FBI Bongkar Biang Kerok Peretasan Binance Rp114 Triliun, Ternyata Ulah Hacker Korea Utara
DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK – Jagat mata uang digital alias kripto kembali dibuat gempar oleh kasus peretasan Binance. Bursa kripto raksasa ini baru saja kebobolan dana fantastis mencapai 6,3 miliar dolar AS atau setara Rp114,2 triliun (kurs Rp18.127/USD). Siapa pelakunya? Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) turun gunung dan menunjuk hidung kelompok peretas (hacker) sokongan negara Korea Utara sebagai biang keroknya.
Di tengah kepanikan massal para investor awam, Binance mengklaim telah berhasil menambal 90 persen dari total dana yang digarong. Sisa 10 persen token yang dicuri disebut kurang likuid atau lebih sulit dicairkan di pasar sehingga butuh waktu lebih lama untuk dibeli kembali.
Dilansir The Guardian, Co-CEO Binance, Richard Teng, tampil menenangkan pasar. Ia menegaskan perusahaannya “berkomitmen untuk menutupi sisa 10%” dan menjamin bahwa “pengguna tidak akan menanggung dampak finansial dari insiden ini”.
Janji Ganti Rugi Penuh, Tarik Tunai Mulai Dibuka Bertahap
Pasca-pembobolan bersejarah ini, Binance memang sempat membekukan alias mengunci fitur penarikan dana nasabah. Namun, pada hari Minggu(31/10/2026), keran penarikan mulai dibuka kembali secara bertahap demi menjaga stabilitas sistem.
Pernyataan ini keluar berbarengan dengan konfirmasi resmi FBI pada hari Sabtu yang membenarkan kecurigaan para analis swasta. FBI menetapkan kelompok afiliasi Korea Utara bernama TraderTraitor sebagai otak di balik serangan siber tersebut.
Sebagai catatan, TraderTraitor diyakini merupakan bagian dari Lazarus Group, sindikat peretas yang namanya tenar di tahun 2014 lalu karena meretas Sony Pictures. Aksi itu disebut-sebut sebagai balas dendam atas rilisnya film komedi The Interview yang mengolok-olok pemimpin Korut, Kim Jong-un.
“Biro Investigasi Federal (FBI) merilis informasi yang memberitahukan bahwa Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) bertanggung jawab atas pencurian aset virtual senilai lebih dari 6 miliar dolar AS dari bursa kripto Binance, pada atau sekitar 29 Oktober 2026,” tegas pihak FBI dalam keterangan resminya.
Lebih lanjut, FBI membeberkan kelicikan para pelaku. Mereka mengendus aktor TraderTraitor ini tengah sibuk menukarkan aset curiannya ke dalam bentuk Ethereum. Modus pencucian uang ini diprediksi akan terus berlanjut memanfaatkan layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan layanan tukar instan yang sulit dilacak.
Melihat kelihaian ini, FBI mendesak seluruh entitas sektor swasta “untuk memblokir transaksi dengan atau yang berasal dari alamat-alamat yang digunakan oleh aktor TraderTraitor untuk mencuci aset curian ini”.
Teng pada hari Jumat lalu mengakui bahwa peretasan ini bukanlah kejahatan siber kacangan. Ia menyebutnya sebagai “serangan yang kompleks” yang melibatkan sebuah laptop yang telah disusupi serta perangkat lunak berbahaya (malware). Hebatnya lagi, malware ini dirancang khusus untuk menghapus jejak digital mereka, membuat aparat penegak hukum memeras keringat lebih ekstra untuk melacaknya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Binance dilaporkan telah menyiapkan dana talangan internal sebesar 6,34 miliar dolar AS atau sekitar Rp114,9 triliun untuk menutup lubang kerugian.
“Komitmen kami tetap sama: Binance akan sepenuhnya menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri dalam insiden ini,” tulis Binance di platform X.
Dari mana uang ganti rugi raksasa itu berasal? Binance menyebut dana pembongkaran celengan itu diambil dari sebagian Secure Asset Fund for Users (SAFU) milik mereka yang bernilai 1 miliar dolar AS (Rp18,1 triliun)—sebuah cadangan Bitcoin khusus yang memang disiapkan untuk melindungi nasabah dari peretasan. Sisanya ditambal menggunakan Dana Asuransi Berjangka (Futures Insurance Fund) dan kas korporat perusahaan.
Skandal peretasan Binance ini meledak di tengah kekhawatiran global bahwa kecerdasan buatan (AI) yang makin canggih bisa dengan mudah membobol protokol keamanan IT dan kriptografi masa kini.
Imbasnya, pasar kripto langsung berdarah-darah. Harga Bitcoin seketika anjlok hampir 5 persen pasca-kabar ini mencuat. Ethereum ikut tersungkur hampir 6 persen, sementara koin BNB yang merupakan aset asli milik Binance, nyungsep hingga nyaris 10 persen.
Di sisi lain, skala peretasan yang sangat masif ini kembali membuka mata dunia. Korea Utara, yang saat ini dikepung berbagai sanksi ekonomi internasional akibat program nuklir dan rudalnya, ternyata masih sangat lihai mencari celah dan sumber dana gelap dari dunia maya.

Tinggalkan Balasan