah kelompok penasihat telah merekomendasikan uji klinis vaksin dan terapi baru.
Kepala badan kesehatan Uni Afrika, Jean Kaseya, bahkan menyebut vaksin berpotensi tersedia sebelum akhir tahun.
Uganda Tutup Perbatasan
Negara tetangga Uganda yang telah mencatat satu kematian akibat Ebola dan delapan kasus tambahan langsung mengambil langkah cepat dengan menutup perbatasan dengan Kongo.
Namun WHO mengingatkan kebijakan penutupan perbatasan berpotensi mendorong masyarakat menggunakan jalur ilegal sehingga pengawasan wabah justru menjadi lebih sulit.
Analisis: Ancaman Lebih Besar dari Sekadar Penyakit
Wabah Ebola di Kongo bukan hanya krisis kesehatan. Konflik bersenjata, pengungsian massal, dan lemahnya akses layanan kesehatan membuat situasi menjadi jauh lebih berbahaya.
Jika tingkat kematian benar-benar bertahan di kisaran 30 hingga 50 persen, wabah ini berpotensi menjadi salah satu darurat kesehatan terbesar di Afrika dalam beberapa tahun terakhir.
Pelajaran dari berbagai epidemi sebelumnya menunjukkan bahwa Ebola dapat dikendalikan. Namun keberhasilan itu sangat bergantung pada stabilitas keamanan, kecepatan deteksi kasus, dan kerja sama lintas negara.
Saat ini, tantangan terbesar bukan hanya menghentikan virus, tetapi juga memastikan perang tidak menjadi sekutu tak langsung bagi penyebaran penyakit mematikan tersebut.

Tinggalkan Balasan